Opini
Dari Las Vegas ke Jakarta, Politik yang Hidup dari Emosi Rakyat

Oleh: Muhlisin Turkan
Ahlulbait Indonesia, 6 Agustus 2026 – Kampanye Donald Trump di Hotel Red Rock Casino, Las Vegas, pada Kamis (6/8/2026), menyuguhkan sebuah adegan yang layak dikenang bukan karena kemeriahannya, melainkan karena simbolisme politik yang dipertontonkannya. Seorang balita yang bahkan belum fasih berbicara naik ke atas panggung bersama kedua orang tuanya untuk mempromosikan program Trump Accounts. Tepuk tangan bergemuruh, kamera bekerja tanpa jeda, dan dalam hitungan menit seorang anak berubah dari anggota keluarga biasa menjadi simbol yang melayani kepentingan politik orang-orang dewasa.
Baca juga: CENTCOM Buntu di Iran Selatan, Desak Operasi Dihentikan
Namun, jangan terburu-buru menertawakan Amerika. Yang terjadi di Las Vegas lebih menyerupai cermin daripada tontonan. Pola semacam itu bukan milik satu negara atau satu tokoh. Di Indonesia, panggung serupa terlalu sering dipertontonkan. Yang berganti hanya aktor, kostum, dan slogan.
Partai datang dan pergi. Tokoh silih berganti. Naskahnya nyaris tidak pernah berubah. Rumah-rumah sederhana mendadak menjadi alamat yang paling dicari. Bayi berpindah dari pelukan ibu ke pelukan kamera. Pedagang kaki lima, petani, nelayan, buruh, dan mereka yang hidup di pinggir statistik kemiskinan mendadak menjadi wajah yang paling dirindukan. Kehangatan mengalir bersama jabat tangan dan janji. Kamera memastikan tak satu pun adegan terlewat.
Begitu pesta politik usai, iring-iringan kendaraan meninggalkan gang-gang sempit yang beberapa jam sebelumnya dipuja sebagai denyut nadi bangsa. Kamera mencari cerita berikutnya. Warga kembali menghadapi harga beras yang terus merangkak, biaya sekolah yang kian mencekik, ongkos berobat yang semakin mahal, dan tagihan hidup yang tidak pernah mengenal jeda.
Politik sebenarnya tidak pernah lupa kepada rakyat. Yang sering terlupakan adalah rakyat setelah suara selesai dihitung.
Baca juga: The Atlantic: Trump Kehabisan Waktu Membuka Selat Hormuz
Di tangan sebagian politisi, kemiskinan bukan lagi luka yang harus disembuhkan, melainkan aset yang terus dipelihara. Air mata menjadi materi kampanye. Kesulitan hidup berubah menjadi dekorasi pidato. Penderitaan dipoles menjadi komoditas elektoral yang dipanen setiap musim politik.
Di Las Vegas, yang dipinjam kali ini adalah seorang balita. Di Indonesia, yang dipinjam jauh lebih besar, yakni kehidupan rakyat kecil. Rumah mereka menjadi etalase kepedulian. Kesabaran mereka menjadi modal. Harapan mereka berubah menjadi investasi politik yang dicairkan setiap kali suara dibutuhkan.
Logika pencitraan itu kemudian ikut membentuk penyelenggaraan kebijakan publik. Terlalu banyak program diperkenalkan dengan panggung yang megah, sementara pengawasan, transparansi, dan evaluasi keberhasilannya justru tertinggal di belakang. Yang lebih dahulu diperebutkan bukan manfaatnya bagi masyarakat, melainkan siapa yang paling berhak mengklaim keberhasilannya.
Ketika keberhasilan lebih sibuk dipasarkan daripada dipertanggungjawabkan, rakyat kembali menjadi penonton dalam pertunjukan yang dibiayai atas nama kepentingan mereka sendiri. Pelayanan bergeser menjadi komoditas komunikasi politik. Yang dipoles bukan kualitas kebijakan, melainkan cara kebijakan itu dipasarkan. Narasi lebih dihargai daripada hasil.
Baca juga: CNN: Dua Wajah Trump, Ancam Iran di Depan Publik, Negosiasi di Balik Layar
Di situlah politik mulai kehilangan martabatnya. Kekuasaan tidak lagi diukur dari kemampuannya mengurangi penderitaan, melainkan dari kepiawaiannya mengelola persepsi. Rakyat berhenti diperlakukan sebagai tujuan. Mereka berubah menjadi properti yang dipajang ketika simpati dibutuhkan, lalu disingkirkan kembali setelah tepuk tangan mereda.
Barangkali itulah industri politik yang paling menguntungkan. Penderitaan tidak perlu diselesaikan, cukup dipelihara agar selalu tersedia setiap kali simpati dibutuhkan. Sebab ketika rakyat hanya diposisikan sebagai latar panggung, politik berhenti menjadi jalan melayani kehidupan bersama dan berubah menjadi seni mengelola citra di atas penderitaan orang lain. []
Baca juga: Invasi Darat ke Iran Akan Menenggelamkan AS dalam Rawa Perang







