Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Membaca Framing Media atas Pemakaman Syahid Imam Ali Khamenei

Published

on

Lautan pelayat memenuhi Boulevard Payambar-e A'zam di Kota Qom hingga membentang ke cakrawala, mengiringi prosesi pemakaman Syahid Imam Ali Khamenei dari Masjid Suci Jamkaran menuju Makam Sayidah Fatimah Maksumah.
Lautan pelayat memenuhi Boulevard Payambar-e A'zam di Kota Qom hingga membentang ke cakrawala, mengiringi prosesi pemakaman Syahid Imam Ali Khamenei dari Masjid Suci Jamkaran menuju Makam Sayidah Fatimah Maksumah. (Dok. Farsnews Agency)

Pilihan editorial dan cara publik memahami diplomasi, politik, serta makna sebuah peristiwa global.

Oleh: M. Haidar

Ahlulbait Indonesia, 8 Juli 2026 – Setiap peristiwa besar melahirkan beragam cara pandang. Demikian pula Pemakaman Akbar Syahid Ayatullah Ali Khamenei. Berbagai media nasional dan internasional memberitakan peristiwa yang sama dengan penekanan yang berbeda. Sebagian menyoroti jutaan pelayat yang memadati jalan-jalan Teheran, sebagian lain menekankan kehadiran delegasi dari berbagai negara, sementara media lainnya memilih membahas implikasi politik dan keamanan pascawafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.

Perbedaan tersebut merupakan konsekuensi yang wajar dalam praktik jurnalistik. Tidak ada media yang mampu menghadirkan seluruh dimensi sebuah peristiwa secara bersamaan. Setiap redaksi menentukan fakta yang dianggap paling bernilai bagi pembacanya. Karena itu, yang menarik bukan hanya fakta yang diberitakan, melainkan juga bagaimana fakta dipilih, disusun, dan diberi makna.

Dalam kajian komunikasi massa, proses ini dikenal sebagai framing. Sebagaimana dijelaskan Robert M. Entman, media tidak hanya memilih fakta, tetapi juga menentukan aspek yang dibuat paling menonjol sehingga memengaruhi cara publik memahami suatu peristiwa. Framing bekerja melalui empat fungsi, yakni mendefinisikan persoalan, mengidentifikasi penyebab, memberikan penilaian, dan secara implisit mengarahkan cara memandang penyelesaiannya. Dengan demikian, perdebatan mengenai sebuah pemberitaan tidak berhenti pada benar atau salahnya fakta, tetapi juga pada bagaimana fakta tersebut dikonstruksi menjadi sebuah narasi.

Baca juga: Masjid Jamkaran: Fajar Tatanan Dunia Baru

Dalam konteks itu, laporan Kompas berjudul “Pemakaman Akbar Ayatollah Khamenei dan Bayang-bayang Insiden 1989″ karya Gregorius Magnus Finesso yang terbit pada 4 Juli 2026 menarik dijadikan bahan diskusi. Sejak judul, perhatian pembaca diarahkan pada insiden yang terjadi saat pemakaman Imam Khomeini pada 1989 serta kesiapan aparat keamanan Iran mengantisipasi potensi gangguan. Pilihan tersebut sepenuhnya merupakan hak editorial sebuah media. Namun, justru karena merupakan keputusan editorial, ia layak dikaji sebagai contoh bagaimana framing bekerja dalam praktik jurnalistik.

Jika menggunakan kerangka Entman, pemberitaan tersebut membingkai peristiwa pemakaman terutama melalui perspektif keamanan. Sudut pandang ini tidak berarti keliru. Namun, ketika satu dimensi memperoleh ruang yang dominan, dimensi lain yang tidak kalah penting menjadi kurang terlihat. Dalam konteks ini, diplomasi, komunikasi simbolik antarnegara, dan makna geopolitik dari kehadiran berbagai delegasi internasional tidak memperoleh ruang yang sepadan.

Padahal, kehadiran delegasi dari puluhan negara merupakan salah satu aspek paling penting dari peristiwa tersebut. Dalam hubungan internasional, kehadiran kepala negara, menteri, duta besar, atau utusan resmi pada pemakaman seorang pemimpin bukan hanya semata penghormatan. Kehadiran itu merupakan bahasa diplomasi yang menyampaikan pesan mengenai kesinambungan hubungan bilateral, penghormatan terhadap posisi politik suatu negara, hingga sinyal mengenai arah hubungan di masa mendatang. Sebaliknya, tingkat representasi yang dipilih suatu negara juga mencerminkan pertimbangan diplomatik tertentu.

Dari sudut pandang jurnalistik, pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya berapa banyak delegasi yang hadir, tetapi mengapa mereka hadir, siapa yang diutus, dan pesan apa yang hendak disampaikan melalui kehadiran tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu membuka ruang analisis yang jauh lebih luas daripada hanya membahas aspek teknis pengamanan.

Dimensi lain yang tidak kalah menarik ialah kehadiran sejumlah ulama Ahlus Sunnah dalam prosesi penghormatan. Peristiwa ini dapat dibaca sebagai simbol komunikasi lintas mazhab sekaligus ikhtiar memperkuat persatuan umat Islam di tengah keragaman pandangan politik dan keagamaan. Nilai jurnalistiknya terletak pada kemampuannya memperlihatkan bahwa sebuah peristiwa kenegaraan juga dapat menjadi ruang dialog dan komunikasi antarumat.

Baca juga: Kata Pengamat Soal Indonesia “Hanya” Menugaskan Dubes RI Hadiri Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei

Tidak kalah penting ialah mencermati perbedaan tingkat representasi yang dipilih berbagai negara. Sebagian mengirim kepala negara, sebagian mengutus menteri atau pejabat tinggi, sementara yang lain diwakili oleh duta besar. Dalam diplomasi, perbedaan tingkat kehadiran tidak hanya persoalan protokol, melainkan juga penyampaian pesan politik. Karena itu, siapa yang diutus menjadi salah satu indikator bagaimana suatu negara memandang arti strategis sebuah peristiwa.

Dalam konteks itu, keputusan Indonesia diwakili oleh Duta Besar Republik Indonesia di Teheran patut dicermati. Secara prosedural, pilihan tersebut sepenuhnya sah. Namun, ketika banyak negara hadir melalui pejabat tingkat tinggi, muncul pertanyaan apakah diplomasi Indonesia telah memberikan bobot yang sepadan terhadap peristiwa yang menyita perhatian dunia. Pertanyaan ini bukan untuk mempersoalkan prosedur diplomatik, melainkan untuk menguji sejauh mana diplomasi Indonesia peka membaca makna politik di balik sebuah momentum internasional.

Konsep frame pertama kali diperkenalkan oleh Erving Goffman yang menjelaskan bahwa manusia memahami realitas melalui kerangka interpretasi tertentu. Dalam dunia jurnalistik, kerangka itu tercermin dalam keputusan redaksi mengenai fakta yang ditonjolkan, urutan penyajian informasi, dan konteks yang dibangun. Itulah sebabnya dua media dapat melaporkan peristiwa yang sama dengan data yang sama, tetapi menghasilkan pemahaman publik yang berbeda.

Diskusi mengenai pemberitaan Kompas bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pilihan editorialnya. Sebaliknya, diskusi ini mengingatkan bahwa setiap keputusan editorial membawa konsekuensi terhadap cara publik memaknai sebuah peristiwa. Semakin besar suatu peristiwa, semakin penting pula media menghadirkannya melalui perspektif yang kaya agar publik tidak hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami mengapa peristiwa itu memiliki arti.

Pada akhirnya, kualitas jurnalisme tidak hanya diukur dari akurasi fakta, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan konteks. Fakta memberi informasi, sedangkan konteks membentuk pemahaman. Di titik itulah framing menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerja jurnalistik. Ia bukan sarana mengaburkan realitas, melainkan cara menyusun realitas agar dapat dipahami. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya menjadi pembaca berita, tetapi juga perlu menjadi pembaca atas cara berita dibangun. []

Baca juga: Diplomasi Al-Qur’an: Membaca Pesan di Balik Pemilihan Ayat bagi Delegasi Asing