Opini
Afghanistan Jadi Peringatan bagi AS dalam Perang Melawan Iran

Media ABI, 31 Agustus 2026 – Pengalaman panjang Amerika Serikat di Afghanistan kembali menjadi peringatan bagi Washington dalam perang melawan Iran. Dalam artikel berjudul “Why the United States Can’t Quit Its Wars“ yang ditulis Greg Jaffe dan diterbitkan The New York Times pada 30 Agustus 2026, Amerika dinilai menghadapi risiko kembali terjerumus ke dalam konflik berkepanjangan ketika harapan meraih kemenangan cepat semakin memudar.
Analisis tersebut membandingkan pengalaman Amerika di Afghanistan dengan perang yang kini dihadapi Washington terhadap Iran. Lima tahun setelah berakhirnya perang terpanjang Amerika di Afghanistan, pertanyaan lama kembali menghantui Washington, mengapa negara itu begitu sulit mengakhiri perang ketika tujuan awal semakin jauh dari jangkauan.
Baca juga: Reuters: Iran Terluka, tetapi Tidak Kalah
Laporan itu kemudian dirujuk Kantor Berita Tasnim dalam pemberitaannya pada Minggu (31/8/2026). Menurut analisis The New York Times, Afghanistan yang selama bertahun-tahun menjadi alasan bagi tiga presiden Amerika untuk mempertahankan keterlibatan militer, pada akhirnya tidak berkembang sesuai sejumlah kekhawatiran yang selama ini dikemukakan.
Afghanistan tidak berubah menjadi pangkalan serangan teroris terhadap Amerika, sementara Al Qaeda tidak lagi mampu menimbulkan ancaman seperti sebelumnya.
Kini, Amerika menghadapi perang baru dengan Iran. Tanda-tanda kemenangan cepat disebut semakin memudar, sementara Donald Trump, yang pada suatu masa menyatakan Amerika tidak perlu bertahan di Iran, kemudian mengubah sikap dan menegaskan kelanjutan kehadiran militer.
Jaffe melihat persoalan Amerika tidak berhenti pada soal menang atau kalah di medan perang. Struktur politik dan militer Amerika, menurutnya, membuat pengakuan atas kegagalan, penarikan diri, dan keputusan mengakhiri perang menjadi jauh lebih rumit.
Sulitnya Mengakhiri Perang
Dalam banyak perang yang diikuti Amerika sejak Perang Dunia II, Washington berulang kali menghadapi persoalan yang sama, bagaimana keluar dari konflik yang telah dimasukinya.
Andrew Hoehn, analis senior RAND Corporation, mengatakan sebagian besar perang tersebut merupakan upaya membangun tatanan dunia atau mempertahankan nilai-nilai Amerika, bukan perang yang secara langsung mengancam keberadaan negara itu.
Afghanistan menjadi salah satu contoh paling jelas.
Salah satu peluang terbesar bagi Amerika untuk menarik diri muncul setelah Osama bin Laden terbunuh pada 2011. Al Qaeda telah melemah setelah bertahun-tahun menjadi sasaran serangan drone Amerika, sementara Taliban menunjukkan bahwa kekalahan total terhadap kelompok tersebut hampir mustahil dicapai.
Namun, perang tetap berlanjut. Carter Malkasian, yang pernah menjadi penasihat para komandan Amerika di Afghanistan, kemudian menulis bahwa banyak pejabat Amerika kemungkinan akan mendukung penarikan lebih awal apabila mengetahui bagaimana perang tersebut pada akhirnya berakhir.
Baca juga: The Economist Mengulas Alasan Ansharullah Sulit Ditundukkan
Keputusan itu sulit diambil karena budaya militer Amerika dibentuk untuk meraih kemenangan, sementara pengakuan atas kekalahan bukan sesuatu yang mudah diterima.
Setelah 2011, persoalan di Afghanistan tidak lagi hanya berkaitan dengan kekalahan Taliban atau penghancuran Al Qaeda. Pemerintah Amerika semakin dibebani kekhawatiran terhadap reputasi Washington, nasib sekutu Afghanistan, serta risiko politik apabila penarikan pasukan dipandang sebagai kekalahan.
Taliban, sebaliknya, menyadari bahwa mereka tidak harus mengalahkan militer Amerika di medan perang. Mereka hanya perlu bertahan lebih lama daripada kesediaan Washington untuk terus menanggung biaya perang.
Ketika kemenangan militer semakin sulit dicapai, tujuan Amerika pun berubah. Washington berusaha mengurangi jumlah korban dan biaya perang sambil mempertahankan pemerintahan Afghanistan yang lemah dan tidak populer.
Dengan tujuan yang terus bergeser, perang Afghanistan berlanjut tanpa gambaran jelas mengenai bagaimana kemenangan akan dicapai.
Rosemary Kelanic dari Defense Priorities menggambarkan keadaan Amerika pada tahun-tahun terakhir perang Afghanistan seperti seorang dokter yang mengetahui pasiennya pada akhirnya akan meninggal, tetapi berharap peristiwa itu terjadi setelah giliran kerjanya berakhir.
Perumpamaan itu menggambarkan persoalan yang lebih besar. Tidak ada pemerintahan atau presiden Amerika yang ingin memikul tanggung jawab atas kekalahan. Keputusan mengakhiri perang pun terus ditunda dan diwariskan kepada pemerintahan berikutnya.
Baca juga: Pasukan AS Keluar dari Irak, Pengaruh Washington Belum Berakhir
Di Afghanistan, penundaan tersebut membuat perang berlanjut selama satu dekade setelah kematian bin Laden. Dalam periode itu, 868 personel militer Amerika kembali kehilangan nyawa.
Janji Perang Singkat yang Mulai Dipertanyakan
Ketika perang melawan Iran dimulai, Menteri Pertahanan Amerika Pete Hegseth berulang kali menegaskan konflik tersebut tidak akan menyerupai perang panjang di Irak dan Afghanistan.
Hegseth menyebut perang itu harus berlangsung secara terfokus, mematikan, cepat, dan menentukan. Menurutnya, perang tersebut bukan Irak dan tidak akan berubah menjadi konflik tanpa akhir.
Perkembangan berikutnya membuat janji itu semakin dipertanyakan.
Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika. Langkah tersebut memperumit tujuan Washington. Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Jenderal Dan Caine, dalam kesaksiannya di Senat, mengakui serangan udara dan rudal kemungkinan tidak cukup untuk mengalahkan Iran atau bahkan membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut Caine, kekuatan udara memiliki keterbatasan yang jelas.
Setelah serangan udara tidak menghasilkan seluruh tujuan yang diharapkan, Washington mulai mengandalkan blokade laut terhadap ekspor Iran dan tekanan ekonomi. Meningkatnya kembali lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Selat Hormuz belum menunjukkan bahwa Amerika berada di ambang kemenangan cepat.
Pernyataan para pejabat militer Amerika kemudian menunjukkan perubahan dari janji perang singkat menuju kesiapan menghadapi operasi yang dapat berlangsung berbulan-bulan atau lebih lama.
Ketika ditanya mengenai kemampuan Angkatan Laut Amerika mempertahankan blokade, Hegseth mengatakan langkah itu dapat dilanjutkan selama diperlukan, bahkan tanpa batas waktu.
Perubahan tersebut memperlihatkan risiko perang yang semula dirancang terbatas dan singkat berkembang menjadi konflik pengurasan yang semakin sulit dihentikan.
Baca juga: Belati Washington di Belakang Kairo
Pelajaran dari Afghanistan
Salah satu kesamaan yang dilihat Jaffe antara Afghanistan dan Iran adalah besarnya dorongan pihak yang menghadapi Amerika untuk melanjutkan perang.
Taliban berjuang untuk mempertahankan keberadaannya dan memahami bahwa Amerika pada akhirnya dapat kelelahan lalu meninggalkan Afghanistan. Para pemimpin Iran, menurut analisis tersebut, juga memandang perang sebagai persoalan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka.
Namun, kepentingan kedua pihak dalam perang itu tidak berada pada tingkat yang sama.
Bagi Iran, perang dapat terkait langsung dengan keberlangsungan sistem politiknya. Sementara bagi Amerika, tidak terdapat kepentingan vital dengan tingkat yang sama.
Atas dasar itu, penulis berpendapat biaya penarikan diri bagi Washington kemungkinan lebih rendah daripada biaya melanjutkan perang. Persoalannya terletak pada apakah seorang presiden Amerika bersedia menanggung harga politik dari keputusan tersebut.
Selat Hormuz dan Pilihan Washington
Membuka kembali Selat Hormuz bukan sesuatu yang mustahil secara militer. Namun, mantan pejabat senior Pentagon Thomas Mahnken mengatakan langkah itu kemungkinan membutuhkan operasi darat dan pengerahan kekuatan besar karena Iran selama puluhan tahun telah memperkuat posisi di sekitar jalur perairan tersebut.
Washington pun menghadapi pilihan yang tidak mudah.
Amerika dapat meningkatkan biaya manusia dan keuangan demi mencapai tujuan membuka kembali Selat Hormuz. Pilihan lainnya adalah melanjutkan tekanan ekonomi dan blokade, dengan risiko semakin dalam terlibat dalam perang jangka panjang.
The New York Times juga menyoroti opini publik Amerika sebagai faktor yang dapat membatasi pilihan Washington. Menurut analisis tersebut, banyak warga Amerika menentang perang melawan Iran dan tidak terlihat dukungan kuat bagi operasi darat berskala besar.
Kekalahan yang Sulit Diakui
Bagian akhir analisis tersebut kembali menyinggung Afghanistan melalui sebuah acara yang digelar Hegseth pada peringatan lima tahun berakhirnya perang.
Baca juga: Iran Memburu “Mata” Amerika di Teluk, Radar TPS-57 Al Dhafra Hancur
Dalam acara itu, tiga veteran marinir yang terluka dalam serangan di Bandara Kabul menerima penghargaan atas keberanian mereka. Hegseth memuji ketiganya sebagai lambang kekuatan militer yang tidak terkalahkan.
Namun, tidak ada pembicaraan mengenai kekalahan Amerika dalam perang Afghanistan.
Bagi penulis, peristiwa tersebut menunjukkan cara lain menghadapi kegagalan strategis. Perhatian dapat dialihkan kepada keberanian dan pengorbanan para prajurit, sementara kegagalan perang tidak dibicarakan secara langsung.
Pelajaran utama dari Afghanistan terletak pada risiko mengubah tujuan perang ketika kemenangan penuh tidak tercapai. Alih-alih menarik diri, sebuah negara dapat menciptakan misi baru untuk membenarkan kelanjutan keterlibatan militernya.
Afghanistan menunjukkan bahwa perang dapat terus berlangsung jauh setelah tujuan awalnya kehilangan relevansi. Ketakutan terhadap kekalahan, kekhawatiran mengenai reputasi Amerika, komitmen terhadap sekutu, dan biaya politik penarikan diri membuat keputusan untuk mengakhiri perang semakin sulit.
Kini, perang melawan Iran menghadapi risiko serupa.
Konflik yang semula dijanjikan berlangsung cepat dan menentukan mulai bergerak ke arah blokade, sanksi, dan tekanan jangka panjang. Pertanyaan yang semakin mendesak bagi Washington bukan lagi hanya bagaimana mengalahkan Iran, melainkan kapan dan bagaimana perang dapat diakhiri jika kemenangan penuh tidak tercapai. []
Baca juga: “Kaum Sarungan” Mengubah Perhitungan Keamanan Arab Saudi







