Internasional
Rezaei Beberkan Tiga Putaran Pertukaran Pesan Iran-AS

Media ABI, 2 November 2026 – Perundingan Iran dan Amerika Serikat telah melalui tiga putaran pertukaran pesan, tetapi belum menghasilkan kesepakatan. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa Washington mulai menunjukkan indikasi kesediaan menerima sejumlah persyaratan Teheran, meski masih terdapat keberatan. Salah satu isu utama yang mengemuka adalah usulan pembentukan koridor bersama Iran-Oman di Selat Hormuz.
Baca juga: IRGC Akan Ungkap Kapasitas dan Target Baru jika Kembali Diserang
Dalam wawancara khusus yang disiarkan TV Nasional Shabakeh Khabar pada Sabtu malam (31 Oktober), Rezaei memaparkan rangkaian diplomasi yang, menurutnya, bermula lebih dari sebulan sebelumnya, menyusul permintaan berulang Amerika Serikat untuk membuka perundingan dengan Iran.
Teheran tidak langsung menerima permintaan tersebut. Iran terlebih dahulu menetapkan persyaratan yang harus diperjelas dan mendapat penerimaan Washington. Melalui perantara regional, kedua pihak kemudian bertukar pesan dan proposal hingga Iran menerima tanggapan ketiga Amerika Serikat, yang kini masih ditelaah.
Awal Perundingan: Washington Meminta Dialog
Menurut Rezaei, permintaan berulang Washington menjadi titik awal perkembangan diplomatik terbaru. Namun, Iran menegaskan bahwa pembicaraan tidak dapat dimulai tanpa kejelasan mengenai persyaratan dan tuntutan Teheran serta penerimaan pihak Amerika.
Dengan posisi tersebut, Teheran berupaya memastikan bahwa agenda perundingan tidak ditentukan sepihak oleh Washington.
Pakistan dan Qatar menjadi perantara untuk menyampaikan permintaan Amerika agar Iran mengemukakan persyaratannya. Irak juga berupaya mengambil peran mediasi, tetapi tidak membuahkan hasil.
Iran kemudian menyerahkan daftar tujuh persyaratan kepada Amerika Serikat untuk mengukur sejauh mana Washington bersedia menerima tuntutan Teheran.
Tanggapan Pertama AS: Iran Keberatan atas Perubahan Agenda
Setelah menerima tujuh persyaratan Iran, Amerika Serikat menyampaikan tanggapan awal melalui jalur komunikasi yang tersedia. Namun, jawaban tersebut ditolak Teheran karena dinilai menyimpang dari kerangka perundingan yang telah ditetapkan.
Menurut Rezaei, Washington berupaya melunakkan sejumlah persyaratan Iran sekaligus memasukkan isu-isu yang semestinya dibahas pada tahap berikutnya ke dalam agenda sejak awal.
Baca juga:
- Solidaritas Palestina Kalah oleh Kalkulator Kementerian Pariwisata
- Senator AS: Washington Tak Mampu Melindungi Pasukannya dari Serangan Iran
- The Guardian: Perang Iran, Kesalahan Trump yang Paling Misterius
Bagi Teheran, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut substansi proposal, melainkan juga urutan pembahasan. Iran menghendaki agar tuntutan awalnya terlebih dahulu diselesaikan sebelum persoalan lain dibicarakan.
Atas dasar itu, Teheran menolak tanggapan pertama dan menyampaikan ketidakpuasannya kepada pihak Amerika.
Usulan Kedua AS Belum Memenuhi Keberatan Teheran
Penolakan tersebut tidak menghentikan pertukaran pesan. Pakistan dan Qatar melanjutkan upaya mediasi, termasuk melalui kunjungan Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, ke Teheran. Pihak Qatar juga datang untuk menyampaikan usulan terbaru Washington.
Hasilnya, Amerika Serikat mengajukan proposal kedua. Rezaei menyebut usulan itu telah mengalami perbaikan dibandingkan tanggapan sebelumnya, tetapi masih belum memenuhi seluruh pertimbangan Iran.
Pada tahap ini, Teheran juga secara terbuka menyoroti persoalan kepercayaan terhadap komitmen Washington. Melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Iran menyampaikan bahwa pengalaman menghadapi kebijakan Amerika sebelumnya membuat Teheran tidak dapat begitu saja meyakini komitmen Washington terhadap kemungkinan kesepakatan.
Kekhawatiran utama Iran adalah kemungkinan Amerika kembali memilih tindakan militer setelah proses diplomatik berjalan selama beberapa waktu, apabila perhitungan strategisnya berubah.
Tanggapan Ketiga AS: Kesepakatan Belum Tercapai
Setelah keberatan Iran disampaikan, Washington mengirimkan tanggapan ketiga. Menurut Rezaei, jawaban terbaru tersebut lebih jelas dan lebih baik dibandingkan dua tanggapan sebelumnya.
Baca juga: Sejumlah Penerbangan ke Bandara King Fahd Dihentikan
Ia juga menyebut adanya indikasi bahwa Amerika Serikat mulai bersedia menerima tujuh persyaratan Iran. Rezaei menilai perkembangan tersebut dapat mencerminkan pengaruh keteguhan Teheran dalam mempertahankan tuntutannya.
Meski demikian, ia tidak menyatakan bahwa seluruh persyaratan telah diterima secara definitif. Teheran masih menemukan sejumlah ketidakjelasan dalam beberapa ketentuan dan rinciannya. Keberatan tersebut kembali disampaikan kepada Washington melalui Menteri Luar Negeri Iran.
Dengan demikian, pertukaran tiga tanggapan tersebut belum menandai tercapainya kesepakatan ataupun penyelesaian seluruh perbedaan kedua pihak.
Usulan Koridor Bersama Iran-Oman
Salah satu poin penting yang diungkapkan Rezaei adalah perubahan kerangka usulan Iran mengenai Selat Hormuz, terutama dibandingkan dengan rumusan dalam kesepahaman Islamabad.
Dalam kesepahaman tersebut, menurut penjelasannya, digunakan istilah seperti “pengaturan Iran” serta ketentuan mengenai penghormatan terhadap hukum internasional. Rezaei menilai rumusan itu berpotensi memunculkan beragam penafsiran.
Sebagai alternatif, Iran mengusulkan pembentukan koridor bersama Iran-Oman di wilayah perairan kedua negara. Mekanisme tersebut, menurut Rezaei, direncanakan untuk didaftarkan pada organisasi-organisasi internasional dengan persetujuan Iran dan Oman. Pengelolaan jalur perairan itu juga akan mengikuti kerangka yang diusulkan Teheran.
Baca juga: Rusia: NATO Tingkatkan Aktivitas Militer di Kawasan Baltik
Persoalan pungutan biaya pelintasan turut menjadi bagian penting proposal tersebut. Rezaei mengatakan, mekanisme baru itu dirancang agar pembayaran, jika disepakati, dilakukan secara tunai, bukan melalui sistem pembayaran tertunda atau kredit seperti sebelumnya.
Usulan tersebut masih merupakan bagian dari posisi yang dipaparkan pihak Iran. Belum ada konfirmasi dalam keterangan Rezaei bahwa kerangka itu telah disepakati Amerika Serikat maupun Oman.
Iran Tegaskan Haknya Tidak Dapat Diperjualbelikan
Dalam penjelasannya, Rezaei menempatkan isu nuklir sebagai agenda yang akan dibahas pada tahap berikutnya apabila kedua pihak memasuki perundingan khusus mengenai persoalan tersebut.
Ia menegaskan bahwa Iran akan terlebih dahulu mengemukakan hak-haknya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (Non-Proliferation Treaty/NPT) jika pembicaraan mengenai program nuklir berlangsung.
Bagi Teheran, hak-hak tersebut bukan komoditas yang dapat diperjualbelikan dalam proses perundingan.
Pemaparan Rezaei memperlihatkan bahwa jalur diplomasi Iran-AS masih berada dalam tahap penjajakan yang diwarnai perbedaan agenda, persoalan kepercayaan, dan tarik-menarik persyaratan. Meski tanggapan Washington disebut menunjukkan perkembangan, kesepakatan tetap bergantung pada penyelesaian keberatan kedua pihak, termasuk mengenai pengaturan Selat Hormuz dan agenda nuklir. []
Baca juga: Iran dan Tiga Negara Pakta Makkah Sepakat Lanjutkan Dialog Keamanan Kawasan







