Internasional
IRGC Pamerkan Bangkai Drone dan F-15 AS, Bukti Keberhasilan Pertahanan Udara Iran

Ahlulbait Indonesia, 14 Agustus 2026 — Rincian mengenai sejumlah pesawat nirawak dan pesawat tempur Amerika Serikat serta Israel yang diklaim ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC selama perang 40 hari kembali dipublikasikan.
Menurut Fars News Agency pada Jumat (14/8/2026), sebagian bangkai pesawat yang diklaim berhasil ditangkap atau ditembak jatuh kini diperlihatkan di salah satu pangkalan bawah tanah pertahanan udara Pasukan Dirgantara IRGC. Pangkalan yang berada di bawah pengamanan ketat itu untuk pertama kalinya menampilkan sebagian hasil operasi pertahanan udara IRGC dalam mendeteksi dan menghancurkan drone Amerika Serikat dan Israel selama apa yang disebut Iran sebagai perang ketiga yang dipaksakan terhadap negara itu.
Sebelumnya, Taman Nasional Dirgantara Iran menjadi lokasi pameran sejumlah drone Amerika Serikat yang diklaim berhasil ditangkap, termasuk MQ-4 Global Hawk, MQ-1, dan RQ-170. Kali ini, koleksi lain diperlihatkan di fasilitas bawah tanah yang menjadi bagian dari jaringan pertahanan udara IRGC.
Baca juga: Iran Peringatkan al-Jolani: Jangan Sentuh Hizbullah!
Di dalam fasilitas tersebut terlihat bagian penting dari sejumlah drone canggih, termasuk MQ-9, Hermes 900, dan Hermes 450. Peralatan serta komponen teknis MQ-9 juga dipamerkan di salah satu bagian ruangan.
Menurut pejabat pertahanan udara IRGC, sejumlah drone itu memiliki sedikitnya empat metode untuk menghindari deteksi dan intersepsi sistem pertahanan udara. Namun, sistem pertahanan udara Iran diklaim mampu mendeteksi, melacak, dan menjatuhkan pesawat nirawak tersebut.
Produksi Sistem Pertahanan Udara Disebut Tetap Berjalan
Seorang perwira senior pertahanan udara IRGC mengatakan lebih dari 85 persen infrastruktur produksi sistem pertahanan udara yang dikembangkan melalui unit-unit swasembada Pasukan Dirgantara IRGC tetap dipertahankan.
Menurutnya, produksi dan pengiriman sistem pertahanan udara tidak mengalami gangguan dan pengembangan sistem baru terus berlangsung. Tingkat produksi sejumlah peralatan dan rudal yang dinilai efektif selama perang juga disebut meningkat dibandingkan sebelum perang.
Pengiriman peralatan kepada unit-unit operasional juga diklaim meningkat. Pengembangan sistem pertahanan udara baru, menurut pejabat tersebut, tetap menjadi bagian dari agenda Pasukan Dirgantara IRGC.
Wakil Kepala Hubungan Masyarakat Pasukan Dirgantara IRGC, Hojjatoleslam Ali Naderi, mengatakan sistem baru harus mampu mendeteksi dan menghadapi sasaran sekaligus dirancang agar sulit dideteksi dan diserang oleh lawan.
Baca juga: Iran: Jika Serangan terhadap Infrastruktur Sipil Hal Biasa, Tak Ada Negara yang Aman

Bangkai F-15 Dipamerkan di Pangkalan Bawah Tanah
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah bangkai sebuah pesawat tempur F-15 yang menurut keterangan IRGC ditembak jatuh pada 14 Farvardin atau sekitar awal April oleh pertahanan udara Pasukan Dirgantara IRGC.
Perwira pertahanan udara IRGC yang memberikan penjelasan mengenai pesawat itu mengatakan F-15 tersebut terkena rudal dari sistem pertahanan udara baru dengan menggunakan taktik operasional yang dikembangkan di dalam negeri.
Menurutnya, kombinasi antara sistem pertahanan dan taktik operasional memungkinkan pasukan Iran menghadapi salah satu pesawat tempur canggih yang digunakan lawan.
Bekas hantaman rudal dan serpihan akibat ledakan terlihat pada bangkai pesawat. Bagian saluran masuk udara juga mengalami kerusakan akibat benturan dan ledakan.
Perwira tersebut mengatakan pilot F-15 baru menyadari adanya ancaman beberapa detik sebelum rudal menghantam pesawat sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk menggunakan langkah-langkah penanggulangan terhadap sistem pertahanan udara.
Dia menyebut kondisi itu sebagai salah satu indikator kinerja sistem pertahanan udara baru yang bekerja di luar pola klasik dalam menghadapi sasaran udara.
Rincian Drone MQ-9 Amerika Serikat

Sebuah MQ-9 Amerika Serikat dengan nomor seri 261 juga dipamerkan di dalam pangkalan. Drone strategis multiguna itu memiliki kemampuan menjalankan misi pengintaian dan operasi tempur.
Menurut pejabat pertahanan udara IRGC, MQ-9 memiliki berat sekitar lima ton dan panjang 20 meter. Dengan ukuran besar dan bentang sayap yang lebar, drone tersebut termasuk salah satu pesawat nirawak penting dan multiguna milik militer Amerika Serikat.
MQ-9 dapat digunakan untuk pengintaian, pengumpulan informasi, dan misi tempur. Pejabat tersebut mengatakan melumpuhkan pesawat nirawak strategis semacam itu menjadi salah satu operasi penting pertahanan udara Iran selama perang.
Logo Angkatan Udara Amerika Serikat juga masih terlihat pada bagian bangkai drone yang mengalami kerusakan saat pesawat tersebut dihancurkan.
Baca juga: CIA Pun Ragukan Intelijen Israel soal Ancaman Iran terhadap Trump

Peralatan Starlink di Antara Barang Sitaan
Pangkalan itu juga menampilkan beberapa jenis peralatan dan modem yang berkaitan dengan Starlink.
Menurut penjelasan yang diberikan, perangkat tersebut digunakan untuk komunikasi dan transfer data serta dapat meningkatkan kecepatan pengiriman data dibandingkan sejumlah lapisan komunikasi sebelumnya. Jaringan komunikasi semacam itu juga dapat digunakan untuk mengendalikan drone dan bertukar informasi di antara pesawat nirawak.
Namun, terkait perang 12 hari, pejabat Iran menegaskan tidak satu pun perangkat Starlink dipasang pada drone yang digunakan pihak lawan. Menurut keterangan tersebut, misi drone dan operasi untuk menghancurkan sasaran taktis maupun tempur berlangsung tanpa menggunakan perangkat Starlink.

Hanya Sebagian dari Pesawat yang Diklaim Ditembak Jatuh
Di bagian lain pangkalan bawah tanah itu tersimpan bangkai sejumlah pesawat yang ditembak jatuh. Namun, pejabat pertahanan udara IRGC menegaskan bahwa seluruh bangkai yang dipamerkan bukan merupakan keseluruhan pesawat yang berhasil diserang atau dihancurkan selama perang.
Menurut penjelasan yang diberikan, jaringan pertahanan udara terintegrasi Iran selama perang yang disebut sebagai perang ketiga yang dipaksakan tidak hanya menghadapi drone. Pesawat berawak dan rudal jelajah juga menjadi sasaran operasi pertahanan udara.
Sebanyak 10 pesawat berawak disebut terkena serangan, sementara sejumlah besar drone dan rudal jelajah juga terlibat dalam pertempuran dengan jaringan pertahanan udara terintegrasi Iran.
Pejabat pertahanan udara IRGC menyebut total 171 pesawat telah terkena serangan. Angka itu tidak menunjukkan jumlah bangkai yang dipamerkan di pangkalan tersebut. Menurut pejabat IRGC, koleksi yang ditampilkan hanya merupakan sebagian dari pesawat yang diklaim berhasil dijatuhkan oleh pertahanan udara Pasukan Dirgantara IRGC. []
Baca juga: Irak Tetapkan 30 September sebagai Batas Final Penarikan Pasukan AS







