Internasional
Al-Houthi: Yaman Berdiri di Sisi Iran dan Poros Perlawanan

Media ABI, 26 Agustus 2026 — Pemimpin Ansarullah Yaman Abdulmalik Badruddin al-Houthi menegaskan dukungan Yaman kepada Iran sekaligus komitmennya memperkuat kerja sama di antara berbagai front dalam Poros Perlawanan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadiri jutaan warga Yaman dan dilaporkan Al Masirah TV pada Selasa malam (25/8/26).
Al-Houthi menyebut perkembangan konflik di kawasan tidak dapat dilepaskan dari apa yang dipandangnya sebagai rangkaian tekanan Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, agresi terhadap Iran dan Lebanon, pelanggaran kedaulatan Suriah, serta serangan terhadap Yaman merupakan bagian dari konspirasi kedua negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang juga banyak menyinggung makna Maulid Nabi bagi rakyat Yaman. Al-Houthi mengatakan peringatan tersebut memiliki tempat khusus di tengah masyarakat dan telah berkembang menjadi momentum untuk memperkuat keimanan serta menghidupkan kembali hubungan umat dengan pesan yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Jenderal Hatami: Iran Siap Berperang hingga 20 Generasi
Dari konteks tersebut, al-Houthi menyerukan umat Islam untuk kembali kepada nilai-nilai agama dan melihat kembali kondisi yang sedang dihadapi. Menurutnya, umat perlu membebaskan diri dari ketundukan kepada kekuatan yang dianggap membawa kerusakan, sekaligus menolak penguasaan, pendudukan, dan perampasan sumber daya bangsa-bangsa Muslim.
Pandangan tersebut kemudian diarahkan al-Houthi pada situasi Palestina. Dia menilai Zionisme menargetkan umat Islam dan berupaya memperluas pengaruh melalui pendudukan wilayah serta penindasan terhadap masyarakat Muslim.
Karena itu, menurut al-Houthi, penghentian kejahatan terhadap rakyat Palestina membutuhkan sikap yang tegas. Perlawanan disebutnya sebagai bagian dari keteguhan dalam mempertahankan pesan agama dan menolak dominasi pihak yang dipandang sebagai musuh.
Al-Houthi selanjutnya mengaitkan situasi tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai agenda “perubahan Timur Tengah” dan “Israel Raya”. Menurutnya, ambisi tersebut tidak hanya mengancam Palestina, tetapi memiliki dampak yang lebih luas terhadap kawasan dan umat Islam.
“Agresi terhadap Iran dan Lebanon, pelanggaran kedaulatan Suriah dan penargetan Yaman merupakan bagian dari konspirasi Amerika dan Israel,” kata al-Houthi.
Baca juga: Militer Iran Peringatkan Kelompok Takfiri dan Unsur Anti-Iran
Dia kemudian menunjuk Iran sebagai salah satu contoh keteguhan dalam menghadapi tekanan tersebut. Menurut al-Houthi, hasil keteguhan itu terlihat dalam perlawanan Iran terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel, serta pada front perlawanan di Lebanon, Gaza, Yaman, dan Irak. Dia juga menghubungkannya dengan perjuangan rakyat Yaman untuk mencapai kemerdekaan penuh.
Dari situ, al-Houthi kembali menegaskan posisi Ansarullah terhadap Palestina. Dia mengatakan dukungan kepada rakyat Palestina dan para pejuang perlawanan akan terus diberikan sampai tercapainya apa yang disebutnya sebagai janji pasti mengenai runtuhnya rezim Israel.
Komitmen tersebut berjalan beriringan dengan sikap yang dia nyatakan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Al-Houthi menilai kedua negara tersebut menjalankan agenda yang mengancam umat Islam melalui proyek perubahan Timur Tengah dan pembentukan Israel Raya.
“Kami mendukung rakyat Muslim Iran dan sistem Islam mereka. Kami akan terus memperkuat prinsip persatuan di antara berbagai front dan meningkatkan kerja sama dalam Poros Perlawanan,” ujar al-Houthi.
“Kami berdiri sepenuhnya bersama rakyat Muslim Iran dan sistem Islamnya,” lanjutnya.
Selain Iran dan Palestina, al-Houthi menegaskan dukungan terhadap perlawanan Islam di Lebanon serta berbagai front lain dalam Poros Perlawanan. Dia juga menyerukan umat Islam untuk bergabung dengan apa yang disebutnya sebagai front jihad dan perlawanan.
Baca juga: Hizbullah: Pilihan Kami Tetap Melawan, Bukan Menyerah
Setelah membahas situasi regional, al-Houthi beralih pada kondisi yang dihadapi rakyat Yaman. Dia menegaskan hak rakyat Yaman untuk mencapai tujuan dan memenuhi tuntutan mereka, termasuk mengakhiri blokade serta pendudukan yang menurutnya telah berlangsung selama 12 tahun akibat agresi Saudi di bawah pengawasan Amerika Serikat.
Menurut al-Houthi, Arab Saudi membatasi akses rakyat Yaman terhadap kekayaan nasional dan menutup bandara mereka. Dia juga menyoroti kebijakan yang menurutnya membuka wilayah udara Makkah dan Madinah bagi warga Yahudi Zionis.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari kritik al-Houthi terhadap pemerintah Saudi. Dia menuduh Riyadh terus mempertahankan dan memperketat blokade, memperkuat kemampuan militer, serta berupaya memecah rakyat Yaman. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk penindasan yang pada akhirnya melayani kepentingan Zionisme.
Al-Houthi mengatakan kondisi itu menunjukkan perlunya tindakan serius melalui seluruh sarana yang dianggap sah untuk mengakhiri ketidakadilan terhadap rakyat Yaman. Dia juga menyebut kebijakan Saudi sebagai alasan yang membenarkan pilihan rakyat Yaman menerapkan prinsip “blokade dibalas dengan blokade” serta menargetkan mobilisasi militer.
“Rezim Saudi, sebagai agresor dan pendukung Zionisme, memikul tanggung jawab penuh atas seluruh konsekuensi dari penargetan terhadap rakyat kami,” tegasnya.
Menjelang akhir pidatonya, al-Houthi menyerukan rakyat Yaman untuk memohon pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, dan terus berusaha mendapatkan kembali hak-hak yang mereka anggap sah.
Dia kemudian menutup pidatonya dengan menyampaikan penghargaan atas kehadiran besar rakyat Yaman dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Apresiasi juga disampaikan kepada para penyelenggara, ulama, aparat keamanan, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan peringatan tersebut. []
Baca juga: Qalibaf kepada Trump: “Kami Akan Membuat Amerika Kelaparan”







