Internasional
The New Republic: Delusi Kemenangan Trump Lebih Berbahaya dari Kebohongannya

Media ABI, 3 September 2026 — Majalah Amerika Serikat The New Republic menilai persoalan Donald Trump tidak berhenti pada kebiasaan menyampaikan pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam analisis mengenai kesepakatan minyak baru antara Washington dan Venezuela, media tersebut menilai keyakinan Trump terhadap narasi kemenangan yang dibangunnya sendiri justru dapat menjadi persoalan yang lebih berbahaya.
Baca juga: USS Abraham Lincoln Tiba di Thailand dengan Kondisi Mengenaskan
Analisis yang dikutip Kantor Berita Tasnim pada Rabu, 2 September 2026, menjadikan kesepakatan minyak Amerika Serikat dengan Venezuela sebagai contoh terbaru dari kecenderungan Trump menggambarkan kebijakannya sebagai keberhasilan besar. Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan tersebut akan menurunkan harga bensin secara signifikan tanpa membebani pembayar pajak Amerika Serikat.
Kesepakatan Minyak yang Dipertanyakan
Profesor Ekonomi Politik Universitas Harvard Ricardo Hausmann, yang pernah menjabat Menteri Perencanaan Venezuela, meragukan keseriusan pelaksanaan kesepakatan tersebut. Menurutnya, masyarakat Venezuela maupun perusahaan minyak besar Amerika Serikat tidak akan memandang perjanjian itu secara serius.
The New Republic juga menyoroti sikap awal anggota Kongres dari Partai Republik, Maria Elvira Salazar, yang semula menilai kesepakatan dengan pemerintah sementara Venezuela tidak memiliki prospek jangka panjang. Salazar kemudian menghapus pernyataan tersebut dan menyampaikan sikap yang lebih positif terhadap kesepakatan itu.
Menurut The New Republic, perubahan sikap tersebut mencerminkan tekanan di dalam Partai Republik untuk tetap berada dalam garis politik Trump.
Narasi Kemenangan Menjadi Keyakinan
Kesepakatan dengan Venezuela, menurut media tersebut, merupakan bagian dari pola yang lebih luas. Trump dinilai kerap menggambarkan setiap tindakannya sebagai sesuatu yang bersejarah, belum pernah terjadi sebelumnya, dan sebagai kemenangan besar.
Pola serupa, menurut The New Republic, juga terlihat dalam janji-janjinya mengenai tarif perdagangan, penghapusan pajak penghasilan, serta penghentian cepat perang Iran. Media tersebut menilai banyak dari janji itu kemudian tidak sejalan dengan perkembangan yang terjadi.
Baca juga: Serpihan Rudal AS Ungkap Kejamnya Serangan Berdarah di Sirik
Dalam analisisnya, The New Republic membedakan antara politikus yang berbohong dan seseorang yang benar-benar mempercayai narasi yang dibangunnya sendiri. Seorang politikus yang mengetahui pernyataannya tidak benar, menurut analisis tersebut, masih dapat mengubah arah ketika kegagalan kebijakannya semakin jelas. Namun, seseorang yang sungguh-sungguh percaya pada gambaran yang diciptakannya akan jauh lebih sulit menerima kesalahan dan mengubah kebijakan.
Dalam konteks itulah The New Republic menilai persoalan Trump melampaui kebohongan. Media tersebut berpendapat Trump dikelilingi oleh orang-orang yang membantu mempertahankan dan memperkuat narasi tentang keberhasilannya.
Menjelang pemilihan sela Amerika Serikat, Trump juga disebut berencana menempatkan dirinya sebagai pusat pesan kampanye Partai Republik dan mempromosikan kinerja pemerintahannya. The New Republic memandang langkah tersebut sebagai bagian dari ketidakmampuannya mengakui persoalan yang dihadapi Amerika Serikat, baik dalam bidang ekonomi maupun politik.
Risiko di Balik Kesepakatan Venezuela
Kesepakatan minyak dengan Venezuela sendiri masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Berdasarkan laporan Associated Press yang dikutip The New Republic, pemerintah Amerika Serikat bersama sebuah operator swasta yang tidak disebutkan namanya membentuk perusahaan baru yang memperoleh hak pengelolaan 17 ladang minyak selama 100 tahun.
Kesepakatan itu berlangsung di tengah kondisi infrastruktur industri minyak Venezuela yang telah lama mengalami kerusakan dan membutuhkan investasi besar untuk dipulihkan. Peningkatan produksi secara signifikan dalam waktu dekat pun dinilai sulit terwujud.
Baca juga: Rudal Generasi Baru Iran Jadi Sorotan Setelah Serangan ke Pangkalan AS
Belum diketahui pula pihak yang akan menanggung biaya pemulihan infrastruktur tersebut. Industri minyak Amerika Serikat juga dapat bersikap hati-hati terhadap rencana investasi di Venezuela karena perubahan pemerintahan di masa depan berpotensi mengubah atau membatalkan kesepakatan yang ada.
The New Republic memperkirakan berbagai persoalan tersebut pada akhirnya dapat membuktikan bahwa investasi yang dijanjikan tidak terealisasi, kesepakatan itu justru membebani pembayar pajak Amerika Serikat, dan perusahaan-perusahaan minyak besar enggan terlibat. Meski demikian, penulis analisis tersebut menyatakan berharap perkiraan itu tidak terbukti. []
Baca juga: Dari Minab hingga Sirik, Serangan AS dan Korban Warga Sipil Iran







