Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Jenderal Hatami: Iran Siap Berperang hingga 20 Generasi

Published

on

Panglima Angkatan Darat Iran menyebut perang modern sebagai pertarungan kehendak, pemikiran, dan ketahanan bangsa.
Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran Mayor Jenderal Amir Hatami menegaskan kesiapan Iran menghadapi berbagai skenario konflik dan perang berkepanjangan.

Media ABI, 25 Agustus 2026 — Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran Mayor Jenderal Amir Hatami menegaskan kesiapan Iran menghadapi berbagai kemungkinan konflik, termasuk perang yang berlangsung dalam waktu panjang. Dalam pernyataannya kepada para komandan markas regional Angkatan Darat di wilayah timur laut Iran, Hatami menyebut Iran siap “berperang selama 10 generasi, 20 generasi”.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Hatami menjelaskan perubahan karakter perang yang menurutnya tidak lagi hanya ditentukan oleh persenjataan. Dilansir Mehr News Agency pada Selasa (25/8/26), Hatami menyebut perang saat ini sebagai “perang kehendak, pemikiran, dan ketahanan bangsa-bangsa”.

Baca juga: Saudi Perketat Aturan bagi Pekerja Asing, Denda 50 Ribu Riyal Hingga Penjara

Menurut Hatami, sasaran musuh dalam jangka pendek, menengah, dan panjang terus dipantau. Angkatan bersenjata Iran juga disiapkan untuk menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi.

Pernyataan itu memperlihatkan cara pandang Iran terhadap daya tangkal yang tidak berhenti pada rudal, pesawat, atau sistem pertahanan udara. Kemampuan ekonomi, sosial, politik, informasi, dan psikologis juga dipandang memiliki peran dalam menentukan kemampuan sebuah negara menghadapi konflik.

Bukan soal berapa lama perang berlangsung

Ungkapan “10 generasi, 20 generasi” tidak dimaksudkan sebagai ukuran waktu atau perhitungan militer yang presisi. Pesan utamanya adalah kesinambungan kemampuan Iran untuk bertahan menghadapi tekanan dalam jangka panjang.

Dalam konsep daya tangkal klasik, sebuah negara berusaha mencegah serangan dengan menunjukkan kemampuan membalas dan memastikan bahwa tindakan agresif akan membawa biaya yang besar bagi pihak lawan. Perkembangan konflik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perhitungan tersebut semakin luas.

Keunggulan teknologi atau kemampuan menjalankan operasi militer dalam skala terbatas tidak selalu menjamin tercapainya tujuan politik. Ketahanan sebuah negara dalam menghadapi tekanan juga menjadi bagian dari perhitungan tersebut.

Hatami menegaskan Iran tidak akan membiarkan pihak luar menentukan perubahan peta negaranya. Karena itu, menurutnya, perlawanan harus dipertahankan dalam jangka panjang.

Baca juga: Dari Suez ke Hormuz, Akankah Amerika Mengulang Nasib Inggris?

Ancaman tidak hanya datang dalam bentuk serangan militer

Pernyataan Hatami juga menunjukkan bahwa ancaman yang dihadapi Iran dipandang lebih luas daripada perang konvensional.

Pemantauan terhadap sasaran musuh dalam jangka pendek, menengah, dan panjang berjalan bersamaan dengan persiapan menghadapi berbagai skenario. Tekanan politik dan ekonomi, operasi informasi, perang psikologis, serta upaya memengaruhi kondisi politik dan sosial di dalam negeri dapat menjadi bagian dari tekanan terhadap sebuah negara.

Dalam situasi seperti itu, bentuk ancaman dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, kesiapan menghadapi konflik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi satu jenis serangan, tetapi juga kemampuan mempertahankan kapasitas negara ketika tekanan berlangsung lama.

Biaya dari sebuah serangan

Hatami juga menekankan pentingnya membuat musuh memahami konsekuensi dari tindakan bermusuhan. Menurutnya, Iran harus mampu memberikan kegagalan yang cukup kepada musuh agar mereka memahami bahwa wilayah Iran bukan tempat untuk menjalankan rencana perubahan peta negara.

Baca juga: Bloomberg: Iran Punya Banyak Cara Balas Sanksi AS

Pesan tersebut sejalan dengan prinsip dasar daya tangkal. Ancaman hanya akan memiliki efek pencegahan apabila pihak lawan percaya bahwa tindakan agresif akan menimbulkan konsekuensi nyata dan berat.

Namun, daya tangkal juga memiliki batas yang sensitif. Tujuannya bukan mendorong perang, melainkan mencegah perang dengan membuat biaya memulai konflik menjadi terlalu besar. Karena itu, kekuatan ancaman selalu berkaitan dengan kemampuan mengendalikan eskalasi.

Ketahanan menjadi bagian dari kekuatan militer

Penekanan Hatami pada perang sebagai pertarungan kehendak dan ketahanan menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak lagi dilihat hanya dari jumlah atau kecanggihan persenjataan.

Pengalaman berbagai konflik kontemporer memperlihatkan bahwa keunggulan udara, informasi, atau teknologi dapat memberikan keuntungan besar di medan tempur, tetapi belum tentu langsung menghasilkan tujuan politik yang diinginkan.

Kemampuan untuk terus bertahan, memulihkan kapasitas, menjaga proses pengambilan keputusan, serta mempertahankan ketahanan politik dan sosial karena itu menjadi bagian penting dari kekuatan sebuah negara.

Baca juga: Trump Terjepit Beban Utang dan Perang

Hatami juga menyebut empat hal yang menjadi bagian dari kesiapan menghadapi ancaman masa depan. Keempatnya mencakup penguatan sinergi angkatan bersenjata, peningkatan kemampuan tempur Angkatan Darat, peningkatan kesadaran dan spiritualitas, serta perhatian terhadap kesejahteraan personel.

Pernyataan tentang kesiapan berperang hingga 10 atau 20 generasi dengan demikian membawa pesan yang lebih luas daripada ungkapan retoris. Iran ingin menunjukkan bahwa perhitungan terhadap kemampuan militernya tidak dapat hanya didasarkan pada jumlah senjata, keunggulan teknologi, atau hasil sebuah operasi.

Bagi pihak yang mempertimbangkan tekanan terhadap Iran, pesan Hatami adalah bahwa kemampuan bertahan dalam konflik panjang juga harus diperhitungkan. Daya tangkal, dalam pandangan tersebut, bukan hanya kemampuan untuk menyerang balik, tetapi juga kemampuan sebuah negara untuk tetap berdiri ketika tekanan berlangsung dari waktu ke waktu. []

Baca juga: Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS: Perang Iran Bencana bagi Pasukan dan Ekonomi AS