Internasional
Pengamat: Serangan AS dan Israel Justru Satukan Rakyat Iran

Media ABI, 3 September 2026 – Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, menurut teoritikus hubungan internasional John Mearsheimer, justru memicu menguatnya persatuan masyarakat Iran dan tidak menghasilkan tujuan untuk melemahkan pemerintahan di Teheran.
Dalam wawancara terbarunya yang dilaporkan Fars News Agency pada Kamis (3/9/26), profesor ilmu politik Universitas Chicago itu mengatakan tekanan ekonomi dan blokade Amerika Serikat terhadap Iran belum menunjukkan tanda-tanda mampu mematahkan ketahanan negara tersebut.
Baca juga: Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Rudal
Mearsheimer mengatakan Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tekanan semacam itu. Ketika Selat Hormuz masih terbuka, menurutnya, Teheran berupaya mempercepat keluarnya kapal-kapal dari kawasan serta memindahkan minyak dalam jumlah besar ke laut agar dapat dijual.
Berdasarkan sebagian besar perkiraan yang diketahuinya, Mearsheimer mengatakan Iran memiliki cadangan minyak di laut yang cukup untuk menopang pendapatannya setidaknya hingga Maret mendatang.
“Pertanyaan utamanya adalah apakah Amerika Serikat mampu mempertahankan blokade ini hingga saat itu dan apakah Iran tidak akan menemukan cara lain untuk mengurangi tekanan selama periode tersebut,” katanya.
“Saya bertaruh pada kemampuan Iran untuk bertahan dalam kondisi ini, bukan pada Amerika Serikat.”
Tekanan Belum Menggoyahkan Teheran
Mearsheimer mengatakan tidak melihat tanda-tanda pemerintahan Iran berada di ambang keruntuhan. Menurutnya, berbagai strategi yang ditempuh Washington untuk memaksa Teheran menyerah belum membuahkan hasil.
“Argumen bahwa kita hanya perlu melanjutkan tekanan ekonomi sampai pemerintahan menyerah telah diulang selama berbulan-bulan. Kita juga diberi tahu bahwa penggunaan kekuatan militer akan membuat Iran bertekuk lutut. Hampir semua strategi yang mungkin telah dicoba, kecuali serangan darat, dan tidak satu pun berhasil,” ujarnya.
Menurut Mearsheimer, kegagalan tersebut juga terlihat dari situasi militer di kawasan. Sebelum perang dimulai, Amerika Serikat memiliki jaringan pangkalan militer yang luas di kawasan Teluk Persia.
Pangkalan-pangkalan tersebut, menurutnya, kini mengalami kerusakan berat atau telah hancur. Amerika Serikat juga memindahkan sebagian kemampuan militernya ke Yordania, Israel, dan Eropa.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan militer yang cukup besar,” katanya.
Baca juga: Al-Nujaba: Tentara AS yang Tersisa di Irak Akan Pulang dalam Peti Mati
Mearsheimer menambahkan bahwa sejumlah fasilitas rudal dan pesawat nirawak Iran masih beroperasi meskipun menjadi sasaran serangan Amerika Serikat. Kemampuan produksi rudal Iran juga tetap bertahan.
Bahkan, berdasarkan bukti yang tersedia, Mearsheimer menilai Iran kini memiliki jumlah rudal lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Ancaman Memperkuat Persatuan Nasional
Mearsheimer juga menyoroti dampak politik dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menurutnya, perang tersebut justru menciptakan efek rally around the flag atau persatuan masyarakat di bawah ancaman bersama.
Menurutnya, kematian dan kehancuran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel telah mendorong banyak warga Iran untuk memberikan dukungan kepada pemerintahan mereka.
“Ketika kita berbicara tentang reaksi rakyat Iran terhadap kematian dan kehancuran yang disebabkan oleh serangan Amerika Serikat dan Israel, kita dapat melihat bahwa situasi tersebut telah mendorong banyak orang Iran untuk pada akhirnya mendukung pemerintahan,” katanya.
Baca juga: USS Abraham Lincoln Tiba di Thailand dengan Kondisi Mengenaskan
Mearsheimer menilai banyak warga Iran memandang Amerika Serikat sebagai ancaman terhadap keberlangsungan negara mereka.
“Menurut saya, banyak orang Iran memahami bahwa Amerika Serikat merupakan ancaman eksistensial bagi mereka. Itu sangat penting,” ujarnya.
Strategi Washington Gagal
Menilai kemungkinan akhir perang, Mearsheimer mengatakan hasil akhirnya sulit diprediksi. Namun, menurutnya, perkembangan perang hingga kini telah menunjukkan kegagalan besar terhadap tujuan strategis awal Washington.
“Ini merupakan contoh yang sangat jelas dari kegagalan strategis yang besar. Jika kita melihat posisi Amerika Serikat saat ini dan tujuan yang ditetapkannya ketika perang dimulai, kita harus mengakui bahwa perang ini sejauh ini telah gagal,” katanya. []
Baca juga: Serpihan Rudal AS Ungkap Kejamnya Serangan Berdarah di Sirik







