Ikuti Kami Di Medsos

Bincang-Bincang

Pakar Geopolitik: Membaca Narasi Serangan Makkah di Tengah Klaim dan Bantahan

Published

on

Sayyid Abdullah Assegaf, pakar geopolitik Timur Tengah, membahas eskalasi konflik Saudi-Yaman dan kontroversi klaim serangan drone di sekitar Makkah dalam wawancara Media ABI, 18 September 2026.
Sayyid Abdullah Assegaf, pakar geopolitik Timur Tengah, membahas eskalasi konflik Saudi-Yaman dan kontroversi klaim serangan drone di sekitar Makkah dalam wawancara Media ABI, 18 September 2026.

Media ABI, 18 September 2026 — Konflik Saudi-Yaman kembali memasuki fase yang menegangkan setelah muncul klaim mengenai sebuah drone yang dicegat di sekitar Makkah. Pihak Saudi menyebut drone tersebut diluncurkan Ansarullah, sementara pihak Yaman membantah bahwa mereka menargetkan kota suci tersebut.

Perbedaan klaim ini bukan hanya menyisakan pertanyaan mengenai siapa pelaku dan apa tujuan penerbangan drone itu, tetapi juga membuka persoalan yang lebih luas tentang perang narasi dalam konflik Timur Tengah. Ketika sebuah insiden keamanan dikaitkan dengan Makkah, bobot politik dan emosionalnya segera melampaui persoalan militer. Karena itu, diperlukan kehati-hatian untuk membedakan fakta yang telah terverifikasi, klaim para pihak yang berkonflik, serta berbagai dugaan yang berkembang di ruang publik.

Baca juga: Saudi Minta Oman Bantu Hentikan Perang di Yaman

Untuk membaca perkembangan tersebut dari perspektif geopolitik Timur Tengah, Media ABI berbincang dengan Sayyid Abdullah Assegaf, Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang, sekaligus Pakar Geopolitik Timur Tengah, melalui audio WhatsApp pada Jumat, 18 September 2026.

Namun, untuk memahami bagaimana sebuah drone dapat dikaitkan dengan Ansarullah dan mengapa tuduhan tersebut memiliki bobot politik yang besar, persoalannya tidak dapat dilepaskan dari sejarah konflik Saudi-Yaman serta perjalanan Ansarullah sebagai salah satu kekuatan utama di Yaman. Dari sini pembicaraan dengan Sayyid Abdullah Assegaf dimulai, dan berikut perikannya.

Konflik Saudi-Yaman Memasuki Babak Baru

Media ABI:
Bagaimana Anda membaca eskalasi terbaru konflik Saudi-Yaman dan posisi Ansarullah di dalamnya?

Sayyid Abdullah Assegaf:
Konflik atau agresi Saudi ke Yaman yang berlangsung sejak 2015 hingga hari ini telah memasuki babak baru. Dalam perkembangan tersebut, Ansarullah menjadi salah satu aktor utama. Di dalamnya terdapat beberapa faksi Al-Houthi dan faksi-faksi lainnya, dengan Al-Houthi sebagai salah satu faksi terbesar.

Untuk memahami posisi Ansarullah, kita perlu melihat sejarah kemunculannya. Ansarullah terbentuk pada era 1990-an untuk melawan dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas oleh rezim yang berkuasa saat itu, yaitu Ali Abdullah Saleh. Sebelum memahami apa yang terjadi antara Saudi dan Yaman, kita perlu melihat kondisi politik Yaman sebelumnya. Yaman pernah dipimpin oleh rezim otoriter Ali Abdullah Saleh.

Sebelumnya, selama beberapa abad, Yaman sebagai sebuah kerajaan berada di bawah pemerintahan Imamah Zaidiyah. Ketika sistem tersebut berakhir dan Ali Abdullah Saleh kemudian menjadi pemimpin, pemerintahan yang otoriter berlangsung. Para pejabat bergelimang harta, sementara ketimpangan sosial dan ekonomi semakin terlihat. Dari situlah muncul berbagai protes. Dalam perkembangan berikutnya, Ansarullah didirikan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.

Ketika Ansarullah semakin membesar, muncul kekhawatiran dari pihak-pihak luar. Pemerintahan Yaman yang dipimpin Ali Abdullah Saleh dianggap tidak lebih sebagai boneka atau bekerja sama dengan pihak asing untuk mengeruk kekayaan Yaman, membawanya keluar, atau hanya dinikmati oleh pemimpin dan kroni-kroninya. Jadi, Ansarullah harus dipahami sebagai organisasi atau faksi politik yang berdiri bersama rakyat.

Baca juga: Ulama Yaman: Yang Membahayakan Makkah Pangkalan Militer AS, Bukan Yaman

Apa kaitannya dengan Saudi? Ansarullah tidak diinginkan menjadi faksi yang berkuasa karena track record-nya adalah gerakan yang mementingkan hak-hak rakyat dan menolak intervensi asing dalam pengelolaan sumber daya alam. Kita melihat bahwa intervensi asing sering kali datang melalui pemimpin setempat atau faksi politik tertentu untuk menguasai kekayaan alam. Ansarullah memahami persoalan tersebut sehingga mendapatkan dukungan rakyat.

Hampir mayoritas warga Yaman, baik Utara maupun Selatan, mendukung Ansarullah yang di dalamnya terdapat banyak faksi politik dan suku-suku yang ada di Yaman. Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa serangan Arab Saudi sejak 2015 merupakan sebuah kegagalan. Selama 11 tahun Arab Saudi menyerang Yaman, khususnya wilayah Utara, tetapi hari ini berhasil dipukul mundur. Ansarullah saat ini bahkan mendapatkan dukungan luas dari masyarakat Yaman, sekaligus apresiasi maupun dukungan dari masyarakat dunia.

Pakar geopolitik Sayyid Abdullah Assegaf membahas eskalasi Saudi-Yaman dan klaim serangan drone di sekitar Makkah.

Pakar geopolitik Sayyid Abdullah Assegaf membahas eskalasi Saudi-Yaman dan klaim serangan drone di sekitar Makkah.

Media ABI:
Terkait klaim serangan drone terhadap Makkah, apa fakta yang telah terverifikasi, siapa yang dituduh sebagai pelaku, dan apa indikator yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran atribusi tersebut?

Sayyid Abdullah Assegaf:
Kalau kita merujuk pada persoalan serangan drone terhadap Makkah, Ansarullah sudah menjawab bahwa itu bukan serangan dari mereka. Bahkan ada jurnalis Israel, Edy Cohen, yang mengatakan bahwa Arab Saudi bekerja sama dengan Israel melakukan operasi false flag. Namun, belum ada pengakuan resmi dari Saudi. Dari pihak Yaman juga sudah dinyatakan bahwa itu bukan serangan mereka.

Artinya, kalau belum ada komitmen penyelidikan independen untuk membuktikan serangan tersebut, maka narasi yang disebarkan Saudi bahwa Yaman, dalam hal ini Ansarullah, melakukan serangan tersebut merupakan propaganda untuk menggalang dukungan dunia. Saudi ingin mempolitisasi kota suci Makkah dan membangun persepsi bahwa Arab Saudi sebagai penjaga kota suci merasa terancam.

Padahal kita tahu siapa Saudi itu. Arab Saudi adalah kerajaan yang berdiri pada tahun 1932 oleh klan Bani Saud yang menyatukan dua wilayah, yaitu Hijaz dan Nejad. Sebelumnya, wilayah Nejad dan banyak bagian dari Arab Saudi Timur bukan bagian dari Arab Saudi. Kalau kita melihat peta Yaman sebelum tahun 1960, wilayah yang sekarang dimiliki Arab Saudi sebagian merupakan wilayah milik Yaman.

Secara historis, Saudi merupakan kerajaan baru yang didukung oleh Inggris dan diproklamasikan pada tahun 1932. Ini menjadi menarik. Saudi merupakan kerajaan yang dibentuk dengan dukungan Inggris melalui kerja sama dalam menjatuhkan Turki Usmani dan mendapatkan kompensasi menjadi raja.

Baca juga: Pakar Iran International Sebar Hoax, Klaim Yaman Serang Makkah

Karena itu, narasi mengenai serangan tersebut jelas merupakan propaganda Arab Saudi untuk mengambil keuntungan dengan mempolitisasi serangan. Dari beberapa sumber, termasuk Cohen di Israel dan beberapa sumber lainnya, disebutkan bahwa peristiwa tersebut merupakan operasi false flag. Artinya, ada upaya pecah-belah terhadap dunia Islam di tengah menguatnya gagasan tentang persatuan.

Media ABI:
Mengapa narasi serangan terhadap Makkah menjadi penting secara politik dan strategis, serta siapa yang berpotensi memperoleh keuntungan dari pembentukan narasi tersebut?

Sayyid Abdullah Assegaf:
Narasi serangan terhadap Makkah sangat penting karena Makkah merupakan kota suci umat Islam. Ketika sebuah serangan dikaitkan dengan Makkah, persoalannya tidak lagi berhenti pada konflik Saudi dan Yaman. Narasi tersebut menyentuh sesuatu yang sangat sensitif bagi seluruh umat Islam. Saudi dapat memosisikan dirinya sebagai pihak yang terancam dan sebagai penjaga kota suci yang sedang menghadapi ancaman.

Dengan demikian, perhatian dunia dapat diarahkan kepada keamanan Makkah, sementara persoalan yang selama ini terjadi di Yaman berpotensi tertutupi. Arab Saudi melakukan kejahatan perang terhadap Yaman. Datanya bisa dicek di internet. Yaman mengalami pengungsian dan kelaparan dalam jumlah yang sangat besar, sementara korbannya juga mencapai puluhan ribu.

Arab Saudi berlumuran darah dan ingin mengalihkan perhatian dunia dengan operasi false flag tersebut, seolah-olah Arab Saudi adalah korban. Padahal Yaman melakukan perlawanan untuk mempertahankan negaranya dari agresi Arab Saudi.

Propaganda, False Flag, dan Sikap Umat Islam

Media ABI:
Jika atribusi terhadap Ansarullah belum dapat dibuktikan secara independen, apakah ada indikator yang mengarah pada propaganda, salah atribusi, atau false flag? Bagaimana umat Islam seharusnya merespons informasi semacam ini?

Sayyid Abdullah Assegaf:
Umat Islam harus berpikir jernih, banyak membaca sumber-sumber terkait, dan memahami sejarah terbentuknya kerajaan Saudi. Saudi tidak bisa lagi membohongi umat Islam. Arab Saudi adalah kerajaan yang didukung oleh Inggris dan hari ini bekerja sama dengan Amerika, Inggris, dan Israel.

Bahkan Arab Saudi meminta Amerika dan Israel untuk membantu menyerang Yaman. Ini menandakan adanya kedekatan strategis antara Arab Saudi dengan Israel yang merupakan musuh kemanusiaan hari ini. Amerika yang dipimpin Donald Trump juga merupakan musuh kemanusiaan hari ini.

Karena itu, sudah selayaknya umat Islam lebih banyak bertabayun dan memahami bahwa kota suci Makkah dan Madinah adalah kota suci umat Islam, bukan kota suci Arab Saudi. Arab Saudi adalah negara kerajaan yang baru dibentuk. Sudah selayaknya pengelolaan Makkah dan Madinah dikembalikan kepada umat Islam sehingga kesuciannya terjaga.

Baca juga: Saudi Gagal Total Ulangi Skenario Suriah di Yaman

Bukan seperti hari ini, ketika terdapat tontonan konser-konser dengan pakaian terbuka, banyak bangunan yang seolah-olah merendahkan Ka’bah, dan banyak situs sejarah yang dihilangkan. Justru keberadaan Arab Saudi sejak 1932 telah menjauhkan umat Islam dari kesucian sejarah dan nilai-nilai agung yang terdapat di kota Makkah dan Madinah.

Ansarullah dan Hubungannya dengan Iran

Media ABI:
Ada satu persoalan lain yang sering muncul dalam pemberitaan mengenai konflik Yaman, yaitu penyebutan Ansarullah sebagai proksi Iran. Bagaimana Anda melihat persoalan tersebut?

Sayyid Abdullah Assegaf:
Yang perlu ditekankan adalah bahwa pemerintah Yaman dan Ansarullah bukan proksi Iran. Memang ada kesamaan visi, yaitu melawan mustakbirin, melawan penjajahan, dan tidak mau diintervensi oleh asing. Itu merupakan kesamaan.

Jadi, bukan proksi dan bukan kaki tangan. Ansarullah independen. Kalaupun mendapatkan bantuan teknologi dan memiliki hubungan strategis dengan Iran, itu wajar saja dalam hubungan antarnegara.

Media ABI:
Bagaimana Anda melihat tindakan Arab Saudi terhadap Yaman dari perspektif hukum internasional?

Sayyid Abdullah Assegaf:
Arab Saudi melakukan pelanggaran terhadap hukum internasional. Yang pertama, intervensi militer berarti melanggar prinsip non-intervensi. Yang kedua, Arab Saudi sejak 2015 menyerang sasaran sipil. Itu berarti melanggar hukum internasional dan hukum perang internasional. Yang ketiga, Arab Saudi juga melakukan blokade kemanusiaan. Bantuan kemanusiaan diblokade dan hal tersebut melanggar hukum humaniter.

Jadi, bisa di-highlight bahwa Arab Saudi melakukan pelanggaran terhadap prinsip non-intervensi dan hukum perang internasional. Berikutnya, apa yang dilakukan Ansarullah merupakan representasi Yaman dalam mempertahankan negaranya dari agresi Saudi sesuai dengan hak pembelaan diri sebagaimana Pasal 51 Piagam PBB.

Penutup

Wawancara ini memperlihatkan bahwa insiden drone di sekitar Makkah tidak berdiri sendiri. Di belakang klaim dan bantahan tersebut terdapat sejarah konflik yang panjang, pertarungan kepentingan regional, serta perebutan narasi mengenai siapa yang menjadi ancaman dan siapa yang ditempatkan sebagai korban.

Bagi publik, persoalan pentingnya bukan hanya mengikuti klaim yang paling cepat beredar, melainkan memahami konteks di baliknya dan membedakan antara fakta, klaim, serta tuduhan yang masih membutuhkan pembuktian. []

Baca juga: Bertahun-tahun Digempur Koalisi Arab, Ansarullah Semakin Kuat