Internasional
Pentagon Bentuk Lembaga Rahasia untuk Menyabotase Teknologi Negara Lain

Media ABI, 23 Oktober 2026 – Pentagon diam-diam membentuk sebuah lembaga khusus untuk mengganggu dan menyabotase program teknologi negara lain, tanpa menarik perhatian media maupun diketahui Kongres Amerika Serikat.
Dilansir Kantor Berita Farsnews pada Jumat (23/10/2026), mengutip laporan Politico, Pentagon telah berbulan-bulan menyiapkan lembaga tersebut secara senyap. Lembaga ini bertugas menjalankan operasi gangguan dan sabotase rahasia terhadap program teknologi negara-negara asing yang dinilai Amerika Serikat mengancam keunggulan militernya.
Baca juga: 70 Persen Pemilih AS Desak Kongres Baru Akhiri Perang dengan Iran
Sejak didirikan pada April tahun ini, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth maupun pejabat senior Pentagon lainnya belum pernah secara terbuka mengungkap keberadaan lembaga tersebut. Sikap bungkam ini menjadi sorotan, mengingat Pentagon justru gencar mengumumkan berbagai perubahan besar lainnya, termasuk rencana modernisasi militer.
Informasi mengenai Technology Support Office (TSO) atau Kantor Dukungan Teknologi hampir tidak dapat ditemukan di situs-situs resmi Pentagon. Nama lembaga tersebut hanya muncul dalam sejumlah dokumen historis dan memorandum Departemen Pertahanan yang sebelumnya belum pernah diberitakan.
Untuk menelusuri proses pembentukan, kerangka umum mandat, serta alasan di balik kerahasiaan aktivitas lembaga itu, Politico mewawancarai 12 pejabat keamanan nasional AS, baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat, yang memiliki tingkat pengetahuan berbeda-beda mengenai lembaga tersebut.
Baca juga: Moskow Kritik Sikap Barat yang Mengabaikan Keamanan Nuklir Iran
Sebagian narasumber terlibat dalam pendirian Kantor Dukungan Teknologi atau bekerja erat dengannya. Sebagian lainnya pernah mengikuti pengarahan mengenai lembaga tersebut atau membahasnya dengan pejabat Pentagon saat ini. Narasumber lainnya memahami program-program intelijen Departemen Pertahanan AS yang kini telah dilebur ke dalam lembaga itu. Seluruh narasumber bersedia memberikan keterangan dengan syarat identitas mereka dirahasiakan, guna mengungkap informasi sensitif yang sebelumnya belum pernah dilaporkan.
Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg, seorang miliarder di bidang investasi ekuitas swasta sekaligus mantan ketua Dewan Penasihat Intelijen Gedung Putih pada masa jabatan pertama Donald Trump, memimpin upaya pembentukan lembaga baru tersebut di lingkungan Pentagon.
Baca juga: Qalibaf Peringatkan AS tentang Mahalnya Biaya Perang dengan Iran
Hegseth dan Feinberg berhasil membentuk lembaga itu dengan cepat tanpa menarik perhatian pihak eksternal. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar strukturnya dibangun melalui reorganisasi dua program intelijen rahasia Pentagon. Sejak 2023, kedua program tersebut telah menjalankan kegiatan serupa, yakni sabotase rahasia terhadap program teknologi, tetapi dalam skala lebih terbatas.
Pembentukan lembaga khusus untuk memperluas kegiatan tersebut mengindikasikan keinginan Departemen Pertahanan AS untuk meningkatkan cakupan operasi rahasia dan ofensifnya di luar negeri. Menurut Politico, operasi itu dapat mencakup serangan siber, gangguan terhadap rantai pasok, serta penyebaran informasi menyesatkan.
Sejumlah sumber yang dikutip Politico mengkhawatirkan bahwa pemerintahan Trump sengaja tidak mengungkap keberadaan Kantor Dukungan Teknologi secara terbuka agar program-programnya terhindar dari pengawasan dan pertanggungjawaban publik. Operasi tersebut dikhawatirkan berpotensi membahayakan warga sipil atau memperburuk ketegangan dengan negara-negara yang tidak sedang berperang dengan AS, termasuk China.
Lembaga ini melibatkan insinyur, personel operasi khusus, dan perwira intelijen. Ruang lingkup kegiatannya mencakup pembuatan perangkat khusus untuk penyusupan dan peretasan komputer hingga perancangan operasi penipuan kompleks yang bertujuan mendorong pihak lawan memasang komponen cacat dalam sistem persenjataan penting mereka. Komponen-komponen tersebut kemungkinan dirancang oleh lembaga itu sendiri. []
Baca juga: Karhutla Tembus 1,92 Juta Hektare, Api Ancam Permukiman di Kalteng







