Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

CBS Publikasikan Wawancara Pilot AS Enam Bulan Setelah Jatuh di Iran

Published

on

CBS menayangkan wawancara dengan pilot pesawat tempur AS yang diklaim jatuh di Iran sekitar enam bulan setelah peristiwa tersebut.
CBS menayangkan wawancara dengan pilot pesawat tempur AS yang diklaim jatuh di Iran sekitar enam bulan setelah peristiwa tersebut.

Media ABI, 15 September 2026 – Setelah tertunda sekitar enam bulan, CBS mempublikasikan wawancara dengan seorang pilot pesawat tempur Amerika Serikat yang diklaim berada di Iran. Selain kisah penyelamatan yang dinilai janggal, waktu publikasi wawancara tersebut juga dinilai memiliki dua kemungkinan kepentingan bagi Amerika Serikat dan Donald Trump.

Fars News Agency dalam laporan yang diterbitkan Selasa (15/9/2026) mengajak melihat kembali rangkaian peristiwa pada puncak perang 40 hari, bukan hanya cerita mengenai penyelamatan seorang pilot.

Selama perang 40 hari tersebut, Iran mengklaim menargetkan sejumlah pesawat tempur Amerika dari berbagai jenis, termasuk F-15, F-35 dan A-10. Klaim itu muncul ketika Washington menyatakan telah menghancurkan pertahanan udara Iran dan menguasai wilayah udara negara tersebut.

Baca juga: Komandan CENTCOM Bertemu MBS Saat Riyadh Minta AS Serang Yaman

Dalam salah satu insiden selama perang, muncul laporan mengenai jatuhnya dua pilot Amerika di Iran. Amerika Serikat kemudian mengklaim melancarkan dua operasi untuk menyelamatkan dan membawa kedua pilot tersebut keluar dari Iran. Salah satunya dikenal sebagai Tabas 2.

Dalam operasi tersebut, lebih dari delapan pesawat Amerika Serikat disebut hancur. Sejumlah analis menggambarkan peristiwa itu dengan kalimat, “Amerika kehilangan satu skuadron untuk menyelamatkan seorang pilot.”

Sekitar enam bulan setelah peristiwa tersebut, CBS menayangkan wawancara itu dalam sebuah film dokumenter. Berdasarkan laporan sejumlah sumber Amerika, publikasi wawancara sempat menghadapi keberatan dan pertimbangan keamanan. Wawancara tersebut disebut akhirnya dipublikasikan setelah adanya tekanan dari Pete Hegseth, Menteri Perang Amerika Serikat.

Salah satu bagian yang paling banyak diperdebatkan adalah pengakuan pilot tersebut mengenai saat pesawatnya jatuh. Dia mengatakan dirinya jatuh dengan kecepatan antara 110 hingga 160 kilometer per jam. Setelah mengalami cedera pada bagian punggung, dia mengaku masih mampu melarikan diri hingga mencapai ketinggian 7.000 kaki.

Cerita tersebut kemudian mendapat kritik. BBC Persian melaporkan bahwa penayangan kisah pilot Amerika itu mendapat kritik dari sejumlah media Amerika Serikat. Di platform X, sejumlah pengguna juga menilai wawancara tersebut sebagai upaya Pentagon untuk “memperbaiki narasi perang yang sangat tidak populer” Amerika Serikat dengan Iran.

Publikasi wawancara itu berlangsung ketika tekanan terhadap Trump di dalam negeri juga meningkat.

CNN melaporkan 73 persen warga dewasa Amerika Serikat menilai Trump tidak memberikan perhatian terhadap persoalan negara mereka. Sebanyak 67 persen responden menilai keputusan militer Trump di Iran “telah merugikan Amerika Serikat”.

Baca juga: Pakar Militer AS: Perang Iran Meruntuhkan Ilusi Amerika Tak Terkalahkan

Dalam jajak pendapat yang sama, 74 persen warga Amerika menilai Trump tidak memiliki rencana yang jelas untuk mengelola perang. Angka itu meningkat dari 67 persen pada bulan kedua perang.

Tekanan juga terlihat dari persoalan harga bahan bakar. Sebanyak 74 persen warga Amerika mengatakan kenaikan harga bensin telah menimbulkan kesulitan bagi mereka. Angka tersebut sebelumnya berada di 63 persen pada Maret.

Sejumlah analis Amerika menyoroti situasi tersebut dengan satu kalimat, “Trump berusaha membuka kembali sebuah selat yang sebelum perang sebenarnya sudah terbuka.”

Di tengah tekanan politik dan ekonomi tersebut, laporan Fars juga menyebut kerugian material dan korban manusia Amerika Serikat meningkat akibat pendekatan Iran yang lebih agresif. Dalam salah satu serangan terbaru di Yordania, sedikitnya dua tentara Amerika dilaporkan tewas.

Dua alasan di balik waktu publikasi

Fars News Agency menilai bahwa sekalipun diasumsikan Amerika Serikat memang berhasil menyelamatkan pilot tersebut dan narasumber CBS benar-benar merupakan pilot yang dimaksud, keseluruhan rangkaian peristiwa tetap memperlihatkan gambaran yang berbeda dari narasi keberhasilan Washington.

Pesawat tempur jatuh di wilayah Iran, operasi penyelamatan dilakukan dan lebih dari delapan pesawat Amerika Serikat disebut hancur dalam operasi tersebut. Semua itu berlangsung ketika Washington sebelumnya mengklaim telah menghancurkan pertahanan udara Iran dan menguasai wilayah udaranya.

Menurut Fars, ada dua kemungkinan yang menjelaskan mengapa wawancara tersebut baru dipublikasikan sekitar enam bulan setelah peristiwa.

Baca juga: Riyadh Makin Terjepit, AS Tak Lagi Bisa Diandalkan

Pertama, Amerika Serikat disebut semakin mendekati masa pemilihan umum. Dukungan terhadap Trump diklaim menurun bukan hanya di kalangan Demokrat, tetapi juga di basis utama Partai Republik. Dalam kondisi tersebut, kisah seorang pilot Amerika yang selamat dapat digunakan untuk membangun kembali citra Trump.

Pilot yang kemudian ditampilkan dalam narasi kepahlawanan itu disebut menerbangkan pesawat tempur canggih yang jatuh akibat pertahanan udara Iran, sistem yang sebelumnya diklaim Trump telah dihancurkan.

Kedua, media Amerika disebut memanfaatkan berlalunya waktu. Setelah enam bulan dan berbagai peristiwa baru yang berlangsung cepat, gambaran mengenai kekalahan perang berpotensi memudar dari ingatan publik.

Dengan menghadirkan kembali kisah tersebut melalui sosok pilot dan pengalaman penyelamatannya, perhatian publik dapat bergeser kepada cerita heroik, sementara gambaran mengenai kegagalan utama dalam perang semakin jauh dari ingatan. []

Baca juga: Penulis AS: Pengaruh Washington di Timur Tengah Runtuh