Internasional
Mesir Tak Akan Kerahkan Pasukan untuk Perang Melawan Yaman

Media ABI, 2 November 2026 – Mesir menegaskan tidak akan mengirimkan pasukan militer untuk berperang melawan Yaman. Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menyatakan, keputusan parlemen untuk mendukung Arab Saudi tidak berarti Kairo akan mengerahkan pasukan ke medan perang.
Kantor Berita Farsnews, Minggu (1/11/2026), melaporkan bahwa Abdelatty menegaskan keputusan parlemen mengenai dukungan militer kepada Arab Saudi bukanlah mandat untuk mengirimkan pasukan Mesir guna memerangi Yaman.
Baca juga: Arab Saudi Tak Bisa Membeli Kemenangan di Yaman
Dalam keterangannya kepada Sky News Arabia, Abdelatty mengatakan Mesir berupaya meredakan ketegangan di Yaman dan mengembalikan situasi pada kesepahaman-kesepahaman sebelumnya.
Pada Senin pekan lalu, parlemen Mesir yang dipimpin Hisham Badawi menyetujui pemberian kewenangan kepada Presiden Abdel Fattah el-Sisi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mendukung Arab Saudi.
Pemungutan suara tersebut berlangsung dalam sidang tertutup ketiga yang membahas langkah-langkah dukungan bagi Riyadh.
Menanggapi keputusan itu, anggota Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mohammed Ali al-Houthi, memperingatkan agar militer Mesir tidak terseret ke dalam perang baru melawan Yaman. Menurutnya, keterlibatan tersebut akan menguras kemampuan militer Mesir sekaligus menguntungkan rencana rezim Israel untuk menyerang Semenanjung Sinai.
Sejumlah analis menilai keputusan parlemen Mesir itu lebih menonjolkan kepentingan propaganda dan politik bagi Kairo maupun Riyadh. Mereka menilai pemerintah Mesir tampaknya tidak ingin kembali terperosok ke dalam konflik Yaman, seperti yang pernah dialaminya dalam sejarah.
Baca juga:
- Serangan Udara Saudi di Taiz Tewaskan Enam Orang, Termasuk Empat Anak
- Solidaritas Palestina Kalah oleh Kalkulator Kementerian Pariwisata
- Iran Tetapkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Inggris sebagai Organisasi Teroris
Pada perang saudara Yaman periode 1962–1970, militer Mesir mengerahkan 70.000 personel ke negara tersebut. Setelah mengalami kekalahan besar dan kehilangan 10.000 personel, Mesir terpaksa menarik pasukannya dari Yaman.
Al-Houthi lebih lanjut menegaskan bahwa Sana’a tidak gentar menghadapi pembentukan aliansi-aliansi baru. Ia menyerukan negara-negara Islam untuk membangun aliansi guna menghadapi rezim Israel.
Ia juga meminta negara-negara kawasan, termasuk Mesir, Turki, dan Pakistan, agar tidak terlibat dalam agresi terhadap Yaman ataupun melanjutkan blokade terhadap negara tersebut. Sebaliknya, negara-negara itu diminta mengambil langkah untuk menghentikan agresi dan blokade.
Sementara itu, Abdelatty berharap hari-hari mendatang akan ditandai dengan menguatnya rasionalitas dan kembalinya pihak-pihak terkait ke meja perundingan.
Ia mengungkapkan bahwa Mesir meningkatkan intensitas komunikasi dengan Teheran, Washington, dan Riyadh untuk mencegah eskalasi militer.
Abdelatty juga menyoroti intensitas upaya diplomatik Mesir yang dikoordinasikan bersama negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Turki, dan Pakistan guna meredakan ketegangan di kawasan. []
Baca juga: 57 Ribu Tanda Tangan Desak Penyelidikan Peran Inggris dalam Perang Gaza







