Opini
Maulid Nabi SAW dan Ujian Istiqamah Umat

Oleh: Muhlisin Turkan
Media ABI, 29 Agustus 2026 – Maulid Nabi Muhammad SAW memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi maknanya tidak berhenti pada kenangan tentang hari kelahiran beliau. Setiap peringatan Maulid membawa umat kembali kepada satu persoalan mendasar: setelah lebih dari empat belas abad, apakah jalan yang dibawa Rasulullah SAW masih dijaga dengan keteguhan, atau cinta kepada beliau perlahan berhenti sebagai ungkapan yang tidak lagi memikul amanah risalah?
Surah Hud dan Beban Istiqamah
Di antara riwayat yang paling menggugah tentang beratnya amanah tersebut adalah sabda Rasulullah SAW.
شَيَّبَتْنِي سُورَةُ هُودٍ
“Surah Hud telah membuatku beruban.”
Riwayat ini dikenal dalam khazanah Sunni dan Syiah, meskipun terdapat perbedaan dalam redaksi serta penyebutan surah-surah yang dikaitkan dengannya. Dalam riwayat yang dicatat At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menyebut Surah Hud bersama Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, ‘Amma Yatasa’alun, dan At-Takwir. Dalam khazanah Syiah Imamiyah, Syekh ash-Shadūq juga mencatat riwayat serupa dalam Al-Amālī, dengan Surah Hud tetap termasuk di antara surah yang disebut.
Baca juga: Pidato Ustadz Abdullah Beik: Merayakan Maulid Nabi dan Kelahiran Imam Ja’far As-Shadiq
Kesamaan penyebutan Surah Hud dalam dua jalur periwayatan itu mengarah pada pertanyaan yang lebih penting. Apa yang membuat surah tersebut demikian berat bagi Rasulullah SAW?
Salah satu penjelasan yang paling dikenal merujuk kepada firman Allah dalam Surah Hud ayat 112.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
“Beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan, demikian pula mereka yang kembali bersamamu.”
Perintah itu tidak hanya ditujukan kepada Rasulullah SAW. Keteguhan juga menjadi kewajiban mereka yang memilih mengikuti jalan beliau. Tambahan وَمَنْ تَابَ مَعَكَ memperlihatkan bahwa beban tersebut jauh melampaui keteguhan pribadi seorang Nabi.
Rasulullah SAW telah menunjukkan keteguhan dalam memikul risalah. Persoalan yang kemudian diwariskan kepada umat adalah apakah mereka mampu bertahan di jalan yang sama setelah menyatakan keimanan dan kesetiaan.
Imam Khomeini, ketika menjelaskan ayat tersebut, memberi perhatian khusus pada bagian وَمَنْ تَابَ مَعَكَ. Menurut penjelasannya, Rasulullah SAW tidak mengkhawatirkan dirinya akan meninggalkan istiqamah. Kegelisahan beliau justru berkaitan dengan mereka yang telah datang kepada Islam dan menyatakan diri sebagai pengikutnya. Apakah mereka akan tetap bertahan?
Pertanyaan itu memberi Maulid Nabi bobot yang jauh melampaui seremoni. Mengenang kemuliaan Rasulullah SAW adalah bagian dari cinta kepada beliau. Namun cinta kepada seorang Nabi diuji ketika umat diminta tetap memegang jalan yang dibawanya, terutama ketika jalan tersebut menuntut kesabaran, pengorbanan, keberanian, dan kesediaan untuk tidak mengikuti arus yang lebih mudah.
Baca juga: Pidato Peringatan Maulid Nabi Saw Dewan Syura ABI: Rasulullah Teladan Terbaik
Persatuan yang Menuntut Keteguhan
Pekan Persatuan Islam memberikan konteks yang tepat untuk membaca kembali pesan tersebut. Dunia Islam tidak pernah kekurangan seruan tentang persatuan. Persoalannya terletak pada rapuhnya kemampuan menjaga kebersamaan ketika kepentingan kelompok mulai berbenturan, perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan, dan identitas digunakan untuk memperlebar jarak di antara sesama Muslim.
Persatuan tidak menuntut umat menjadi seragam. Sejak awal, Islam tumbuh di tengah perbedaan bangsa, bahasa, suku, dan pengalaman sejarah. Perbedaan bukan masalah. Persatuan menjadi masalah ketika dipelihara sebagai alasan untuk bermusuhan.
Menjaga persatuan membutuhkan istiqamah. Menyerukan persatuan jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Membela kelompok sendiri sering terasa lebih mudah daripada berlaku adil. Menyerang pihak lain dapat dilakukan dalam waktu singkat, sementara membangun pengertian membutuhkan kesabaran dan kedewasaan. Umat tidak akan menjadi kuat hanya karena memiliki musuh yang sama apabila hubungan di antara sesamanya terus dibiarkan rapuh.
Istiqamah bukan hanya soal bertahan menghadapi tekanan dari luar. Umat juga dituntut menjaga keadilan, persaudaraan, dan arah bersama ketika benih perpecahan tumbuh dari dalam tubuhnya sendiri.
Risalah yang Melampaui Bangsa dan Mazhab
Kesadaran tentang persatuan berkaitan pula dengan luasnya cakupan risalah Islam. Dalam Surah Al-Jumu’ah, Allah SWT berbicara tentang kelompok lain yang belum bergabung dengan generasi pertama umat Islam. Ketika ayat tersebut diturunkan, sebuah riwayat menyebut Rasulullah SAW. meletakkan tangannya di atas Salman al-Farisi ketika menjelaskan siapa yang dimaksud dengan kelompok yang akan datang kemudian.
Makna riwayat itu melampaui batas satu bangsa dan satu wilayah. Islam tidak berhenti di Jazirah Arab. Risalah Muhammad SAW tumbuh di tengah berbagai bangsa dengan sejarah dan kebudayaan yang berbeda. Dari Persia hingga Afrika, dari Asia Selatan hingga Asia Tenggara, umat Islam dibentuk oleh perjumpaan banyak bangsa yang dipersatukan oleh satu risalah.
Persatuan Islam tidak dibangun melalui penyeragaman manusia. Ujiannya justru terletak pada kemampuan menjaga arah bersama di tengah perbedaan. Ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu bangsa, satu kelompok, atau satu mazhab sendirian. Ada pula kepentingan yang jauh lebih besar daripada kemenangan sesaat dalam pertengkaran internal. Ketika kesadaran itu hilang, umat mudah terjebak dalam konflik yang menghabiskan tenaga tanpa membawa mereka lebih dekat kepada tujuan bersama.
Baca juga: Ayatullah Mojtaba Khamenei: Ghadir Adalah Jalan Kepemimpinan dan Kebangkitan Umat
Imam Khomeini pernah berbicara tentang pentingnya keteguhan bangsa dalam mempertahankan perjuangan dan membangun generasi. Pesan itu tetap relevan karena setiap generasi menghadapi bentuk tekanan yang berbeda. Tantangan tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikenali. Tekanan dapat hadir dalam bentuk kekalahan psikologis, hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan sendiri, atau kebiasaan menyerahkan arah masa depan kepada kehendak pihak lain.
Dalam keadaan semacam itu, istiqamah berarti memahami apa yang diyakini dan menjaga arah perjalanan tanpa kehilangan kemampuan membaca kenyataan.
Namun, istiqamah bukanlah keras kepala. Keteguhan tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi fanatisme, sementara keberanian tanpa kebijaksanaan dapat membawa manusia menjauh dari tujuan yang hendak diperjuangkan. Istiqamah adalah sikap untuk tetap jejeg dan ajeg, teguh memegang jalan yang benar, dengan kesadaran, pengetahuan, kemampuan mengoreksi diri, dan keberanian untuk tidak menyimpang dari kebenaran.
Cinta kepada Nabi dan Ujian bagi Umat
Penghormatan yang paling jujur kepada Rasulullah SAW tampak dalam kesediaan umat yang mengaku mengikuti beliau untuk tetap memikul jalan yang telah beliau buka.
Maulid kehilangan kedalamannya apabila umat begitu lantang mengagungkan Nabi, tetapi mudah memusuhi sesama Muslim. Seruan persatuan pun kehilangan maknanya apabila kepentingan kelompok selalu ditempatkan di atas kepentingan umat. Sebuah peringatan tidak akan berarti banyak apabila pesan yang diperingati tidak menemukan bentuk dalam sikap dan tindakan.
Rasulullah SAW telah menyampaikan risalah dan membangun umat yang melampaui batas suku dan bangsa. Yang diwariskan kepada generasi setelah beliau bukan hanya kenangan tentang seorang Nabi yang mulia, melainkan amanah untuk menjaga jalan yang telah dibuka.
Baca juga: Pesan Ayatullah Mojtaba di Hari Buruh dan Guru: Kemajuan Negara Bertumpu pada Guru dan Pekerja
Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pekan Persatuan Islam, amanah itu kembali hadir melalui sebuah perintah yang singkat, tetapi berat.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan.”
Perintah itu kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang menjadikan beban tersebut sebagai tanggung jawab seluruh pengikut Rasulullah SAW.
وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
“Dan mereka yang berjalan bersamamu.”
Rasulullah SAW telah menjalankan amanahnya. Risalah telah disampaikan dan jalan telah dibuka. Beban sejarah kemudian berada di tangan mereka yang mengaku sebagai pengikutnya.
Apakah umat masih bersedia berada di jalan itu ketika jalan tersebut tidak mudah?
Pertanyaan tersebut memberi makna yang lebih dalam kepada Maulid. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW menjadi saat bagi umat untuk menguji diri sendiri: apakah mereka masih memiliki keteguhan untuk menjaga jalan yang telah diwariskan?
Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah SAW tidak diukur dari seberapa sering umat menyebut namanya, tetapi dari seberapa teguh mereka mempertahankan kebenaran, keadilan, dan persaudaraan yang beliau perjuangkan. []
Baca juga: Para Maraji dan Ulama Besar Sambut Terpilihnya Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Baru Iran







