Internasional
Arab Saudi Tak Bisa Membeli Kemenangan di Yaman

Media ABI, 1 November 2026 – Besarnya belanja militer Arab Saudi belum mampu menghasilkan kemenangan strategis dalam perang Yaman. Keunggulan persenjataan Riyadh tak kunjung berbuah strategi yang koheren, kekuatan darat yang efektif, maupun capaian politik yang nyata. Demikian penilaian American Security Project (ASP) dalam analisis berjudul “Saudi Arabia Cannot Buy Victory in Yemen”, yang ditulis Joshua Perez dan diterbitkan pada 28 Oktober 2026.
ASP menilai, Riyadh cenderung memperlakukan serangan berkelanjutan dari Yaman sebagai persoalan yang dapat diatasi melalui pengadaan peralatan militer. Pendekatan ini bertumpu pada anggapan bahwa penambahan rudal pencegat dan pesawat akan memberikan perlindungan memadai bagi sasaran-sasaran tertentu.
Baca juga: Negara Arab Pro-Normalisasi Cermati Masa Depan Politik Israel
Namun, dinamika perang justru memperlihatkan keterbatasan pendekatan tersebut. Konflik berkepanjangan telah membentuk kekuatan Yaman yang terampil menerapkan komando terdesentralisasi dan beradaptasi dengan cepat. Ditambah penguasaan persenjataan canggih dan taktik yang efektif, kemampuan tersebut memberi pasukan Yaman keunggulan dalam memanfaatkan kondisi geografis dibandingkan pasukan Saudi.
Pusat penelitian Amerika lainnya, Stimson Center, juga menilai keunggulan militer Arab Saudi berulang kali gagal menghasilkan kemenangan strategis dalam menghadapi strategi adaptif Yaman. Untuk menutupi kelemahan kapasitas pasukan daratnya sendiri, Riyadh mengandalkan milisi Yaman, mitra koalisi, dan petempur asing.
Strategi tersebut memang dapat mengurangi beban politik di dalam negeri akibat jatuhnya korban jiwa di kalangan warga Saudi. Namun, ketergantungan pada loyalitas yang rapuh dan bertumpu pada kepentingan bersama justru berisiko memecah rantai komando dan kendali.
Keterlibatan petempur Sudan dalam konflik-konflik sebelumnya antara Arab Saudi dan Yaman memperlihatkan bahwa pengalihan risiko kepada pihak asing tidak serta-merta menyelesaikan persoalan mendasar mengenai komando dan legitimasi perang. Menurut analisis ASP, kelompok bersenjata kontrak mungkin mampu menguasai wilayah tertentu, tetapi kapasitas mereka untuk membangun kondisi yang bertahan lama dan mencegah berulangnya konflik dengan Arab Saudi pada masa mendatang jauh lebih terbatas.
Dampak kebuntuan ini pun tidak akan berhenti di wilayah Yaman. ASP menegaskan, rudal dan pesawat nirawak Houthi mampu mengancam kota-kota, bandara, serta fasilitas minyak Arab Saudi. Ancaman terhadap jalur pelayaran di sekitar Selat Bab al-Mandab juga berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan mengganggu arus perdagangan melalui Terusan Suez.
Bahkan, serangan terbatas dapat memaksa kapal mengubah rute, menaikkan premi asuransi, dan memperbesar ketidakpastian di pasar energi. Dengan kemampuan tersebut, Houthi memiliki instrumen tekanan untuk membebankan biaya ekonomi secara berulang kepada Arab Saudi dan mitra-mitranya, tanpa harus mengalahkan lawan melalui konfrontasi militer konvensional. Analisis itu juga menyinggung penggunaan strategi serupa oleh Iran.
Ketergantungan pada AS dan Risiko Eskalasi
Analisis ASP turut menyoroti besarnya ketergantungan Arab Saudi pada Amerika Serikat dalam perang Yaman. Ketergantungan Riyadh terhadap intelijen, pemeliharaan, dan pasokan amunisi Amerika, menurut analisis tersebut, semakin mengaburkan batas antara dukungan dan keterlibatan langsung.
Jika serangan Houthi menyasar fasilitas minyak strategis, kapal dagang, atau aset Amerika Serikat, Washington dapat menghadapi tekanan untuk memberikan respons terbuka. Dorongan untuk bertindak dapat muncul dari kepentingan mempertahankan pengaruh regional AS, melindungi pelayaran maritim, serta mencegah perluasan pijakan operasional Iran dan Poros Perlawanan.
Baca juga:
- 57 Ribu Tanda Tangan Desak Penyelidikan Peran Inggris dalam Perang Gaza
- AP: Serangan Iran Mengubah Kehadiran Militer AS di Asia Barat
- CNN: Demokrat Berpeluang Rebut Kendali DPR dan Senat AS
- Iran Akan Ubah Doktrin Nuklir jika Perang Kembali Pecah
Meski demikian, ASP mencatat bahwa pemerintahan Amerika Serikat mewaspadai keterlibatan dalam konflik lain tanpa batas waktu yang jelas. Pada saat yang sama, negara-negara kawasan didorong memikul tanggung jawab lebih besar atas keamanan regional.
Apabila keterlibatan AS meningkat, dukungan tersebut diperkirakan dapat berawal dari penyediaan intelijen, pertahanan udara, koordinasi, dan dukungan kontraterorisme. Namun, ketergantungan yang berkelanjutan pada dukungan eksternal juga memperlihatkan keterbatasan kemampuan Riyadh membangun strategi keamanan yang mandiri.
Merumuskan Kemenangan yang Lebih Realistis
ASP menilai Riyadh perlu mendefinisikan ulang tujuan kemenangannya dengan sasaran yang lebih terbatas dan realistis. Arab Saudi tidak harus menaklukkan Yaman utara atau melenyapkan Houthi. Prioritas yang lebih masuk akal adalah mencegah kelompok tersebut menutup jalur pelayaran strategis, menyerang infrastruktur Saudi, atau mendominasi masa depan politik Yaman.
Untuk mencapai tujuan itu, Arab Saudi membutuhkan sistem pertahanan udara dan rudal yang terintegrasi, intelijen berkelanjutan mengenai jaringan peluncuran, upaya mencegah aliran senjata, serta koordinasi komando yang terpadu di antara pasukan Yaman yang didukung Riyadh.
Tekanan militer, menurut analisis tersebut, semestinya diarahkan untuk mendukung perundingan, melindungi pusat-pusat populasi, serta memperkuat koalisi politik Yaman yang sah dan berkontribusi terhadap keamanan Arab Saudi.
Para pemimpin Saudi juga perlu memberikan perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia dan institusi dengan keseriusan yang setara dengan pengadaan persenjataan. Pelatihan yang mendorong inisiatif, perencanaan bersama yang menyinergikan operasi udara dan darat, serta kemitraan yang akuntabel dengan pasukan Yaman dinilai lebih penting daripada penambahan senjata baru.
Reformasi semacam itu mungkin tidak semencolok pembelian pesawat tempur atau rudal pencegat. Namun, langkah tersebut menyasar kelemahan mendasar yang selama ini dimanfaatkan Houthi.
Pada akhirnya, ASP menilai Arab Saudi masih memiliki peluang untuk membendung ancaman Houthi, melindungi Laut Merah, dan mengurangi risiko perang yang lebih luas. Namun, kemenangan di Yaman tidak dapat dibeli. Tanpa menyelaraskan kemampuan militer dengan tujuan politik yang realistis, peningkatan belanja pertahanan hanya berisiko memperpanjang kebuntuan dengan ongkos yang kian mahal, sekaligus memperbesar kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut pada masa mendatang. []
Baca juga: Ayatullah Mojtaba Khamenei Peringatkan AS dan Israel







