Opini
Oleh-Oleh dari Banjaran: Dari Pelatihan Jurnalistik dan Kehumasan Menuju Gerakan Tabyin

Oleh: M. Haidar
Ahlulbait Indonesia, 17 Juni 2026 — Saya datang ke Pelatihan Jurnalistik dan Kehumasan yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Jawa Barat di Banjaran, Kabupaten Bandung, pada 13–14 Juni 2026, dengan pemahaman yang selama ini saya anggap sudah cukup tentang fungsi penulisan dan kehumasan dalam organisasi. Dalam bayangan saya, Humas berkaitan dengan publikasi kegiatan, dokumentasi, pengelolaan media sosial, pembuatan berita, serta penyampaian informasi kepada masyarakat.
Dua hari mengikuti pelatihan membuat pandangan tersebut berubah. Berbagai materi, diskusi, simulasi dan percakapan selama kegiatan menunjukkan bahwa Humas, Media, dan Penerangan (HMP) memiliki peran yang jauh lebih luas dan strategis daripada yang selama ini saya bayangkan.
Baca juga: Jihad Tabyin Menuntut Kolaborasi Media Islam
Pelatihan yang diikuti peserta dari berbagai DPD ABI se-Jawa Barat, Muslimah ABI, dan Pandu memang membahas keterampilan jurnalistik seperti penulisan berita, wawancara, fotografi, dan pengelolaan media. Namun, pelajaran yang paling membekas bagi saya bukan aspek teknis-teknis tersebut. Yang paling berkesan justru pemahaman tentang posisi komunikasi dalam kehidupan organisasi.
Selama ini komunikasi sering dipandang sebagai sarana untuk menyampaikan kegiatan yang telah dilakukan oleh divisi atau departeman. Tapi melalui pelatihan ini, saya mulai memahami bahwa komunikasi merupakan bagian dari kerja organisasi itu sendiri. Komunikasi hadir sejak sebuah gagasan dirumuskan, ketika program dijalankan, hingga saat manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
Dalam salah satu sambutannya, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Ustadz Ahmad Hidayat, menjelaskan bahwa organisasi dibangun oleh ideologi, komitmen, dan kerja sama yang diwujudkan melalui sistem yang disepakati bersama.
Dari penjelasan tersebut saya menangkap satu hal penting. Bahwa organisasi tidak cukup hanya memiliki gagasan yang baik. Organisasi juga harus mampu menjelaskan gagasan tersebut kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.
Di titik inilah saya mulai melihat fungsi HMP dalam perspektif yang berbeda. HMP bukan hanya saluran informasi. HMP menghubungkan organisasi dengan masyarakat. HMP menerjemahkan kebijakan menjadi pesan yang mudah dipahami publik. HMP menjaga kepercayaan yang dibangun melalui pelayanan dan pengabdian. HMP juga membantu organisasi membaca perubahan sosial, memahami aspirasi masyarakat, dan menangkap berbagai persoalan yang berkembang di ruang publik.
Pemahaman tersebut menjelaskan mengapa HMP tidak dapat ditempatkan sebagai pelengkap organisasi. Keberadaan HMP turut menentukan apakah nilai-nilai yang diperjuangkan organisasi dapat dipahami, diterima, dan dipercaya oleh masyarakat.
Baca juga: Media, Internet, dan Tanggung Jawab Dakwah di Era Digital
Pembahasan mengenai dokumentasi memberikan kesan yang tidak kalah mendalam. Ustadz Muhlisin Turkan mengingatkan bahwa banyak kegiatan organisasi berjalan dengan baik, tetapi jejaknya hilang karena tidak ditulis dan tidak terdokumentasikan dengan baik.
Bagi saya, bagian ini terasa sangat relevan. Tidak sedikit kegiatan yang selesai dilaksanakan dengan baik, tetapi manfaat dan pelajarannya sulit diwariskan karena tidak tercatat dengan baik.
Padahal, pengalaman organisasi merupakan aset yang sangat berharga. Pengalaman melahirkan pelajaran. Pelajaran melahirkan pengetahuan. Pengetahuan kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Seluruh proses tersebut membutuhkan dokumentasi.
Dari pembahasan tersebut saya mulai melihat hubungan yang erat antara jurnalistik, dokumentasi, dan Jihad Tabyin yang selama ini menjadi bagian penting dari gerakan ABI.
Sebelumnya saya memahami tabyin sebagai upaya meluruskan informasi yang salah atau menjawab tuduhan yang tidak benar. Pelatihan ini membantu saya melihat makna yang lebih luas.
Tabyin adalah menghadirkan kejelasan ketika ruang publik dipenuhi spekulasi, prasangka, dan informasi yang terpotong-potong. Tabyin menghadirkan penjelasan yang utuh ketika masyarakat membutuhkan pemahaman yang jernih. Tabyin bukan hanya soal menjawab kesalahpahaman, tetapi juga menghadirkan pemahaman yang benar sejak awal.
Pemahaman ini terasa semakin relevan di tengah arus informasi digital yang bergerak sangat cepat. Dalam banyak keadaan, opini menyebar lebih cepat daripada fakta. Persepsi terbentuk sebelum proses verifikasi dilakukan. Pada situasi seperti ini, organisasi masyarakat membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik agar dapat menjadi sumber informasi yang dipercaya.
Karena itu, pelatihan jurnalistik dan kehumasan di Banjaran sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada keterampilan menulis berita atau membuat publikasi. Pelatihan ini memperkenalkan cara pandang tentang bagaimana organisasi membangun hubungan dengan masyarakat, menjaga kepercayaan, mendokumentasikan pengalaman, serta menghadirkan informasi yang bertanggung jawab.
Tulisan ini merupakan refleksi atas pemahaman yang saya peroleh selama mengikuti pelatihan tersebut. Refleksi seorang peserta yang datang dengan bayangan sederhana tentang fungsi Humas, lalu pulang dengan pemahaman yang berbeda tentang peran komunikasi dalam kehidupan organisasi.
Baca juga: Ini Era Perlawanan: Ingatan Jadi Pilar, Etos Jadi Tenaga, Narasi Jadi Medan Tempur
Pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Banjaran adalah bahwa organisasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang bekerja. Organisasi juga membutuhkan orang-orang yang mampu merekam, menjelaskan, dan menyampaikan makna dari pekerjaan tersebut kepada masyarakat.
Program dapat selesai dilaksanakan. Kegiatan dapat berakhir. Namun gagasan, nilai, dan manfaat yang diwariskan kepada masyarakat akan bertahan lebih lama ketika didokumentasikan dengan baik dan dikomunikasikan secara bertanggung jawab.
Barangkali karena alasan itulah jurnalistik dan kehumasan mendapat perhatian yang begitu besar dalam ABI. Keduanya tidak hanya berkaitan dengan publikasi, tetapi juga dengan upaya menjaga kepercayaan, merawat nilai, memperkuat khidmat kepada masyarakat, serta memastikan pesan-pesan organisasi tetap hidup dan terus memberi manfaat melampaui sebuah kegiatan.
Pemahaman tersebut mungkin tidak akan saya peroleh tanpa kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini. Karena itu, saya menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Ketua DPD ABI Kota Bekasi, Ustadz Elyas, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengikuti pelatihan ini, serta kepada para pemateri dari DPP ABI, Ustadz Muhlisin Turkan dan Pak (Billy) Luthfi Basori, yang telah berbagi pengalaman, wawasan, dan dedikasi selama pelatihan berlangsung. []











