Internasional
AP: Serangan Iran Mengubah Kehadiran Militer AS di Asia Barat

Media ABI, 1 November 2026 – Serangan Iran terhadap pangkalan dan infrastruktur militer Amerika Serikat (AS) di Asia Barat merusak berbagai fasilitas penting, mulai dari sistem radar peringatan dini hingga pesawat, hanggar, dan pusat komunikasi. Dampaknya turut mendorong Washington menarik sejumlah aset militernya dari kawasan Teluk Persia.
Baca juga: Yaman Serang Jalur Pipa Minyak dan Bandara Riyadh
Menurut laporan Associated Press (AP), Iran menyerang lebih dari 20 pangkalan militer AS. Hingga akhir Agustus, kerusakan pada peralatan dan aset militer tercatat di 26 lokasi. AP memverifikasi kerusakan melalui citra satelit dan wawancara dengan empat pejabat regional.
Serangan Merusak Pangkalan dan Infrastruktur Militer AS
Dalam periode 1 April hingga 30 Juni, ratusan bangunan dilaporkan rusak atau hancur. Kuwait menjadi negara dengan jumlah serangan terbanyak, sementara fasilitas militer AS di Bahrain, Irak, Yordania, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) juga terdampak.
Serangan paling mematikan yang diketahui terjadi di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait, pada 1 Maret dan menewaskan enam personel militer AS.
Pangkalan Ali Al Salem di Kuwait dihantam sedikitnya 30 kali. Sedikitnya 15 hanggar pesawat, sejumlah gudang, serta 10 bangunan dilaporkan rusak atau hancur. Di Camp Buehring, sebagian besar hanggar tidak lagi dapat digunakan, sementara area berkumpul personel mengalami kerusakan serius.
Kerusakan juga meliputi pesawat pengisian bahan bakar di udara, tangki bahan bakar, fasilitas komunikasi, dan tempat tinggal personel. Serangan terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi merusak bagian belakang pesawat Boeing E-3 Sentry. Seorang pejabat militer regional menyebut serangan tersebut turut merusak sejumlah pesawat lain, termasuk dua pesawat pengisian bahan bakar.
Pangkalan Al Dhafra, sekitar 32 kilometer di selatan Abu Dhabi, juga berulang kali menjadi sasaran pada awal perang. Hanggar, infrastruktur pendukung, radar peringatan dini, dan drone pengintai dilaporkan mengalami kerusakan. Serangan lainnya menyasar pusat CIA di Kedutaan Besar AS di Riyadh.
Radar Peringatan Dini Jadi Sasaran Utama
Pada dua hari pertama perang, Iran menghancurkan kubah pelindung radar di Camp Arifjan, Kuwait, dan fasilitas dukungan angkatan laut di Bahrain. Iran juga menargetkan radar bergerak di Prince Sultan, Arab Saudi, dan Muwaffaq Salti, Yordania.
Menurut N.R. Jenzen-Jones dari konsultan intelijen teknis ARES, radar peringatan dini merupakan aset mahal yang sulit diperbaiki maupun diganti.
Radar di Yordania dilaporkan hancur. Sistem tersebut termasuk salah satu dari hanya 13 unit sejenis yang dimiliki militer AS secara global, dengan nilai sekitar 500 juta dolar AS per unit berdasarkan dokumen anggaran.
Di Qatar, radar yang disebut sebagai satu-satunya jenisnya di kawasan mengalami kerusakan signifikan. Sistem itu diperoleh melalui kontrak senilai 1,1 miliar dolar AS pada 2013.
Baca juga:
- Iran: Kabel Bawah Laut, Pusat Data, dan Fasilitas AI di Teluk Berpotensi Jadi Sasaran Serangan
- Pentagon Siapkan Pangkalan Militer Hadapi Gangguan Rantai Pasok
- Yaman Peringatkan Warga Arab Saudi agar Menjauhi Fasilitas Minyak
- Profesor UEA Sebut Israel Rezim Paling Dibenci, Siapa Peringkat Kedua?
Raphael Cohen, direktur program keamanan nasional di RAND School of Public Policy, menilai kerusakan peralatan militer dalam konflik semacam ini sulit dihindari. Ia mengingatkan bahwa militer modern rentan terhadap serangan drone murah dalam jumlah besar.
“Ini seharusnya menjadi peringatan bagi Amerika Serikat,” kata Cohen.
Kerusakan Militer Perbesar Ketidakpastian Strategi Washington
AP mencatat, pemerintah AS hanya mengungkapkan secara terbatas skala kerusakan militernya. Informasi melalui citra satelit juga tertunda, sementara Komando Pusat AS (CENTCOM) membatasi pengungkapan dengan alasan keamanan operasional.
Di tengah kerusakan tersebut, Presiden Donald Trump mempertimbangkan serangan baru setelah pemilihan paruh waktu. Teheran, sebaliknya, telah menjanjikan pembalasan besar jika serangan kembali dilancarkan.
Penarikan sejumlah pesawat, sistem pertahanan udara, dan perangkat komunikasi dari kawasan Teluk memperlihatkan dampak serangan terhadap postur militer AS. Namun, besarnya kerusakan tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh perubahan strategi Washington.
Berbulan-bulan setelah perang dimulai, AP menilai pemerintah AS belum memiliki strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik. Jika permusuhan kembali pecah, kerusakan tambahan terhadap aset militernya masih menjadi risiko. []
Baca juga: Peringatan Ayatullah Mojtaba Tertuju kepada AS dan Israel







![Patrick Wintour menyoroti konsekuensi perang terhadap Iran bagi ekonomi global, hubungan transatlantik, dan tatanan keamanan internasional. [Morteza Nikoubazl/NurPhoto/Shutterstock]](https://i0.wp.com/ahlulbaitindonesia.or.id/wp-content/uploads/2026/10/Tump.png?resize=80%2C80&ssl=1)