Ikuti Kami Di Medsos

Opini

NEOM: Surga Futuristik yang Ditebus dengan Harga Kemanusiaan

Published

on

Visualisasi The Line, proyek utama NEOM yang digagas Mohammed bin Salman sebagai bagian dari Vision 2030 Arab Saudi. Di balik ambisi membangun kota futuristik, muncul pertanyaan tentang kelayakan proyek dan harga kemanusiaan yang menyertainya.
Visualisasi The Line, proyek utama NEOM yang digagas Mohammed bin Salman sebagai bagian dari Vision 2030 Arab Saudi. Di balik ambisi membangun kota futuristik, muncul pertanyaan tentang kelayakan proyek dan harga kemanusiaan yang menyertainya.

Oleh: Muhlisin Turkan

Media ABI, 19 Oktober 2026 — Arab Saudi bukan negara miskin. Kerajaan itu memiliki kekayaan minyak, dana investasi yang menjangkau berbagai belahan dunia, serta ambisi besar untuk mengubah struktur ekonominya. Namun, kekayaan tidak selalu membebaskan negara dari tekanan fiskal. Pada 2025, defisit anggaran kerajaan mencapai 5,8 persen dari produk domestik bruto, sementara minyak dan produk turunannya masih menyumbang 69 persen nilai ekspor. Diversifikasi melalui Vision 2030 mulai memperkuat sektor nonmigas, tetapi ketergantungan pada minyak belum berakhir, menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Juli 2026.

Di Yaman, negara yang sejak 2015 menghadapi intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi di tengah konflik domestik dan perebutan pengaruh regional, krisis kemanusiaan kian getir. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Juni 2026, memperkirakan lebih dari 21 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan pada tahun tersebut. Sebanyak 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut, sementara 2,2 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami malnutrisi akut. Di balik angka-angka itu ada keluarga yang kesulitan memperoleh makanan dan anak-anak yang tumbuh dalam kekurangan.

Di tengah kenyataan tersebut, Arab Saudi menawarkan gambaran masa depan yang gemerlap. Pada 2017, Putra Mahkota Mohammed bin Salman memperkenalkan NEOM, megaproyek dengan rencana pendanaan lebih dari US$500 miliar dari kerajaan, Dana Investasi Publik Saudi, serta investor lokal dan internasional. Proyek ini menjadi salah satu lambang utama Vision 2030, sebagaimana diumumkan dalam siaran resmi Dana Investasi Publik Saudi pada 24 Oktober 2017.

Andalannya, The Line, dalam rancangan awal digambarkan membentang sepanjang 170 kilometer, dengan bangunan bercermin setinggi 500 meter dan lebar 200 meter. Jalan raya konvensional dan mobil pribadi tidak masuk dalam konsep tersebut. Sebagai gantinya, pengembang menjanjikan sistem transportasi dan teknologi yang membuat kehidupan lebih efisien, sebagaimana ditampilkan dalam konsep resmi The Line. Materi promosinya menghadirkan kota bersih, perjalanan singkat, robot pembantu, dan kehidupan serba efisien. Semuanya tampak mudah dalam visualisasi yang nyaris sempurna. Rupanya, surga pun membutuhkan konsultan internasional, animasi komputer, dan anggaran ratusan miliar dolar.

Namun, kota bukan video promosi. Bangunan harus memenuhi perhitungan teknik, sedangkan penduduk membutuhkan air, sanitasi, energi, dan transportasi yang benar-benar berfungsi. Hukum fisika tidak mengenal jabatan. Beton tidak tunduk pada protokol kerajaan, air tidak muncul karena dekrit, dan rancangan tidak otomatis menjadi layak hanya karena diumumkan dengan penuh percaya diri. Kenyataan tidak wajib menyesuaikan diri dengan ambisi seorang putra mahkota.

Tanah Leluhur, Harga Sebuah Kemajuan

Sebelum NEOM hadir dalam rancangan arsitektur, kawasan itu telah menjadi tempat hidup masyarakat suku Howeitat. Tanah tersebut menyimpan sejarah keluarga, hubungan sosial, dan kehidupan yang berlangsung turun-temurun. Bukan hamparan kosong yang tinggal menunggu kedatangan investor.

Abdul Rahim al-Huwaiti, warga Howeitat yang menentang pengosongan tanah, tewas dalam operasi pasukan khusus Saudi pada April 2020. Otoritas Saudi menyatakan bahwa ia melepaskan tembakan terlebih dahulu, sedangkan para ahli khusus PBB mengangkat dugaan pembunuhan sewenang-wenang dalam konteks penggusuran terkait NEOM. Komunikasi ahli PBB mengenai kasus Abdul Rahim al-Huwaiti, 2020.

Pada April 2023, para ahli PBB kembali menyampaikan keprihatinan mengenai enam anggota Howeitat. Tiga orang dilaporkan dijatuhi hukuman mati, sementara tiga lainnya menerima hukuman penjara berat setelah menentang penggusuran yang dikaitkan dengan NEOM. Para ahli tersebut menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi, termasuk tidak memadainya konsultasi dan perlindungan bagi masyarakat terdampak. Dokumen ahli PBB, 28 April 2023.

Bagi orang yang kehilangan tanah leluhurnya, apa arti sebuah kemajuan? NEOM dijanjikan sebagai kota masa depan, tetapi sebagian warga justru menghadapi ancaman kehilangan rumah. Bangunan belum berdiri sempurna, sementara hak manusia sudah menjadi perkara serius. Dalam narasi pembangunan, penduduk setempat dapat berubah menjadi hambatan yang harus disingkirkan, sedangkan rancangan yang belum terwujud telah memperoleh tempat terhormat sebagai lambang peradaban.

Kolonialisme tidak selalu datang dengan kapal perang dan bendera asing. Kadang-kadang, wajahnya berupa peta proyek, kontrak investasi, dan pidato modernisasi. Pengambilalihan ruang hidup dikemas sebagai kebutuhan strategis, sementara pengorbanan warga disebut harga yang harus dibayar demi kemakmuran bersama. Bahasanya terdengar lebih halus, tetapi pertanyaannya tetap sama: siapa yang menentukan nasib suatu wilayah, siapa yang menikmati hasilnya, dan siapa yang menanggung kerugiannya?

Kritik terhadap NEOM juga menyentuh hubungan antara kekuasaan, simbol agama, dan kemegahan material. Persoalannya bukan agama atau keyakinan umatnya, melainkan penggunaan simbol keagamaan untuk memperkuat legitimasi penguasa ketika nilai moral tentang keadilan dan tanggung jawab justru dikesampingkan. Kesalehan tidak dapat diukur dari kemegahan proyek, sebagaimana kekayaan tidak membuktikan keunggulan moral pemiliknya. Ketika kemegahan menjadi ukuran utama keberhasilan, pertanyaan mengenai orang-orang yang dirugikan mudah tersingkir.

Masa Depan yang Ditagih Kenyataan

NEOM dibangun di atas keyakinan bahwa uang dan teknologi mampu memperluas batas kemungkinan. Namun, besarnya sumber daya tidak menghapus kebutuhan untuk menguji kelayakan. Bagaimana jutaan penghuni akan memperoleh air? Bagaimana limbah dikelola? Berapa biaya yang diperlukan untuk membangun, mengoperasikan, dan merawat infrastruktur sebesar itu? Pertanyaan tersebut seharusnya dijawab sebelum dunia disuguhi gambaran kota yang seolah-olah telah menyelesaikan semua persoalan kehidupan.

Lebih mudah menjual gambar kota masa depan daripada menjelaskan ongkos pemeliharaannya. Investor dapat terpukau oleh dinding kaca yang membentang hingga cakrawala, tetapi penghuni tetap membutuhkan air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal layak. Render komputer mampu memperlihatkan bangunan yang belum berdiri dan kehidupan yang belum pernah dijalani. Tagihan kenyataan, sayangnya, tidak bisa disunting dengan perangkat lunak.

Perjalanan NEOM memperlihatkan jarak antara rancangan awal dan pelaksanaan. Pada 2026, Financial Times melaporkan bahwa megaproyek tersebut tengah ditinjau ulang dan mengalami penyusutan skala, termasuk The Line yang diarahkan menjadi pengembangan lebih terbatas. Financial Times, laporan peninjauan ulang NEOM.

Pada 4 Oktober 2026, Reuters melaporkan bahwa rencana stadion NEOM untuk Piala Dunia 2034 ditangguhkan tanpa batas waktu. Stadion yang diperkirakan menelan biaya US$2,5 miliar itu tidak lagi memiliki jadwal penyelesaian yang pasti. Reuters, 4 Oktober 2026.

Penangguhan stadion tidak berarti seluruh NEOM telah berakhir. Namun, perubahan rencana memperlihatkan bahwa ambisi sebesar apa pun harus berhadapan dengan biaya, jadwal, dan kelayakan. Masa depan ternyata masih perlu melewati pemeriksaan anggaran. Bahkan mimpi paling mahal pun tidak kebal terhadap kalkulator.

Manusia di Luar Bingkai Promosi

Di balik angka investasi ada pekerja migran yang mengerjakan proyek-proyek besar Saudi. Mereka datang dari India, Bangladesh, Nepal, Pakistan, dan negara lain untuk mencari nafkah bagi keluarga. Bagi mereka, masa depan bukan gambar kota futuristik, melainkan harapan agar kerja keras menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Human Rights Watch dalam World Report 2026: Saudi Arabia mendokumentasikan persoalan ketenagakerjaan migran di Arab Saudi, termasuk pencurian upah, lemahnya perlindungan pekerja, dan kegagalan menyelidiki kematian yang dapat dicegah. Laporan tersebut membahas kondisi ketenagakerjaan di Saudi secara luas, bukan bukti bahwa setiap proyek NEOM melakukan pelanggaran yang sama. Namun, temuan itu mengingatkan bahwa pembangunan berskala besar tidak boleh membuat hak pekerja dianggap sebagai urusan tambahan.

Sebuah proyek dapat menggunakan kecerdasan buatan dan teknologi konstruksi mutakhir, tetapi tetap bergantung pada manusia yang membutuhkan upah, keselamatan, dan perlakuan bermartabat. Kemegahan bangunan tidak membebaskan pihak yang membangunnya dari tanggung jawab terhadap pekerja. Kota boleh terlihat futuristik dari udara, tetapi peradabannya juga ditentukan oleh keadaan orang-orang yang membangunnya dari tanah.

Arab Saudi berhak mengembangkan ekonomi, memperluas sektor nonminyak, dan memanfaatkan teknologi bagi kesejahteraan rakyatnya. Kritik terhadap NEOM bukan penolakan terhadap pembangunan, melainkan gugatan terhadap cara ambisi dijalankan, risiko yang ditanggung masyarakat, serta manfaat yang benar-benar dihasilkan. Kondisi Yaman membuat pertanyaan tentang prioritas semakin mendesak. Anggaran negara memang tidak sesederhana memilih antara membangun kota dan memberikan bantuan kemanusiaan. Namun, ketika jutaan orang masih kesulitan memperoleh makanan dan layanan kesehatan, sementara proyek spektakuler menyerap sumber daya besar, publik berhak mempertanyakan ukuran keberhasilan yang digunakan penguasa.

Berhala Bernama Kemajuan

Materialisme pada tingkat negara tidak selalu berupa pamer kemewahan. Materialisme dapat menjelma menjadi ambisi membangun sesuatu yang harus lebih besar, lebih tinggi, dan lebih spektakuler daripada apa pun sebelumnya. Gedung menjadi simbol kejayaan, teknologi dijadikan jaminan kemajuan, dan anggaran raksasa seolah-olah membuktikan keagungan peradaban. Pertanyaan tentang siapa yang menikmati hasilnya justru sering datang belakangan.

NEOM adalah potret ambisi tersebut. Ketika rancangan ditinjau ulang dan sejumlah proyek kehilangan kepastian, surga futuristik itu harus berhadapan dengan sesuatu yang sejak awal semestinya diperhitungkan: kenyataan. NEOM mungkin tidak akan lenyap dari peta, tetapi visinya bisa luruh sedikit demi sedikit, menyisakan proyek-proyek yang jauh dari janji awal. Nama boleh bertahan; mimpi yang dijual atas namanya belum tentu.

Miliaran dolar dapat membiayai gambaran masa depan, tetapi tidak menjamin masa depan itu akan terwujud. Arsitek bisa menggambar cakrawala baru, konsultan bisa menyusun presentasi meyakinkan, dan penguasa bisa mengumumkan visi dengan penuh percaya diri. Tak seorang pun, bagaimanapun, bisa memerintahkan kenyataan untuk menyetujui semuanya, apalagi menyuapnya dengan anggaran.

Yang lebih sulit dipulihkan ialah kerugian manusia. Tanah leluhur tidak otomatis kembali ketika proyek diperkecil, dan martabat manusia tidak dapat ditebus dengan revisi rancangan. Di hadapan kenyataan itu, pertanyaan tentang NEOM melampaui urusan biaya dan bangunan: untuk siapa sebenarnya kemajuan dibangun?

Sebuah peradaban tidak dikenang hanya karena gedung tertinggi atau kota paling ambisius yang pernah dirancangnya. Peradaban juga dinilai dari cara memperlakukan manusia ketika ambisinya berbenturan dengan kenyataan. Jika kemegahan harus dibayar dengan pengorbanan yang dianggap lumrah, mungkin yang sedang dibangun bukanlah surga masa depan, melainkan monumen bagi ambisi yang kehilangan ukuran. []

Daftar Rujukan

  1. International Monetary Fund (IMF). IMF Executive Board Concludes 2026 Article IV Consultation with Saudi Arabia, 29 Juli 2026.
    https://www.imf.org/en/news/articles/2026/07/29/pr26267-saudi-arabia-imf-concludes-2026-aiv

  2. United Nations in Yemen. UN Yemen Country Results Report 2025, diterbitkan 15 Juni 2026.
    https://yemen.un.org/en/317368-un-yemen-country-results-report-2025

  3. Public Investment Fund (PIF), Arab Saudi. NEOM: The Destination for the Future, 24 Oktober 2017.
    https://www.pif.gov.sa/en/news-and-insights/press-releases/2017/neom-the-destination-for-the-future/

  4. NEOM. The Line: A Revolution in Urban Living. Sumber resmi mengenai rancangan dan dimensi konsep yang dipromosikan pengembang.
    https://www.neom.com/en-us/whatistheline

  5. OHCHR, Special Procedures. Komunikasi mengenai dugaan pembunuhan sewenang-wenang Abdul Rahim al-Huwaiti dan penggusuran masyarakat Howeitat terkait NEOM, 2020.
    https://spcommreports.ohchr.org/TmSearch/SearchCode?code=SAU+11%2F2020

  6. OHCHR, Special Procedures. UA OTH 28/2023, komunikasi kepada Neom Company mengenai dugaan pelanggaran HAM terhadap anggota Howeitat, 28 April 2023.
    https://spcommreports.ohchr.org/TMResultsBase/DownLoadPublicCommunicationFile?gId=27999

  7. Financial Times. Saudi Arabia to Scale Back Neom Megaproject, laporan mengenai peninjauan ulang dan penyusutan skala NEOM pada 2026.
    https://www.ft.com/content/036b158f-ea34-46d1-ad0a-093eba031501

  8. Reuters. Saudi Arabia Quietly Shelving NEOM Stadium, One of 2034 World Cup Venues, 4 Oktober 2026.
    https://www.reuters.com/sports/soccer/saudi-arabia-quietly-shelving-neom-stadium-one-2034-world-cup-venues-2026-10-04/

  9. Human Rights Watch. World Report 2026: Saudi Arabia, dokumentasi mengenai kondisi HAM dan perlindungan pekerja migran di Arab Saudi.
    https://www.hrw.org/world-report/2026/country-chapters/saudi-arabia