Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Trump dan Dahaga Penghargaan: “Berikan Pulitzer kepada Saya!”

Published

on

Presiden AS Donald Trump kembali mengklaim dirinya layak menerima Hadiah Pulitzer atas tulisan-tulisannya, selain mengungkit keinginannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian.
Presiden AS Donald Trump kembali mengklaim dirinya layak menerima Hadiah Pulitzer atas tulisan-tulisannya, selain mengungkit keinginannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian.

Media ABI, 23 Oktober 2026 – Bagi Donald Trump, rupanya, satu penghargaan internasional belum cukup untuk menuntaskan dahaga pengakuan. Presiden Amerika Serikat itu kembali mengungkit keinginannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian. Kali ini, ia menambahkan satu nama lagi ke dalam daftar impiannya: Hadiah Pulitzer. Sebuah lompatan menarik, dari perdamaian dunia ke dunia kepenulisan.

Dilansir Al Mayadeen pada Kamis (22/10/2026), Trump kembali menuai ejekan karena berulang kali dinilai seolah meminta Hadiah Nobel Perdamaian, sembari mengklaim berbagai pencapaian yang dianggapnya layak mengantarkannya meraih penghargaan tersebut. Dalam pernyataan terbarunya, ia tak hanya kembali menginginkan Nobel, tetapi juga memasukkan Pulitzer ke dalam daftar penghargaan yang menurutnya pantas diterima.

Baca juga: Pentagon Bentuk Lembaga Rahasia untuk Menyabotase Teknologi Negara Lain

Daftar itu tampaknya belum mengenal kata cukup. Trump mengklaim tulisan-tulisannya layak diganjar Pulitzer, meskipun hingga kini ia belum menerima penghargaan tersebut maupun Nobel Perdamaian. Pernyataannya pun memicu kritik dan ejekan. Dalam logika penghargaan versi Trump, barangkali, rasa layak sudah cukup menjadi modal untuk mengajukan klaim, bahkan sebelum dewan juri berbicara.

Ia bahkan meragukan kelayakan sejumlah penerima Pulitzer, terutama mereka yang mendapat pengakuan atas liputan mengenai perkembangan terkait Rusia. Ironisnya, penghargaan yang semestinya bertumpu pada mutu karya justru terseret ke dalam perdebatan tentang siapa yang merasa paling pantas menerimanya.

Tulisan mana yang dimaksud Trump sebagai dasar tuntutannya untuk memperoleh Pulitzer masih belum jelas. Ia memang telah menerbitkan sejumlah buku, banyak di antaranya dengan bantuan penulis profesional. Namun, menerbitkan buku dan menulisnya sendiri bukanlah dua perkara yang otomatis identik. Dalam urusan kepengarangan, rupanya, nama di sampul belum tentu menjawab seluruh pertanyaan tentang siapa yang bekerja di baliknya.

Baca juga: NEOM: Surga Futuristik yang Ditebus dengan Harga Kemanusiaan

Kontroversi itu bukan hal baru. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah The Art of the Deal, buku yang terbit pada 1987 dan turut membentuk citra Trump sebagai pengusaha ulung. Tony Schwartz, penulis pendamping buku tersebut, menyatakan bahwa dirinya menulis sebagian besar isi buku itu tanpa keterlibatan berarti dari Trump.

Schwartz juga mengungkapkan bahwa ia pernah diminta menghapus kritik terhadap Trump. Ia berulang kali menyatakan penyesalan atas keterlibatannya dalam proyek tersebut dan melontarkan kritik keras kepada mantan rekan penulisnya itu.

Ambisi Trump terhadap Nobel dan Pulitzer menyisakan ironi yang lebih besar daripada daftar penghargaan yang ingin ia koleksi. Di satu sisi, ia mengklaim kelayakan atas tulisan-tulisannya. Di sisi lain, kontroversi The Art of the Deal menghadirkan pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya berada di balik karya yang turut membangun reputasinya.

Dalam dunia penghargaan, rupanya, merasa layak dan benar-benar diakui adalah dua perkara berbeda. Terlebih ketika yang dipersoalkan bukan lagi siapa yang paling pantas menerima piala, melainkan siapa yang sesungguhnya menghasilkan karya yang dipamerkan sebagai miliknya. []

Baca juga: Hari Santri: Lulus dari Kawah Candradimuka, Lolos dari Godaan?