Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

USS Lincoln Terkatung-katung 208 Hari di Laut

Published

on

IRGC Ungkap Detail Penargetan Kapal Abraham Lincoln
Gangguan rantai pasokan akibat perang dengan Iran memengaruhi makanan, peralatan, dan distribusi pos ke USS Lincoln.

Ahlulbait Indonesia, 9 Agustus 2026 – Keluarga para pelaut dan marinir Amerika Serikat akhirnya menyuarakan keresahan mereka mengenai kondisi USS Abraham Lincoln setelah kapal induk tersebut berbulan-bulan menjalani misi tempur di Asia Barat. Dalam pertemuan dengan pejabat Angkatan Laut AS di San Diego, mereka mengungkap persoalan yang mencakup kesehatan mental, kelelahan, kekurangan peralatan dan bahan makanan, kebersihan kapal, hingga distribusi pos.

Farsnews Agency melaporkan pada Sabtu (8/8/2026) bahwa pertemuan dengan Penjabat Sementara Angkatan Laut AS, Hang Kao, berlangsung pada Kamis malam, 6 Agustus waktu setempat. Sejumlah keluarga datang dengan kekhawatiran mengenai kondisi mental personel, keterbatasan peralatan, serta persoalan polusi di USS Lincoln.

Baca juga: WSJ: Iran Membatasi Kehadiran Militer AS di Teluk Persia

Keresahan itu bukan tanpa konteks. MS-Now, dengan mengutip dua peserta pertemuan di San Diego, melaporkan bahwa keluarga meminta penjelasan mengenai kondisi sulit yang dihadapi awak kapal ketika misi tempur terhadap Iran masih berlangsung dan tidak ada kepastian kapan mereka akan kembali.

Ketegangan berlanjut dalam pertemuan virtual pada malam yang sama. Para pimpinan Angkatan Laut berbicara dengan anggota keluarga sekitar 5.000 pelaut dan marinir yang ditempatkan di USS Lincoln.

Rekaman audio dan video yang diperoleh MS-Now memperlihatkan keluarga menyampaikan langsung kekhawatiran mengenai keselamatan dan kesehatan personel. Kapal induk tersebut disebut telah mencatat rekor jumlah hari terbanyak berturut-turut di laut dalam konflik modern selama perang yang sedang berlangsung dengan Iran.

Kepulangan menjadi pertanyaan yang belum terjawab

Di balik berbagai keluhan itu terdapat satu persoalan yang paling mendesak, kapan para pelaut dapat pulang.

Keluarga menyoroti kesehatan mental, keselamatan di dek, kekurangan peralatan dan bahan makanan, polusi air, serta gangguan sistem pos. Sejumlah paket yang dikirim ke kapal disebut hilang selama berbulan-bulan.

Dalam pertemuan tatap muka di San Diego, Hang Kao mengatakan Angkatan Laut sedang menyiapkan kelompok tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt untuk dikerahkan ke Asia Barat sebagai pengganti USS Lincoln. Namun, alasan keamanan operasional membuat Kao tidak dapat memastikan kapan pergantian tersebut akan berlangsung.

Kepastian itu menjadi sangat penting bagi keluarga yang telah menunggu berbulan-bulan. Dua peserta pertemuan mengatakan sejumlah istri pelaut menangis ketika menanyakan kepada para komandan mengenai langkah yang ditempuh untuk menangani kesehatan mental dan kelelahan ekstrem awak kapal.

Salah satu orang tua bahkan mengatakan putri seorang serdadu merasa ayahnya tidak akan pernah pulang dan meyakini sang ayah akan meninggal di kapal tersebut. Peserta lain menilai Angkatan Laut tidak cukup peduli terhadap kondisi para pelaut ketika mereka menjalankan tugas dalam perang.

Persoalan bukan hanya soal kondisi kapal

Kemarahan keluarga juga menyentuh alasan di balik keberadaan USS Lincoln di kawasan tersebut.

Salah satu peserta mempertanyakan misi kapal dalam operasi militer terhadap Iran. Dia mengatakan sulit merasa bangga terhadap suaminya karena meyakini militer AS “membunuh warga sipil tak berdosa”. Sang suami, menurut peserta tersebut, juga merasa bersalah atas pekerjaannya.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan.

Baca juga: Kepemimpinan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei Mengubah Peta Perang Iran

Pada malam yang sama, Joseph Cahill dan Douglas Verissimo, dua komandan senior Pasukan Permukaan dan Udara Angkatan Laut AS di Armada Pasifik, bersama sejumlah pejabat senior lainnya, mengikuti pertemuan virtual dengan lebih dari 200 peserta.

259 hari menjalankan misi

Angka-angka yang muncul dalam laporan tersebut menggambarkan panjangnya penempatan USS Lincoln. Hingga Jumat, kapal induk itu telah menjalani misi selama 259 hari sejak meninggalkan pangkalannya di San Diego pada 21 November.

Dalam kurun tersebut, USS Lincoln hanya dua kali berhenti. Kapal singgah di Guam pada Desember, lalu memasuki Oman untuk sementara pada 7 Juli. Selebihnya, kru berada di laut selama 208 hari berturut-turut.

Verissimo mengakui penempatan jangka panjang di Angkatan Laut kini tampak semakin sering. Namun, menurutnya, situasi kali ini memiliki perbedaan mendasar karena militer AS terlibat dalam pertempuran aktif.

Bagi keluarga, kondisi itu menambah persoalan lain. Kelelahan ekstrem, rendahnya moral, dan kesehatan mental pelaut serta marinir terus menjadi perhatian ketika operasi militer terhadap Iran berlangsung tanpa akhir yang jelas.

Toilet bermasalah hingga persoalan ventilasi

Kondisi kehidupan di dalam kapal menjadi bagian lain dari keluhan keluarga, termasuk soal makanan dan kebersihan.

Para komandan mengakui adanya “penyumbatan parah” yang membuat banyak toilet di bagian tertentu kapal tidak berfungsi dalam waktu lama. Mereka menyatakan awak kapal telah dilatih menangani persoalan pipa dan sebagian besar toilet yang bermasalah dapat segera diperbaiki.

Keluhan lain berkaitan dengan sesuatu yang oleh banyak pelaut dianggap sebagai jamur di kamar mandi. Para komandan mengatakan kondisi tersebut kemungkinan merupakan kerak atau jamur permukaan yang “tidak menarik bagi siapa pun di antara kita”. Buruknya sistem ventilasi disebut sebagai salah satu penyebab.

Baca juga: Iran Tetapkan Syarat untuk Buka Selat Hormuz, AS Harus Tunduk

Masalah kesehatan tetap ditangani secara serius. Ahli kesehatan industri dikerahkan untuk memeriksa kamar mandi, memastikan kipas berfungsi, dan memeriksa sirkulasi udara.

Perang ikut mengganggu rantai pasokan

Masalah di USS Lincoln tidak berhenti di dalam kapal. Gangguan rantai pasokan turut memengaruhi pengiriman surat dan paket, persediaan toko kapal, serta bahan makanan untuk USS Lincoln dan kapal pendukungnya.

Verissimo mengatakan perang dengan Iran di Teluk Persia membuat pengiriman peralatan dari pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi sulit.

“Ketika Bahrain tidak lagi menjadi pelabuhan logistik untuk pasokan, makanan, dan pos, semua peralatan yang ada di sana saat konflik dimulai tetap berada di sana,” ujar Verissimo.

Menurutnya, kondisi itu menciptakan penumpukan awal yang besar. Jalur pasokan kemudian menjadi panjang dan sulit, memaksa Angkatan Laut melakukan penentuan prioritas dalam distribusi logistik.

“Jadi, ini adalah penumpukan awal yang besar. Masalah ini juga menyebabkan kami, dalam kondisi logistik yang sangat menantang dan dengan jalur pasokan yang sangat sulit serta panjang, terpaksa memprioritaskan bahan makanan, yang itu sendiri merupakan tantangan dan terkadang masih tetap menyulitkan,” ujarnya.

Bahan makanan ditempatkan sebagai prioritas pertama. Setelah itu, Angkatan Laut mengutamakan kebutuhan toko kapal seperti pasta gigi dan sampo. Paket pos baru dikirim ketika kondisi logistik memungkinkan pengiriman kargo ke kapal.

Buah dan sayuran segar masih menjadi persoalan tersendiri karena sebagian bahan makanan tersebut membusuk sebelum mencapai kapal.

“Kami bekerja lebih baik dalam memasok peralatan dan pos. Situasinya membaik, tetapi belum bagus dan sempat sangat buruk,” kata Verissimo. []

Baca juga: Tentara Iran: AS Harus Terima Tatanan Baru di Selat Hormuz