Internasional
Politico: Perang Ekonomi Trump Tak Akan Membuat Iran Menyerah

Media ABI, 21 Agustus 2026 — Upaya Donald Trump menekan Iran melalui sanksi dan blokade laut belum menunjukkan hasil yang diharapkan Washington. Politico menilai Teheran justru memperlihatkan kesiapan menanggung tekanan ekonomi daripada menerima tuntutan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Laporan Politico yang dikutip Tasnim pada Kamis, 20 Agustus 2026, menyebut keraguan terhadap strategi baru Washington datang dari sejumlah mantan pejabat pemerintahan Trump, diplomat Amerika Serikat, dan pakar kawasan. Mereka mempertanyakan klaim Menteri Keuangan Scott Bessent bahwa kampanye tekanan ekonomi kali ini akan berbeda dari kebijakan sebelumnya.
Keraguan itu tidak lepas dari pengalaman panjang Iran menghadapi sanksi Amerika. Selama sekitar dua dekade, berbagai tekanan ekonomi telah dijatuhkan terhadap Teheran, tetapi belum berhasil memaksanya menerima seluruh tuntutan Washington.
Tekanan Ekonomi Belum Mengubah Sikap Iran
Trump kini berharap tekanan yang lebih besar akan membuat Iran menyerah. Politico menilai tanda-tanda ke arah itu belum terlihat. Teheran disebut bersedia menunggu lebih lama dan tetap menolak tuntutan Trump, termasuk terkait biaya yang dikenakan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz serta persyaratan lain yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik.
Baca juga: Yaman Hantam Delapan Tanker Saudi sejak Sanksi Maritim Diberlakukan
James Jeffrey, mantan Duta Besar Amerika Serikat yang pernah bertugas di tiga pemerintahan, termasuk pemerintahan pertama Trump, menggambarkan situasi tersebut sebagai perang atrisi.
“Ini adalah perang atrisi. Saya yakin Departemen Keuangan sedang melakukan penyesuaian kecil di sana-sini untuk menutup celah atau memperluas sanksi. Namun, sulit dipercaya bahwa setelah 20 tahun sanksi Amerika Serikat dan pengalaman Iran dalam menghindarinya, tiba-tiba akan terjadi sesuatu yang menentukan,” kata Jeffrey.
Bagi para pemimpin Iran, Politico menilai konflik tersebut menyangkut kepentingan vital negara sehingga tekanan ekonomi yang berat belum cukup untuk membuat Teheran mengubah sikap.
Biaya Perang Mulai Membebani Washington
Masalahnya, tekanan tersebut kini berbalik menjadi persoalan bagi pemerintahan Trump. Perang telah mendorong harga minyak mendekati 90 dolar AS per barel dan ikut menaikkan biaya pinjaman jangka panjang pemerintah Amerika ke tingkat tertinggi dalam hampir dua dekade.
Situasi itu berlangsung menjelang pemilu sela Kongres ketika harapan untuk mencapai kesepakatan damai semakin menipis.
Tekanan terhadap ekonomi Amerika juga terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun yang pada Selasa mencapai level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan global. Politico mencatat kenaikan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan perang enam bulan. Kelangkaan bahan bakar global dan ketidakstabilan ekonomi turut menjaga harga energi tetap tinggi dan memperbesar risiko inflasi berkepanjangan.
Baca juga: Konflik Iran Berlanjut, Kapal Induk AS Terancam Lama di Galangan
Keteguhan Iran kemudian memunculkan pertanyaan mengenai langkah berikutnya. Sejumlah mantan pejabat pemerintahan Trump meragukan bahwa blokade laut dalam skala besar atau paket sanksi baru akan cukup untuk mengubah perhitungan Teheran.
Sanksi Baru, Keraguan Lama di Amerika
Seorang mantan pejabat pemerintahan Trump yang tidak disebutkan namanya mengatakan tekanan ekonomi perlu diterapkan dengan cara yang belum pernah digunakan sebelumnya.
“Saya pikir tekanan ekonomi harus diterapkan dengan cara-cara baru yang belum kita lihat. Sampai sekarang, tidak satu pun metode tersebut berhasil membuat Iran menyerah,” ujarnya.
Washington belum mengumumkan secara rinci langkah tambahan yang akan ditempuh. Politico menyebut beberapa pilihan yang tersedia, termasuk menargetkan bank-bank besar China yang memfasilitasi perdagangan minyak Iran, memperluas sanksi sekunder terhadap negara-negara yang bertransaksi dengan Teheran, serta menyita aset Iran, bukan hanya membekukannya.
Selama enam bulan perang, Amerika Serikat telah berupaya menekan perekonomian Iran dari berbagai arah. Washington membatasi penjualan minyak sebagai sumber ekspor utama Iran melalui blokade laut terhadap pelabuhan negara tersebut, menjatuhkan sanksi kepada pembeli minyak Iran, menargetkan armada pelayaran tidak resmi yang mengangkut minyak, dan berusaha memutus jaringan keuangan yang digunakan Teheran untuk memindahkan dana.
Namun, Politico mengutip sejumlah orang yang pernah terlibat dalam perundingan dengan Iran dan menilai tekanan tersebut belum cukup untuk memaksa Teheran menyerah, terutama setelah enam bulan serangan besar terhadap negara tersebut.
Baca juga: Ambisi Trump yang Tak Mampu Dicaplok, dari Greenland hingga Hormuz
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga secara terbuka mengejek anggapan bahwa tekanan Amerika akan menghasilkan konsesi dari Teheran. Dalam unggahan di platform X pada Selasa, Ghalibaf mengatakan Amerika keliru jika mengira tekanan terhadap Iran akan menghasilkan konsesi yang sebelumnya tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan.
Laporan Politico pada akhirnya memperlihatkan persoalan yang lebih besar daripada kemampuan Washington menambah sanksi. Setelah puluhan tahun tekanan ekonomi dan enam bulan perang, Amerika Serikat masih belum menemukan cara yang mampu membuat Iran mengubah perhitungannya. Di tengah meningkatnya biaya perang bagi kedua negara, pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah strategi ekonomi Trump benar-benar mampu menghasilkan hasil politik yang diinginkan Washington. []
Baca juga: Moskow Peringatkan London untuk Tidak Terlibat dalam Serangan Ukraina







