Internasional
Strategi Drone Baru Hizbullah, Tekanan bagi Trump dan Netanyahu

Media ABI, 17 Agustus 2026 — Strategi baru penggunaan drone oleh Hizbullah Lebanon meningkatkan tekanan militer dan psikologis terhadap Israel dan sekutunya. Berdasarkan analisis terbaru Armed Conflict Location & Event Data Project atau ACLED, Hizbullah meningkatkan penggunaan drone FPV berbasis serat optik serta drone bunuh diri sekali jalan dalam lima bulan terakhir.
Analisis ACLED yang dikutip Kantor Berita Fars pada Senin, 17 Agustus 2026, menunjukkan perubahan mendasar dalam strategi militer Hizbullah. Drone FPV berbasis serat optik yang dikenal luas melalui perang di Ukraina mulai digunakan kelompok tersebut pada Maret dan kini menyumbang 21 persen dari seluruh serangan Hizbullah.
Baca juga: Menu Makanan USS Abraham Lincoln Disebut Terburuk oleh Pelaut
Drone tersebut digunakan dalam lebih dari separuh serangan yang menimbulkan korban di pihak Israel. Teknologi serat optik memungkinkan drone beroperasi dengan menghindari sistem peperangan elektronik dan digunakan untuk menyerang pasukan Israel di Lebanon selatan.
Pada saat yang sama, penggunaan drone bunuh diri sekali jalan meningkat tajam dari 6 persen menjadi 24 persen. Perubahan taktik tersebut memungkinkan Hizbullah mempertahankan tekanan militer meskipun mengalami korban. Jumlah operasi kelompok tersebut juga meningkat dari sekitar 163 menjadi 199 operasi per bulan.
Taktik Israel ikut berubah
Peningkatan serangan drone mendorong militer Israel menyesuaikan taktik pertahanannya. Penggunaan jaring kawat untuk menghadapi drone bermuatan bahan peledak serta pemasangan jaring pelindung seluas 158 ribu meter persegi di sejumlah wilayah pertempuran menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap ancaman tersebut.
Namun, sejumlah analis menilai langkah tersebut belum memadai. Hizbullah disebut memanfaatkan teknologi serat optik sekaligus melatih operator muda untuk mengendalikan drone, sehingga dapat menyesuaikan taktik lebih cepat terhadap perubahan sistem pertahanan Israel.
Analis pertahanan Hamza Attar mengatakan kepada Newsweek bahwa Hizbullah mengadaptasi teknologi yang berkembang dalam perang Ukraina dengan menggabungkan teknologi serat optik dan perang drone. Menurutnya, teknologi tersebut menghasilkan senjata yang tahan terhadap gangguan elektronik.
Baca juga: Lalu Lintas Kapal Bantah Klaim Trump soal Kendali AS atas Selat Hormuz
Drone tersebut juga relatif mudah dikendalikan oleh generasi muda yang terbiasa dengan permainan video. Selain berbiaya rendah dan digunakan untuk serangan sekali jalan, drone tersebut dapat disiapkan dengan cepat sehingga upaya untuk menemukan cara efektif menghadapinya menjadi lebih sulit.
Tantangan diplomatik bagi AS dan Israel
Perubahan di medan pertempuran berlangsung ketika Amerika Serikat dan Israel berupaya mencapai kemajuan diplomatik di front Lebanon. Kesepakatan tiga pihak pada Juni yang dimediasi Washington belum menghasilkan stabilitas yang berkelanjutan.
Hizbullah menegaskan perlawanan akan terus berlangsung hingga Israel sepenuhnya meninggalkan wilayah Lebanon. Kelompok tersebut juga menolak setiap kesepakatan yang berujung pada pelucutan senjatanya.
Nasser Khodour, Direktur Riset ACLED, mengatakan Amerika Serikat berupaya memisahkan front Lebanon dari konflik dengan Iran. Namun, Hizbullah tetap menjadi bagian dari persamaan tersebut sehingga Iran masih memiliki sarana untuk mempertahankan daya tawarnya.
Menurut Khodour, kondisi tersebut memperlihatkan perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan Israel dalam menangani konflik yang lebih luas.
Baca juga: Media Israel: Pada Akhirnya Trump akan Tunduk pada Tuntutan Teheran
Perubahan taktik Hizbullah menunjukkan bahwa kelompok bersenjata dapat mempertahankan tekanan melalui strategi berbiaya rendah dan perang atrisi meskipun mengalami kerugian besar. Pendekatan tersebut berpotensi menjadi pola yang diterapkan di front konflik lain, termasuk Gaza dan Tepi Barat.
Bagi Israel, persoalannya bukan hanya kemampuan Hizbullah menggunakan teknologi drone baru, tetapi juga kemungkinan taktik tersebut menyebar ke front konflik lainnya.
Di tengah berlanjutnya perundingan diplomatik, perkembangan di medan pertempuran menunjukkan masa depan front Lebanon masih sulit dipastikan. Kesepakatan yang tidak menyelesaikan persoalan mendasar berisiko tidak bertahan dalam jangka panjang. []
Baca juga: Washington Post: Sikap Serampangan Trump Bawa Perang Iran Tanpa Akhir







