Ikuti Kami Di Medsos

Opini

The Atlantic: Trump Kehabisan Waktu Membuka Selat Hormuz

Published

on

The Atlantic menilai Donald Trump tidak mampu memaksa Iran membuka Selat Hormuz, sementara Washington menghadapi kebuntuan strategis yang kian kompleks.
The Atlantic menilai Donald Trump tidak mampu memaksa Iran membuka Selat Hormuz, sementara Washington menghadapi kebuntuan strategis yang kian kompleks.

Ahlulbait Indonesia, 27 Juli 2026 – Majalah Amerika Serikat The Atlantic dalam artikel berjudul “The Ticking Clock on the Strait of Hormuz“, yang ditulis Thomas Wright dan diterbitkan pada Sabtu (25/7), menilai Presiden Donald Trump tidak mampu memaksa Iran membuka Selat Hormuz melalui kekuatan militer. Menurut majalah tersebut, Washington kini menghadapi kebuntuan strategis yang semakin sulit diatasi.

Dalam analisisnya, The Atlantic menyebut Trump sebelumnya telah menyadari bahwa operasi militer tidak akan mampu memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz secara normal. Kesadaran itu menjadi salah satu faktor yang mendorong tercapainya gencatan senjata, sebab kelanjutan operasi militer dinilai tidak akan membuka kembali jalur pelayaran tersebut, melainkan justru meningkatkan risiko gangguan terhadap perdagangan energi global.

Baca juga: CNN: Dua Wajah Trump, Ancam Iran di Depan Publik, Negosiasi di Balik Layar

Sementara itu, mengutip laporan Tasnim, Amerika Serikat kemudian kembali meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dengan menargetkan sejumlah fasilitas dan infrastruktur. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, menyerang sejumlah fasilitas energi, serta meningkatkan tekanan terhadap pelayaran komersial di dalam maupun sekitar Selat Hormuz.

The Atlantic menilai keputusan Trump melanjutkan operasi militer justru membawanya kembali pada persoalan yang sebelumnya telah diakui sendiri, yakni bahwa kekuatan militer tidak cukup untuk memaksa Iran melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz. Akibatnya, Washington kembali menghadapi kebuntuan yang belum memiliki jalan keluar yang jelas.

Menurut artikel tersebut, runtuhnya kesepahaman antara Washington dan Teheran tidak hanya dipicu oleh meningkatnya konfrontasi militer, tetapi juga oleh perbedaan penafsiran mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Pemerintah Amerika Serikat menghendaki pelayaran internasional berlangsung bebas tanpa hambatan, sedangkan Iran tetap menegaskan haknya untuk mengatur dan mengendalikan navigasi di jalur strategis tersebut.

Baca juga: New York Times Ungkap Alasan Trump “Menunda” Eskalasi Serangan terhadap Iran

Thomas Wright juga menilai pilihan yang dimiliki Trump semakin menyempit. Meskipun Washington telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan, berbagai opsi yang tersedia tetap menghadapi kendala operasional dan risiko eskalasi yang tinggi. Serangan tambahan pun diperkirakan tidak serta-merta memulihkan kepercayaan perusahaan pelayaran internasional untuk kembali melintasi Selat Hormuz.

Lebih jauh, The Atlantic memperingatkan bahwa krisis di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Menurunnya cadangan energi strategis, melemahnya kemampuan pasar global menyerap guncangan pasokan, serta meningkatnya premi risiko pelayaran membuat setiap eskalasi baru berpotensi memicu lonjakan harga energi dan tekanan inflasi dunia.

Baca juga: IRGC: Iran Hancurkan 11 Pesawat Militer AS di Pangkalan Regional

Di sisi lain, Iran dinilai berupaya mempertahankan tekanan terhadap Amerika Serikat sembari menjaga konflik tetap berada dalam batas yang dapat dikendalikan. Strategi tersebut memungkinkan Teheran mempertahankan posisi tawarnya tanpa memperluas perang secara terbuka.

Menutup analisisnya, The Atlantic menyimpulkan bahwa Trump tidak mampu memaksa Iran menghentikan upayanya mengendalikan Selat Hormuz. Dalam kebuntuan strategis tersebut, Washington dihadapkan pada tiga pilihan yang sama-sama berat: menanggung biaya ekonomi perang berkepanjangan, memperluas eskalasi dengan seluruh risikonya, atau menempuh penyelesaian politik melalui jalur diplomasi. []

Baca juga: Wall Street Journal: Trump Marah dan Frustrasi Hadapi Iran