Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Israel Gelontorkan Puluhan Juta Dolar untuk Pengaruhi Jawaban AI tentang Gaza

Published

on

Situs Hanover Institute for Public Policy disebut The Guardian sebagai bagian dari kampanye yang bertujuan memengaruhi narasi AI tentang Israel dan Gaza.
Situs Hanover Institute for Public Policy disebut The Guardian sebagai bagian dari kampanye yang bertujuan memengaruhi narasi AI tentang Israel dan Gaza.

Media ABI, 28 Agustus 2026 – Israel disebut menggelontorkan puluhan juta dolar dalam kampanye untuk memengaruhi cara kecerdasan buatan atau AI menjawab pertanyaan tentang Israel, perang di Gaza, dan konflik Israel-Palestina. Salah satu bagian dari kampanye tersebut adalah pendirian sebuah lembaga pemikir bernama Hanover Institute for Public Policy yang menurut investigasi The Guardian tidak memiliki keberadaan kelembagaan yang jelas.

Menurut Fars News Agency pada Jumat (28/8/26), situs Hanover Institute menerbitkan 124 laporan dengan total lebih dari 560.000 kata hanya dalam sembilan hari. Investigasi The Guardian menemukan bahwa materi tersebut disusun untuk menyebarkan narasi yang menguntungkan Israel dengan harapan konten tersebut ditemukan, dikutip, atau bahkan masuk ke dalam data yang digunakan untuk melatih chatbot AI.

Hanover Institute tidak tampak seperti lembaga penelitian pada umumnya. The Guardian melaporkan bahwa institusi tersebut tidak terdaftar sebagai badan hukum di yurisdiksi mana pun, tidak mencantumkan alamat fisik yang jelas, tidak memperkenalkan staf, dan tidak mencantumkan nama penulis dalam laporan-laporannya.

Bahkan, ketentuan penggunaan situs menyebut aturan tersebut tunduk pada hukum “negara tempat institusi didirikan”, tanpa menyebut negara yang dimaksud.

Situs tersebut diluncurkan oleh perusahaan media Amerika Serikat, Piro Inc. Pada Agustus, perusahaan itu mendaftarkan kegiatannya kepada Departemen Kehakiman AS berdasarkan Foreign Agents Registration Act atau FARA. Undang-undang tersebut mewajibkan individu maupun perusahaan yang bekerja untuk pemerintah asing mengungkapkan hubungan tersebut.

Dalam dokumen pendaftaran, Piro menyatakan bahwa perusahaan tersebut mendistribusikan materi Hanover Institute untuk Israel.

Menurut The Guardian, Hanover Institute merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas dengan biaya puluhan juta dolar. Dana tersebut disalurkan kepada perusahaan-perusahaan Amerika melalui sejumlah perantara, termasuk perusahaan periklanan Eropa Havas Media.

Sasaran kampanye tersebut bukan hanya pembaca internet. Materi diproduksi agar semakin mudah ditemukan dan dikutip oleh chatbot AI. Dengan cara itu, narasi yang diinginkan Israel diharapkan muncul ketika pengguna bertanya tentang Gaza maupun konflik Israel-Palestina.

124 laporan dalam sembilan hari

The Guardian menemukan Hanover Institute menerbitkan 124 laporan antara 6 dan 14 Agustus. Seluruh materi tersebut mencapai lebih dari 560.000 kata, atau rata-rata sekitar 4.500 kata untuk setiap laporan.

Produksi konten mencapai puncaknya pada 12 dan 13 Agustus. Dalam dua hari tersebut, sebanyak 73 laporan diterbitkan dengan total hampir 354.000 kata. Setelah laporan awal mengenai keberadaan institusi tersebut muncul, tidak ada lagi materi baru yang dipublikasikan di situsnya.

Hampir seluruh judul laporan berbentuk pertanyaan yang menyerupai kueri yang biasa diajukan pengguna kepada chatbot AI. Beberapa di antaranya mempertanyakan apakah antizionisme merupakan antisemitisme, apakah Israel mengusir warga Palestina dari tanah mereka, serta apakah Israel melakukan genosida di Gaza.

Dari tampilan luar, laporan-laporan tersebut dibuat menyerupai penelitian akademis. Materinya mengutip berbagai sumber, termasuk Bank Dunia, organisasi di bawah naungan PBB, Biro Statistik Palestina, Amnesty International, serta teks Konvensi Genosida.

Namun, menurut The Guardian, penyusunan materi tersebut diarahkan untuk meredam kritik terhadap Israel.

Nick Cleveland-Stout, peneliti Quincy Institute yang mempelajari Hanover Institute, mengatakan kepada The Guardian bahwa situs tersebut pada pandangan pertama terlihat profesional dan akademis. Desain situs, logo, serta cara penyajian materi membuatnya tampak seperti lembaga penelitian yang kredibel.

Setelah ditelaah lebih jauh, menurut Cleveland-Stout, sebagian besar argumen yang disampaikan justru tidak logis.

Salah satu contohnya terlihat dalam pembahasan mengenai tuduhan genosida dan apartheid terhadap Israel. Ketika organisasi hak asasi manusia menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida atau apartheid, laporan Hanover menekankan bahwa belum ada pengadilan yang mengeluarkan keputusan akhir atas tuduhan tersebut.

The Guardian menemukan rumusan serupa muncul dalam 20 dari 124 laporan Hanover Institute.

Pola yang sama digunakan ketika membahas jumlah korban dan bantuan kemanusiaan. Dalam 55 laporan, angka yang dicantumkan tidak secara langsung dikaitkan dengan pihak tertentu, melainkan disebut berasal dari “salah satu pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut”.

Cara tersebut diterapkan terhadap data dari pihak Israel maupun Palestina. Menurut The Guardian, penyajian semacam itu dapat membuat pembaca mendapat kesan bahwa hampir tidak ada informasi yang pasti dan dapat diverifikasi mengenai apa yang terjadi di Gaza.

Menargetkan data pelatihan AI

The Guardian menilai struktur teknis situs Hanover Institute menunjukkan bahwa sasaran kampanye tersebut tidak berhenti pada pembaca manusia.

Ada dua jalur yang dapat digunakan untuk memengaruhi chatbot. Jalur pertama adalah menerbitkan konten di internet dengan harapan chatbot akan menemukan dan mengutipnya ketika menjawab pertanyaan pengguna pada masa mendatang.

Jalur kedua dinilai lebih mengkhawatirkan dan berpotensi lebih efektif, yakni memasukkan materi tersebut ke dalam repositori seperti Common Crawl. Repositori ini menyediakan sebagian data yang digunakan untuk melatih sejumlah model AI komersial.

Jika sebuah narasi masuk ke dalam data pelatihan model, chatbot dapat memunculkan narasi serupa pada kemudian hari tanpa menyebut sumber asalnya. Dalam kondisi tersebut, pengguna akan kesulitan menelusuri dan memverifikasi dari mana informasi itu berasal.

Kampanye tersebut berlangsung ketika posisi Israel dalam opini publik Amerika disebut semakin melemah. Menurut The Guardian, sejumlah pejabat Israel juga mulai mempertanyakan keberhasilan upaya pemerintah mereka memengaruhi opini publik di luar negeri.

Pada Juli, seorang pejabat Israel mengatakan kepada surat kabar Yedioth Ahronoth bahwa kampanye tersebut gagal. Pejabat itu menyatakan bahwa pemerintah Israel “membayar banyak uang, tetapi situasinya justru semakin memburuk.” []