Internasional
NBC News Bongkar Kejahatan AS di Yaman

Ahlulbait Indonesia, 6 Agustus 2026 – NBC News mengungkap serangan udara Amerika Serikat di Yaman pada 2025 menyebabkan ratusan warga sipil tewas dan terluka. Temuan itu didasarkan pada dokumen yang ditelaah media tersebut serta keterangan sejumlah sumber, sementara Pentagon hingga kini belum mengakui jumlah korban maupun menerbitkan laporan lengkap.
Baca juga: WP: Trump Murka kepada Hegseth di Camp David akibat Salah Perhitungan Perang Iran
Menurut laporan NBC News yang dikutip Tasnim News pada Kamis (6/8/2026), tiga serangan yang menjadi sorotan terjadi pada April 2025 dalam Operasi Rough Rider, kampanye militer selama 53 hari yang diluncurkan Presiden Donald Trump kurang dari dua bulan setelah memulai masa jabatan keduanya. Washington menyatakan operasi itu bertujuan menghentikan ancaman pasukan Yaman terhadap kapal dan sekutu Amerika di kawasan.
Meski berbagai organisasi hak asasi manusia telah mendokumentasikan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar, penilaian internal Pentagon saat itu menyimpulkan operasi tersebut tidak menimbulkan korban sipil.
Seorang pejabat Pentagon mengatakan belum ada informasi yang dapat diumumkan kepada publik. Kementerian Pertahanan Amerika, kata pejabat itu, akan menerbitkan laporan tahunan mengenai korban operasi militer sepanjang 2025 dalam beberapa bulan mendatang.
Namun dokumen yang diperoleh NBC News memperlihatkan korespondensi antara Pentagon dan Kongres mengenai permintaan rincian dampak serangan. Dalam surat kepada Senator Elizabeth Warren pada Maret lalu, Pentagon tidak mencantumkan jumlah korban.
Wakil Asisten Menteri Pertahanan untuk Operasi Khusus dan Konflik Intensitas Rendah Derek Anderson menyatakan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM telah meninjau puluhan serangan yang berpotensi menimbulkan korban sipil. Sebanyak 15 insiden masih dalam penyelidikan aktif, sedangkan tiga serangan pada April 2025 memerlukan penyelidikan lanjutan karena kemungkinan besar menyebabkan korban sipil.
Pentagon Disorot karena Minim Transparansi
NBC News menilai pemerintahan Trump jauh lebih tertutup dibanding pemerintahan sebelumnya dalam mengungkap informasi mengenai operasi militer. Pentagon disebut jarang menggelar konferensi pers, hanya memberikan informasi terbatas mengenai kerusakan pangkalan dan jumlah korban, serta kerap menyampaikan keterangan setelah muncul laporan media. Pemerintah Amerika juga dinilai jarang mengakui jatuhnya korban sipil akibat operasi militernya.
Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional 2027 mewajibkan Pentagon mempublikasikan hasil penyelidikan tanpa sensor beserta dokumen pendukung terkait tiga serangan di Yaman. Jika kewajiban itu tidak dipenuhi, Kongres berwenang menahan sebagian anggaran, termasuk dana perjalanan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Menurut staf Kongres, Pentagon juga belum memenuhi permintaan berulang anggota legislatif mengenai rincian operasi di Yaman yang diduga menimbulkan korban sipil.
Baca juga: Krisis di Puncak Militer Israel, Angkatan Bersenjata Tolak Perintah Menteri Pertahanan
Undang-undang tersebut turut mewajibkan Pentagon membuka informasi mengenai serangan Amerika terhadap sebuah sekolah di Kota Minab, Iran, pada Februari lalu yang dilaporkan menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar anak-anak. Penyelidikan CENTCOM atas insiden itu disebut hampir rampung.
Ratusan Korban dalam Serangan April
NBC News melaporkan militer Amerika melancarkan ratusan serangan udara terhadap lebih dari 1.000 sasaran di Yaman sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan itu mencakup komitmen pasukan Yaman menghentikan serangan terhadap kapal sipil menuju Pelabuhan Eilat maupun sasaran militer Amerika, sedangkan Washington menghentikan operasi udara dan laut di Yaman.
Berdasarkan surat Derek Anderson, tiga serangan yang masih diselidiki terjadi pada 6 April 2025 terhadap sebuah rumah tinggal, 17 April 2025 di Pelabuhan Ras Isa, Hodeidah, dan 28 April 2025 di gudang Barak Ain Wadi. Surat tersebut tidak mencantumkan jumlah korban.
Baca juga: Serangan Saudi-AS Hantam Maukib dan Penziarah Arbain Imam Husain di Karbala
Dua sumber yang mengetahui hasil penyelidikan memperkirakan sekitar 150 warga sipil tewas dalam dua serangan pertama dan hampir 200 lainnya terluka. Jumlah korban dalam serangan terhadap rumah tinggal masih belum diketahui.
Kelompok hak asasi manusia sebelumnya meminta penyelidikan atas dua serangan udara pada April sebagai dugaan kejahatan perang. Berdasarkan kesaksian saksi mata dan analisis citra satelit, mereka menyatakan puluhan warga sipil tewas atau terluka dalam serangan di Pelabuhan Ras Isa dan wilayah barat laut Yaman. []
Baca juga: The Telegraph: Drone Bunuh Diri Paling Mematikan Iran Kirim Pesan untuk Trump







