Opini
Financial Times: Kebijakan Trump Menggerus Tatanan Dunia Buatan Amerika Sendiri

Media ABI, 4 September 2026 – Serangkaian kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam dua pekan terakhir dinilai Financial Times memperlihatkan perubahan mendasar dalam cara Washington memandang dunia. Dari pengurangan latihan militer dengan Korea Selatan hingga perang dagang dengan Kanada, tekanan terhadap Iran, dan kesepakatan minyak dengan Venezuela, kebijakan tersebut dinilai turut menggerus tatanan internasional yang selama puluhan tahun dibangun Amerika Serikat sendiri.
Menurut laporan Financial Times yang dikutip IRNA pada Jumat, 4 September 2026, Trump pada 16 Agustus mengumumkan pengurangan signifikan latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Lima hari kemudian, ia mengumumkan operasi yang disebut “Economic Expulsion”. Perundingan dagang antara Amerika Serikat dan Kanada gagal pada 21 Agustus. Pada 28 Agustus, Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia”, yang memberikan Amerika Serikat kendali atas 55 persen produksi sebuah perusahaan baru Venezuela. Bagi penulis Financial Times, rangkaian keputusan tersebut memperlihatkan pandangan Trump terhadap hubungan internasional, yakni negara-negara lain tidak ditempatkan sebagai sekutu yang setara, melainkan sebagai pihak yang harus tetap berada dalam orbit Washington, sementara kekuatan politik dan ekonomi menjadi instrumen yang dapat digunakan Amerika Serikat terhadap negara lain sesuai kepentingannya.
Baca juga: Investigasi Reuters: Rudal Amerika Hantam Langsung Pesta Pernikahan di Iran
Pendekatan itu, menurut surat kabar Inggris tersebut, berlawanan dengan arah kebijakan Amerika Serikat setelah Perang Dunia II. Dean Acheson, Menteri Luar Negeri pada pemerintahan Harry Truman, dalam bukunya Present at the Creation, menggambarkan upaya membangun dunia bebas di tengah kekacauan pascaperang dan mencegah kehancuran yang lebih luas. Financial Times menilai tatanan yang dibangun pada era Truman kemudian membantu Barat memenangkan Perang Dingin dan berkontribusi pada runtuhnya Uni Soviet, sekaligus membuka harapan bagi perdamaian dan kemakmuran di sejumlah kawasan. Dengan nada menyindir, penulis laporan itu menyebut apabila Trump suatu hari menulis autobiografi, judul yang lebih sesuai mungkin Present at the Destruction atau “Hadir pada Saat Kehancuran”.
Korea Selatan dan Risiko Aliansi
Financial Times menempatkan keputusan Trump mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan sebagai salah satu contoh perubahan pendekatan Washington terhadap sekutunya. Perang Korea pecah pada 1950 setelah Korea Utara menyerang Korea Selatan. Konflik selama tiga tahun itu menewaskan sekitar lima juta orang, termasuk sekitar 37.000 personel militer Amerika Serikat, dan berakhir dengan gencatan senjata tanpa menghasilkan perdamaian permanen antara kedua Korea. Trump mengaitkan pengurangan latihan militer tersebut dengan hubungan yang disebutnya sangat baik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, sementara Financial Times membandingkannya dengan posisi Korea Selatan sebagai negara demokratis dan salah satu contoh keberhasilan pembangunan ekonomi. Menurut penulis laporan tersebut, latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan selama ini tidak memicu perang, sedangkan pengurangan dukungan Washington terhadap Seoul justru berpotensi meningkatkan risiko keamanan di kawasan.
Perang Dagang, Iran, dan Ketidakpastian
Kebijakan Trump terhadap Kanada dipandang sebagai bagian dari pola yang sama. Financial Times menilai pendekatan tersebut bertumpu pada tiga anggapan, yakni Kanada tidak benar-benar diperlakukan sebagai negara yang berdiri sendiri, surplus perdagangan dipandang sebagai tindakan agresif, dan perubahan kebijakan perdagangan secara terus-menerus dianggap tidak membawa konsekuensi. Penulis laporan itu menilai pandangan tersebut justru menghasilkan ketidakpastian. Keberhasilan perang dagang terhadap Kanada dipandang sulit dipastikan, sementara hubungan antara dua negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu dan tetangga dekat menghadapi tekanan baru. Pendekatan itu dinilai bertolak belakang dengan warisan pemerintahan Truman yang antara lain melahirkan Program Marshall dan Perjanjian Umum mengenai Tarif dan Perdagangan atau GATT.
Baca juga: Serpihan Rudal AS Ungkap Kejamnya Serangan Berdarah di Sirik
Laporan tersebut juga menyoroti perang Amerika Serikat terhadap Iran. Setelah pertempuran kembali berlangsung, arah krisis dinilai masih belum jelas, sementara pembukaan kembali Selat Hormuz tetap berada dalam situasi yang rapuh. Menurut Financial Times, hasil perang sejauh ini masih jauh dari gambaran yang dijanjikan ketika konflik dimulai pada Februari, sedangkan dampak jangka panjangnya terhadap kepentingan Amerika Serikat maupun sekutu-sekutunya di kawasan juga belum terlihat jelas. Operasi “Economic Expulsion” pun dinilai tidak memberikan alasan kuat untuk mengharapkan hasil yang berbeda. Penulis laporan itu mengemukakan bahwa Iran telah melewati periode panjang permusuhan dengan Amerika Serikat dan kini menghadapi perang, sementara kebijakan “maximum pressure” Trump setelah Washington keluar dari kesepakatan nuklir pada 2018 juga tidak mencapai tujuan yang diharapkan.
Venezuela dan Kendali Sumber Daya
Kesepakatan baru Amerika Serikat dengan Venezuela menjadi contoh lain yang disoroti Financial Times. Pengaturan tersebut digambarkan memiliki kemiripan dengan praktik kolonialisme abad ke-19. Menurut penulis laporan itu, banyak warga Venezuela mungkin merasa senang atas pemenjaraan Nicolas Maduro di Amerika Serikat, tetapi harapan mereka kemungkinan bukan melihat pemerintahan otoriter digantikan oleh dominasi kekuatan asing yang mengambil kendali atas sumber daya minyak negara tersebut.
Baca juga: Menteri Keuangan AS Berjanji Terus Tekan Ekonomi Iran
Di bagian akhir laporannya, Financial Times menilai sulit menemukan seperangkat prinsip yang konsisten dalam cara Trump memandang dunia. Pendekatan tersebut juga tidak dipandang sebagai kembalinya Amerika Serikat kepada realisme tradisional dalam politik internasional, melainkan bergerak berlawanan dengan tatanan internasional yang dibangun Washington setelah Perang Dunia II. Ketidakteraturan global yang berkembang saat ini, menurut Financial Times, bukan hanya kondisi tempat Trump menjalankan kebijakannya, tetapi juga akibat dari keputusan-keputusan politiknya. Laporan itu pada akhirnya menempatkan kebijakan Trump dalam sebuah ironi besar, ketika Amerika Serikat yang selama beberapa dekade membangun dan mempertahankan tatanan internasional kini menghadapi risiko turut mempercepat pelemahan tatanan tersebut melalui kebijakannya sendiri. []
Baca juga: Citra Satelit Rekam Kerusakan Hanggar Jet Tempur Amerika di Yordania







