Internasional
Mantan Panglima AS Kaget Iran Mampu Hancurkan Pangkalan di Kawasan

Media ABI, 17 Agustus 2026 — Mantan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Mike Mullen, mengakui Washington tidak memperkirakan Iran mampu menghancurkan sejumlah pangkalan militer sekutu AS di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Mullen dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu, 16 Agustus 2026, ketika membahas kondisi personel militer Amerika Serikat di Asia Barat, termasuk awak kapal induk USS Abraham Lincoln.
Mullen menyoroti panjangnya masa penugasan USS Abraham Lincoln yang telah berada di laut selama berbulan-bulan. Menurutnya, kondisi tersebut sangat berat bagi kapal, awak, dan keluarga personel yang bertugas.
Baca juga: Qatar Tawan Tiga Pilot Iran Sejak Maret
“Ini merupakan hal yang sangat signifikan dan sangat sulit. Penugasan seperti ini sangat, sangat berat. Secara historis, kami biasanya dapat masuk ke pelabuhan untuk beristirahat, melakukan perbaikan, kemudian kembali menjalankan operasi. Bahkan pada masa Vietnam, kami melakukan hal tersebut,” kata Mullen.
Menurut Mullen, persoalan utama saat ini berada pada wilayah operasi atau area of responsibility yang membuat kapal-kapal AS kesulitan menemukan tempat untuk berhenti dan memulihkan kondisi.
“Masalah saat ini di wilayah operasi adalah lokasi tempat kami melakukan semua itu. Bahrain berada di tengah konflik, begitu juga Uni Emirat Arab. Tempat-tempat tersebut sekarang menjadi sasaran. Karena itu, keamanan dan keselamatan aset-aset ini menjadi perhatian yang sangat besar. Sederhananya, tidak ada tempat yang mudah untuk berhenti di pelabuhan,” ujarnya.
Mullen juga mengaku mengkhawatirkan kondisi awak USS Abraham Lincoln setelah melihat berbagai laporan mengenai kapal tersebut.
“Saya tentu mengkhawatirkan kondisi kapal berdasarkan apa yang saya lihat dalam laporan berita. Saya tahu komandan, terutama komandan kapal Lincoln, bekerja keras menangani persoalan tersebut. Saya juga percaya kebenarannya mungkin berada di antara berbagai laporan yang beredar,” kata Mullen.
Pangkalan sekutu AS ikut menjadi sasaran
Mullen secara khusus menyoroti serangan terhadap pangkalan yang selama ini digunakan untuk mendukung operasi kapal-kapal Amerika.
“Saya pikir kami jelas tidak memperkirakan pangkalan sekutu kami, tempat kami sebelumnya menempatkan pasukan, akan dihancurkan oleh Iran,” katanya.
Menurut Mullen, serangan tersebut terjadi di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Akibatnya, sejumlah lokasi yang sebelumnya digunakan personel Amerika untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tidak lagi dapat digunakan.
Baca juga: Jenderal AS Akui Amerika Tak Mampu Hadapi Serangan Drone Massal
“Karena itu, dalam hal perencanaan, semuanya harus disesuaikan secara langsung dengan keadaan. Menemukan tempat untuk melakukan hal tersebut menjadi sangat, sangat sulit. Pada dasarnya, Anda terpaksa tetap berada di laut,” ujar Mullen.
Kondisi tersebut, menurut Mullen, menambah tekanan terhadap perencanaan operasional Angkatan Laut AS, terutama karena jumlah kapal induk Amerika terbatas.
Mullen sebut AS hanya memiliki 11 kapal induk
Mullen mengatakan kapal, personel, dan keluarga mereka pada akhirnya membutuhkan waktu untuk kembali, memulihkan kondisi, dan mempersiapkan diri menghadapi penugasan berikutnya.
“Semua kapal ini, para personel ini, dan keluarga mereka pada dasarnya harus kembali, memahami bagaimana mempersiapkan diri untuk misi berikutnya. Namun, hal tersebut membutuhkan waktu,” katanya.
Mullen menyoroti keterbatasan jumlah kapal induk AS yang saat ini hanya 11 unit. Mantan pejabat militer tersebut mengatakan pernah terlibat dalam perdebatan bersama mantan Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld pada awal 2000-an mengenai pengurangan jumlah kapal induk Amerika dari 12 menjadi 11.
Baca juga: AS Klaim Ancaman Iran Paksa Trump Ganti Pesawat di Ankara
“Dalam kondisi saat ini, jika kita akan mengerahkan mereka seperti ini, menurut saya kita benar-benar membutuhkan jumlah yang lebih banyak,” ujar Mullen.
USS Abraham Lincoln, yang membawa lebih dari 5.000 pelaut dan personel Korps Marinir AS, telah berada di laut selama hampir sembilan bulan dan menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir.
Berbagai laporan mengenai kondisi kapal tersebut selama perang dengan Iran menyebut kekurangan bahan makanan, persoalan sanitasi dan sistem perpipaan, gangguan layanan surat, tidak adanya persinggahan rutin di pelabuhan, serta penurunan moral personel.
Sejumlah keluarga awak kapal juga menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi psikologis personel selama penugasan. Laporan tersebut menggambarkan tekanan mental yang dialami sebagian awak di tengah panjangnya masa penugasan dan berlangsungnya konflik. []
Baca juga: IRGC Pamerkan Bangkai Drone dan F-15 AS, Bukti Keberhasilan Pertahanan Udara Iran






