Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Al Jazeera: Kapal di Selat Hormuz Lebih Mematuhi Jalur Iran daripada AS

Published

on

Data Kpler menunjukkan lebih banyak kapal memilih jalur perairan Iran dibandingkan jalur Oman pada periode 1 hingga 19 Agustus 2026.
Data Kpler menunjukkan lebih banyak kapal memilih jalur perairan Iran dibandingkan jalur Oman pada periode 1 hingga 19 Agustus 2026.

Media ABI, 21 Agustus 2026 — Data pelayaran yang dikutip Al Jazeera menunjukkan sebagian kapal yang melintasi Selat Hormuz memilih jalur perairan Iran, bukan rute Oman yang disebut didukung Amerika Serikat. Temuan tersebut menjadi gambaran penting tentang pola pelayaran di tengah tekanan Washington terhadap Teheran.

Menurut Fars News Agency yang mengutip Al Jazeera pada Kamis, 20 Agustus 2026, data perusahaan analisis pelayaran Kpler mencatat 112 kapal pengangkut minyak mentah, gas cair, dan gas alam cair melintasi Hormuz pada 1 hingga 19 Agustus. Sebanyak 21 kapal secara terbuka menggunakan jalur Iran, sementara hanya dua kapal tercatat menggunakan jalur Oman.

Jika seluruh jenis kapal dihitung, termasuk pengangkut barang curah dan bahan kimia, jumlahnya mencapai 236 kapal. Sebanyak 83 kapal memilih jalur Iran, tiga kapal menggunakan jalur Oman, dan dua kapal melintas melalui jalur tengah yang digunakan sebelum perang.

Baca juga: Isu Antisemitisme Jadi Senjata Trump Tekan Kampus AS

Dengan demikian, sekitar seperlima kapal pengangkut energi yang melintasi Hormuz menggunakan jalur Iran. Jika kapal pengangkut barang curah dan bahan kimia turut dihitung, porsinya mencapai sekitar 35 persen dari seluruh kapal.

Sebaliknya, hanya dua kapal pengangkut minyak dan gas, atau empat kapal dari seluruh jenis kapal, yang tercatat secara terbuka menggunakan jalur selain rute Iran.

Al Jazeera menilai angka tersebut menunjukkan pola kepatuhan kapal di Hormuz di tengah persaingan tekanan antara Iran dan Amerika Serikat.

Klaim Koridor Selatan Dipertanyakan

Data Kpler tersebut muncul ketika sejumlah media Amerika menggambarkan kondisi berbeda mengenai lalu lintas di Hormuz.

Fars menyoroti laporan Axios dan CNN yang mengklaim tekanan Amerika telah mengubah pola pelayaran di selat tersebut. Axios menyebut militer Amerika membuka koridor selatan yang dirahasiakan dan mengklaim sekitar 10 juta barel minyak mentah per hari dapat dikirim melalui jalur itu.

CNN dalam sejumlah laporan menyatakan Iran telah kehilangan kendali atas Hormuz dan lebih dari 80 persen kapal memilih jalur Oman. Namun, media tersebut juga menyebut hanya dua hingga tiga kapal tanker minyak berukuran sangat besar atau VLCC yang melintasi jalur itu setiap hari.

Fars menilai kedua klaim tersebut menyimpan perbedaan mencolok. Axios menyebut 15 hingga 20 kapal tanker melewati koridor selatan setiap malam, sedangkan CNN hanya mencatat dua hingga tiga VLCC per hari.

Perbedaan lima hingga sepuluh kali lipat tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi data yang digunakan kedua media. Fars juga menyebut citra satelit synthetic aperture radar atau SAR tidak menunjukkan kapal besar melintasi koridor Oman dalam tiga pekan terakhir.

Baca juga: Iran Sebut California Wilayah Baru Iran

Klaim Arus Minyak Tak Sejalan dengan Data Kpler

Fars kemudian membandingkan klaim Axios dengan data pelayaran yang tersedia. Berdasarkan data yang dirujuk dalam laporan tersebut, total minyak yang saat ini melewati jalur utara melalui perairan Iran dan jalur selatan melalui perairan Oman berada di kisaran 5 juta barel per hari.

Angka itu berbeda jauh dengan klaim Axios bahwa koridor selatan saja mampu mengangkut 10 juta barel minyak mentah setiap hari.

Menurut Fars, klaim tersebut juga tidak sejalan dengan data perusahaan pelacakan kapal seperti Kpler yang turut digunakan CNN. Jika koridor selatan benar-benar mengangkut 10 juta barel per hari, volumenya akan setara dengan 50 hingga 100 persen dari seluruh ekspor minyak kawasan sebelum ketegangan meningkat.

Sementara itu, data yang dikutip Al Jazeera menunjukkan bahwa kapal yang melintasi Hormuz masih banyak menggunakan jalur Iran. Angka tersebut menambah tekanan terhadap klaim bahwa Washington telah sepenuhnya mengubah pola pelayaran dan menguasai jalur strategis tersebut. []

Baca juga: IRGC: Jika Perang Pecah Lagi, Iran Siapkan Senjata Lebih Merusak