Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

DPR AS untuk Ketiga Kalinya Dorong Akhiri Perang Iran

Published

on

Gedung Capitol Amerika Serikat, tempat DPR AS untuk ketiga kalinya memberikan suara terkait upaya mengakhiri perang dengan Iran.
Gedung Capitol Amerika Serikat, tempat DPR AS untuk ketiga kalinya memberikan suara terkait upaya mengakhiri perang dengan Iran.

Media ABI, 16 September 2026 – Untuk ketiga kalinya, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat memberikan suara yang mendorong penghentian perang dengan Iran. Dalam pemungutan suara Selasa malam, resolusi mengenai kewenangan perang disahkan dengan 220 suara berbanding 204.

Menurut laporan Associated Press yang dikutip Tasnim News Agency pada Rabu (16/9/26), seluruh anggota Demokrat mendukung resolusi tersebut. Kali ini tujuh anggota Partai Republik ikut bergabung, bertambah dari empat anggota Republik yang sebelumnya mendukung upaya serupa.

Baca juga: Foto dari Pangkalan AS di Arab Saudi Perlihatkan E-3 Sentry Rusak

Resolusi itu pada intinya membatasi tindakan militer Presiden Donald Trump terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres. Namun, seperti dua upaya sebelumnya, keputusan tersebut belum sampai ke meja presiden. Trump hampir dipastikan akan menggunakan hak veto jika resolusi itu benar-benar diajukan kepadanya.

Seth Moulton, anggota DPR dari Partai Demokrat yang mewakili Massachusetts dan pernah bertugas sebagai marinir dalam Perang Irak, termasuk salah satu anggota yang mendorong resolusi tersebut. Ia mengingatkan kembali janji Trump bahwa perang hanya akan berlangsung beberapa pekan.

Menurut Moulton, Kongres memiliki kewajiban konstitusional untuk mempertanyakan keputusan pemerintah ketika Amerika Serikat terus terlibat dalam perang.

Pemungutan suara kali ini berlangsung menjelang anggota Kongres meninggalkan Washington dan kembali ke daerah pemilihan masing-masing untuk menghadapi pemilu paruh waktu. Kurang dari 50 hari tersisa sebelum pemilu yang akan menentukan kendali atas Kongres.

Perang yang dimulai Trump pada 28 Februari telah berlangsung hampir tujuh bulan. Selama periode itu, kawasan mengalami rangkaian serangan rudal dan konflik bersenjata yang turut mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Baca juga: Ansarullah Bantah Tuduhan Saudi soal Drone Sasar Makkah

Dampaknya ikut dirasakan di dalam negeri Amerika. Harga bahan bakar menjadi salah satu persoalan yang dihadapi warga, sementara biaya perang terus bertambah.

Kantor Anggaran Kongres menyatakan pada Selasa bahwa biaya perang hingga 1 Agustus telah melampaui 38 miliar dolar AS. Pengeluaran tersebut diperkirakan bertambah sekitar 2 hingga 3 miliar dolar AS setiap bulan, tergantung pada intensitas konflik. Kantor itu juga memperkirakan perang akan membuat inflasi menjelang 2027 sekitar 0,5 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Perkembangan tersebut menambah tekanan politik terhadap Partai Republik yang saat ini menguasai DPR dan Senat. Trump sebelumnya berjanji tidak akan membawa Amerika Serikat ke dalam perang luar negeri jika kembali terpilih untuk masa jabatan kedua.

Survei Associated Press dan NORC pada Juli juga menunjukkan mayoritas warga Amerika yang disurvei menilai perang dengan Iran tidak sepadan dengan pengorbanan yang dikeluarkan.

Perubahan dukungan di internal Partai Republik terlihat dalam pemungutan suara terbaru. Dari empat anggota Republik yang sebelumnya mendukung penghentian perang, jumlahnya menjadi tujuh dalam pemungutan suara Selasa. Di antara mereka terdapat anggota Republik dari Iowa, salah satu negara bagian yang menjadi arena persaingan dalam pemilu mendatang. []

Baca juga: Riyadh Makin Terjepit, AS Tak Lagi Bisa Diandalkan