Internasional
Suriah Tolak Permintaan Saudi Kirim Pasukan ke Yaman

Media ABI, 19 September 2026 – Pemerintah yang berkuasa di Suriah menolak permintaan Arab Saudi untuk mengirim pasukan ke Yaman guna menghadapi Ansarullah. Permintaan tersebut diajukan Riyadh beberapa bulan lalu ketika Saudi tengah mencari tambahan personel untuk memenuhi kebutuhan militernya di Yaman.
Fars News Agency pada Sabtu (19/9/2026) melaporkan, mengutip sumber-sumber Suriah yang berbicara kepada Türkiye Today, bahwa Riyadh meminta Damaskus mengorganisasi pasukan Suriah dan mengirimkannya ke Yaman. Permintaan tersebut ditolak karena pemerintah Suriah sedang memusatkan perhatian pada penataan kekuatan militernya sendiri dan tidak ingin menjadi pihak ketiga dalam konflik Yaman.
Baca juga: Saudi Minta Oman Bantu Hentikan Perang di Yaman
“Masalah ini sudah selesai. Permintaan Saudi diajukan beberapa bulan lalu. Suriah menolaknya secara sopan dan menjelaskan bahwa fokusnya adalah mengorganisasi kekuatan militernya sendiri dan tidak ingin menjadi pihak ketiga dalam konflik,” kata salah satu sumber.
Damaskus tidak melarang warga Suriah meninggalkan negara tersebut untuk terlibat dalam konflik secara individual. Namun, pemerintah menegaskan tidak akan bertanggung jawab atas keterlibatan individu yang mengambil keputusan tersebut.
Damaskus Tak Ingin Terlibat Langsung
Posisi tersebut memperlihatkan perbedaan antara keterlibatan individu dan keterlibatan resmi negara. Menurut sumber yang dikutip Fars, permintaan Saudi berkaitan dengan pembentukan serta pengiriman pasukan Suriah secara terorganisasi, bukan perekrutan individu.
Sumber-sumber Turki yang dikutip dalam laporan yang sama juga membantah keterlibatan Ankara dalam pemindahan atau pengorganisasian warga Suriah untuk dikirim ke Yaman.
“Kami tidak memiliki hubungan dengan persoalan ini. Suriah dan Arab Saudi adalah dua negara berdaulat,” kata sumber tersebut.
Baca juga: Israel Khawatir Melihat Saudi Kewalahan Hadapi Yaman
Sumber Turki menambahkan bahwa Ankara akan menentukan langkah terkait “Kesepakatan Makkah” setelah kesepakatan tersebut memperoleh landasan hukum dalam mekanisme domestik negara-negara yang terlibat.
Saudi Masih Mencari Personel
Di sisi lain, Arab Saudi disebut masih mencari cara untuk memenuhi kebutuhan militernya di Yaman. Türkiye Today, mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, melaporkan bahwa Riyadh mempertimbangkan perekrutan personel militer dan pelatih dari sejumlah negara.
Upaya tersebut berlangsung ketika konflik di Yaman meningkat dan Ansarullah disebut menguasai sejumlah posisi penting di sepanjang pesisir Laut Merah hingga kawasan dekat pintu masuk Selat Bab el-Mandeb.
Pakistan disebut sebagai salah satu negara yang menjadi sasaran perekrutan dan upaya tersebut dilaporkan semakin intensif. Laporan yang belum terkonfirmasi juga menyebut aparat keamanan Saudi masih mencari personel di sejumlah negara Afrika Utara, termasuk Mesir dan Libya.
Baca juga: Saudi Disebut Hancurkan Lebih dari 1.200 Masjid di Yaman Selama Perang
Kesepakatan Makkah Jadi Perhatian
Perkembangan tersebut kembali mengarahkan perhatian pada “Kesepakatan Makkah”, yang diharapkan menjadi dasar koordinasi Turki, Pakistan dan negara-negara anggota lainnya dalam bidang keamanan dan pertahanan.
Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kerja sama pertahanan baru dapat dibahas setelah kesepakatan itu terintegrasi ke dalam mekanisme hukum domestik negara-negara anggotanya.
Menurut sumber yang dikutip Türkiye Today, Turki dan Pakistan diperkirakan akan berfokus pada tugas pertahanan dan tidak menjalankan operasi darat secara langsung terhadap Ansarullah di Yaman. Fokusnya disebut mencakup perlindungan fasilitas energi, infrastruktur strategis serta pusat-pusat kependudukan dan administrasi penting.
Dengan penolakan Damaskus tersebut, rencana pengiriman pasukan Suriah secara terorganisasi ke Yaman tidak berlanjut. Sementara itu, Riyadh masih disebut mengeksplorasi sumber personel dan bentuk dukungan pertahanan dari negara lain, sedangkan mekanisme “Kesepakatan Makkah” masih menunggu proses hukum di negara-negara yang terlibat. []
Baca juga: Ulama Yaman: Yang Membahayakan Makkah Pangkalan Militer AS, Bukan Yaman
Views: 0







