Internasional
Bela Serangan ke Iran, Trump Berdalih Diplomasi dengan Teheran Tak Mudah

Media ABI, 21 Agustus 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membela keputusan menyerang Iran. Di tengah tekanan akibat perang dan kegagalan mencapai kesepakatan diplomatik, Trump beralasan bahwa kesepakatan dengan Teheran memang tidak mudah dicapai.
Dalam wawancara dengan radio WABC 77 yang disiarkan Kamis malam waktu setempat, Trump mengatakan Amerika Serikat tidak punya pilihan selain menyerang Iran karena, menurut klaimnya, Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Pernyataan tersebut dilaporkan IRNA pada Jumat (21/8/2026).
Baca juga: Ancaman Perang Ekonomi Trump terhadap Iran Menyimpan Pesan Lain
“Tidak ada pilihan selain menyerang Iran. Jika harus melakukannya 100 kali lagi, saya akan melakukannya. Iran tidak boleh mendapatkan senjata nuklir,” kata Trump.
Trump kemudian mengaitkan sulitnya mencapai kesepakatan dengan kondisi Iran setelah serangan militer. Menurut dia, kekuatan angkatan laut dan udara Iran telah dihancurkan, sementara sejumlah pemimpin negara tersebut telah tewas.
“Masalahnya adalah banyak pemimpin telah tewas. Mencapai kesepakatan tidak mudah. Tidak ada yang tahu siapa yang memimpin,” ujarnya.
Trump kembali menegaskan bahwa tujuan utama operasi militer Amerika Serikat adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Dia juga menuduh para pemimpin Iran akan menggunakan senjata tersebut jika berhasil memilikinya.
Dalam wawancara itu, Trump mengklaim serangan menggunakan pesawat pengebom B-2 telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran.
“Saya menghentikannya dan dengan pesawat pengebom B-2, saya menghentikannya sepenuhnya,” katanya.
Trump juga membenarkan serangan terhadap Iran dengan menuduh Teheran hendak menghancurkan Israel dan kawasan Timur Tengah. Dia tidak menyinggung tindakan Israel di kawasan, termasuk di wilayah Palestina yang diduduki.
Baca juga: Qatar: Dampak Perang terhadap Iran Jadi Bencana bagi Dunia
Mengenai kemampuan militer Iran, Trump mengklaim kekuatan negara tersebut telah menurun drastis dibandingkan lima bulan sebelumnya. Menurut dia, Iran masih memiliki rudal dan drone, tetapi kemampuan memproduksi persenjataan tersebut telah berkurang sehingga lebih sulit menyerang berbagai sasaran.
Trump juga menggambarkan kondisi ekonomi Iran sebagai sangat buruk. Dia mengklaim inflasi mencapai sekitar 300 persen, nilai mata uang hampir tidak tersisa, dan personel militer Iran tidak menerima gaji.
Dalam persoalan Selat Hormuz, Trump kembali mengklaim Amerika Serikat menguasai jalur strategis tersebut. Pernyataan itu muncul ketika lalu lintas pelayaran di selat tersebut menjadi salah satu persoalan utama dalam perang.
Trump juga menuduh Iran telah menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah yang “merundung semua orang”. Dia menyebut Iran meluncurkan rudal ke sejumlah negara yang menurutnya relatif netral, tanpa menjelaskan tingkat keterlibatan negara-negara tersebut dalam konflik.
Dua hari sebelumnya, melalui Truth Social pada 19 Agustus, Trump mengklaim telah memberikan Iran banyak kesempatan untuk mencapai kesepakatan. Menurut Trump, kesempatan tersebut telah disia-siakan Teheran.
Di tengah tekanan publik dan Kongres AS menjelang pemilihan paruh waktu, Trump kemudian mengumumkan apa yang disebutnya sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap suatu negara. Dia menyebut langkah tersebut sebagai “perang ekonomi” dan kampanye isolasi ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca juga: Politico: Perang Ekonomi Trump Tak Akan Membuat Iran Menyerah
Trump meminta seluruh sekutu Amerika Serikat ikut mengisolasi Iran. Negara yang memberikan dukungan kepada Teheran melalui lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau institusi pemerintah, menurut Trump, akan menghadapi konsekuensi ekonomi berat.
Trump bahkan membandingkan kampanye tersebut dengan pendaratan Normandia atau D-Day dalam Perang Dunia II dan menyebutnya sebagai “Economic D-Day”.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi pernyataan tersebut dengan mengaitkan kampanye “D-Day ekonomi” Trump dengan persoalan keuangan Amerika Serikat. Dalam unggahan pada Kamis (20/8/2026), Araghchi menampilkan dua gambar mengenai utang nasional AS yang disebut telah melampaui 40 triliun dolar.
Araghchi menilai langkah Trump terhadap Iran merupakan upaya mengalihkan perhatian publik Amerika dari krisis ekonomi dan meningkatnya utang nasional. Menurut dia, mempertahankan kebijakan Washington yang dinilainya telah gagal hanya akan menghasilkan kekalahan lebih besar dan memperkuat permusuhan rakyat Iran. []
Baca juga: Al Jazeera: Kapal di Selat Hormuz Lebih Mematuhi Jalur Iran daripada AS







