Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ancaman Perang Ekonomi Trump terhadap Iran Menyimpan Pesan Lain

Published

on

Presiden AS Donald Trump menghadapi dilema dalam meningkatkan tekanan terhadap Iran tanpa membuka kembali konflik berskala besar.
Presiden AS Donald Trump menghadapi dilema dalam meningkatkan tekanan terhadap Iran tanpa membuka kembali konflik berskala besar.

Media ABI, 21 Agustus 2026 — Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran tampaknya tidak serta-merta berarti Washington ingin kembali membuka front perang. Di tengah retorika keras Trump, pemerintah AS justru berusaha meyakinkan pasar bahwa konflik terbuka dalam skala besar bukan pilihan yang sedang ditempuh.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis (20/8/2026) berupaya meredakan kekhawatiran investor terkait kampanye tekanan baru terhadap Iran. Menurut Bessent, kemungkinan pecahnya kembali konflik dalam skala besar sangat kecil.

Baca juga: Qatar: Dampak Perang terhadap Iran Jadi Bencana bagi Dunia

Pernyataan itu muncul setelah Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan perang ekonomi terhadap Iran. Ia menyebut operasi tersebut sebagai langkah “dahsyat” yang akan membuat Iran “lumpuh”.

The New York Times menilai pernyataan Bessent memperjelas satu hal yang selama ini tersirat dalam kebijakan Trump: Presiden AS tidak ingin kembali berperang. Tekanan ekonomi dipilih sebagai instrumen untuk menghadapi Iran tanpa harus menanggung konsekuensi perang terbuka.

Sejumlah pakar yang dikutip surat kabar tersebut melihat posisi Trump tidak sepenuhnya menguntungkan. Ruang gerak tekanan AS terhadap Iran disebut terbatas, sementara kerentanan Washington semakin terlihat dan Teheran justru dinilai semakin berani menghadapi tekanan tersebut.

Baca juga: Politico: Perang Ekonomi Trump Tak Akan Membuat Iran Menyerah

Masalahnya tidak berhenti pada hubungan AS-Iran. Trump juga akan menghadapi tekanan politik dalam negeri menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections. Jika ketegangan dengan Iran terus meningkat, perang yang tidak populer di kalangan masyarakat Amerika dan kenaikan harga bahan bakar dapat menjadi beban bagi Partai Republik.

Karena itu, ancaman perang ekonomi terhadap Iran juga mencerminkan dilema Washington. Trump ingin mempertahankan tekanan terhadap Teheran, tetapi pada saat yang sama harus menghindari situasi yang dapat menyeret Amerika Serikat kembali ke perang dengan konsekuensi politik dan ekonomi yang jauh lebih besar. []

Baca juga: Bongkar Borok USS Abraham Lincoln, Penerbit Stars and Stripes Dibidik Pentagon