Internasional
Pentagon Terus Perbarui Data Korban Militer AS dalam Perang Iran

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Pentagon kembali memperbarui data korban militer Amerika Serikat dalam perang dengan Iran. Dalam pembaruan pada Rabu, 19 Agustus, lebih dari 50 tentara yang terluka ditambahkan ke dalam catatan. Jumlah korban sejak serangan AS terhadap Iran pada 28 Februari kini tercatat 18 tewas dan 757 terluka.
Menurut Fars News Agency, Kamis, 20 Agustus, pembaruan tersebut dilakukan ketika Pentagon menghadapi sorotan media dan anggota parlemen Amerika terkait cara pemerintah AS mengungkap data korban perang yang dinilai lambat dan dilakukan secara bertahap.
Data dalam Defense Casualty Analysis System atau DCAS menunjukkan angka tersebut setelah kategori “operasi luar negeri” digabungkan dengan data operasi yang oleh Washington disebut “Epic Fury”.
Baca juga: Gagal Taklukkan Iran Melalui Militer, Trump Sulut Perang Baru
CNN melaporkan bahwa Pentagon membuat kategori “operasi luar negeri” pada bulan lalu untuk mencatat personel militer yang tewas atau terluka sejak 7 Juli. Pentagon belum menjelaskan secara rinci konflik atau insiden yang tercakup dalam kategori tersebut.
Tanggal 7 Juli bertepatan dengan pemberitahuan pemerintahan Donald Trump kepada Kongres bahwa Amerika Serikat telah memulai konflik baru dengan Iran. Pemberitahuan tersebut disampaikan melalui surat yang mengacu pada War Powers Act.
CNN telah menghubungi Pentagon untuk meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kategori tersebut.
Persoalan transparansi data korban bukan kali pertama menempatkan Pentagon di bawah sorotan. Beberapa pekan lalu, empat korban tewas dan puluhan korban luka sempat hilang dari sistem sebelum kembali tercantum dalam catatan.
Kementerian Perang AS saat itu menjelaskan melalui media sosial bahwa perubahan tersebut disebabkan “gangguan data sementara”.
Baca juga: Khibiny di Balik Su-35, Perisai Elektronik untuk Mengecoh Radar Lawan
CNN sebelumnya juga melaporkan keterlambatan Pentagon dalam mencatat jumlah tentara Amerika yang terluka selama konflik dengan Iran. Para pejabat AS menyebut persyaratan keamanan sebagai alasan keterlambatan penyampaian data tersebut.
Pembaruan terbaru Pentagon muncul pada hari yang sama ketika Trump menyatakan situasi dengan Iran saat ini “sangat baik”. Namun, beberapa jam kemudian, Presiden AS tersebut kembali meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Pada Kamis dini hari, Trump melalui X mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan” dalam sejarah terhadap Republik Islam Iran. []
Baca juga: Pentagon Bingung Ungkap Rahasia Serangan Presisi Iran







