Internasional
Bongkar Borok USS Abraham Lincoln, Penerbit Stars and Stripes Dibidik Pentagon

Media ABI, 21 Agustus 2026 — Pentagon dilaporkan mempertimbangkan pencopotan Max Lederer, penerbit Stars and Stripes yang telah memimpin media militer Amerika Serikat selama 19 tahun. Rencana tersebut muncul di tengah perselisihan antara media itu dan Departemen Pertahanan, setelah Stars and Stripes menyoroti kondisi USS Abraham Lincoln yang dikerahkan dalam perang melawan Iran.
Menurut CBS News yang dikutip Fars News Agency pada Kamis, 20 Agustus 2026, seorang pejabat Amerika mengatakan pimpinan Pentagon telah membahas kemungkinan mencopot Lederer sebelum masa pensiunnya. Pemerintahan Donald Trump disebut tengah berupaya mengubah arah dan pola kerja Stars and Stripes.
Baca juga: Analis: Perang Iran Bisa Jadi Kegagalan Terbesar AS
Lederer sebelumnya telah mengumumkan kepada staf bahwa dirinya akan pensiun pada 30 September. Dalam memo yang disampaikan Selasa, dia menyebut terdapat perbedaan mendasar antara pandangannya mengenai kepemimpinan, nilai, dan misi Stars and Stripes dengan arah yang diinginkan pimpinan Departemen Pertahanan.
“Sudah jelas bagi saya bahwa filosofi kepemimpinan saya dan pemahaman saya mengenai nilai serta misi Stars and Stripes memiliki perbedaan mendasar dengan arah yang diinginkan pimpinan Departemen Pertahanan untuk organisasi ini,” tulis Lederer.
Dia mengatakan akan membantu memastikan proses pergantian berjalan lancar hingga akhir September.
Perselisihan antara Stars and Stripes dan Pentagon bukan perkara baru. Pemimpin redaksi Eric Slavin sebelumnya juga berbicara secara terbuka kepada sejumlah media mengenai perbedaan dengan pimpinan Departemen Pertahanan.
Pada Januari, juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menyerukan “pembaruan Stars and Stripes untuk abad ke-21”. Menurut Parnell, Pentagon ingin memodernisasi operasional media tersebut, mengubah kontennya, serta menjauhkannya dari materi yang dianggap dapat mengganggu moral personel militer.
Stars and Stripes setiap hari diakses sekitar 1,4 juta pembaca, terutama melalui internet. Media tersebut juga menerbitkan edisi cetak bagi personel militer Amerika yang ditempatkan di berbagai lokasi terpencil di luar negeri.
Baca juga: IRGC: Jika Perang Pecah Lagi, Iran Siapkan Senjata Lebih Merusak
Pentagon mengkritik Stars and Stripes karena menerbitkan artikel yang menurut pemerintah dapat ditemukan personel militer melalui media lain. Kritik lain menyebut media tersebut lebih banyak mengumpulkan berita daripada menghasilkan laporan eksklusif.
Parnell mengatakan Stars and Stripes seharusnya berfokus pada pertempuran, sistem persenjataan, kebugaran, daya tempur, kemampuan bertahan hidup, dan berbagai persoalan militer. Menurutnya, media tersebut tidak lagi perlu memuat berita berulang mengenai rumor Washington atau mencetak ulang laporan Associated Press.
Penggunaan materi dari media lain sendiri merupakan praktik yang lazim dalam industri pers untuk melengkapi informasi yang tidak diliput langsung oleh sebuah media.
Tekanan terhadap Stars and Stripes
Tekanan terhadap media tersebut juga terlihat dalam kasus Jacqueline Smith. Editor urusan publik Stars and Stripes itu diberhentikan pada April, beberapa hari setelah menulis artikel yang mengkritik pembatasan terhadap materi layanan berita dan konten sindikasi.
Smith kemudian menggugat Pentagon pada Juni. Dalam gugatannya, dia menuduh pemecatan tersebut merupakan tindakan pembalasan dan melanggar haknya berdasarkan Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat.
Pemerintahan Trump sebelumnya juga memperketat akses media yang meliput kegiatan militer. Pada 2025, sejumlah media harus meninggalkan ruang kerja mereka di Pentagon setelah tidak menyetujui kebijakan baru yang diberlakukan pemerintah.
Stars and Stripes selama bertahun-tahun telah memberitakan berbagai persoalan internal militer Amerika, mulai dari masalah perumahan dan kondisi barak hingga dugaan kelalaian di fasilitas penitipan anak militer. Media tersebut juga menerbitkan laporan yang mengkritik kebijakan dan kepemimpinan militer.
Baca juga: Serangan Iran ke Pangkalan Bahrain Picu Krisis USS Abraham Lincoln
Dalam beberapa waktu terakhir, perang dengan Iran dan dampaknya terhadap personel militer Amerika menjadi salah satu fokus pemberitaannya.
Stars and Stripes termasuk media pertama yang melaporkan pertemuan keluarga awak USS Abraham Lincoln dengan pejabat sementara Angkatan Laut Amerika Serikat, Hung Cao, terkait penugasan kapal yang telah berlangsung hampir sembilan bulan.
Pertemuan di San Diego tersebut berlangsung tegang. Sejumlah keluarga awak kapal mempertanyakan kondisi USS Lincoln dan menyampaikan kekhawatiran mengenai kesehatan serta keselamatan para pelaut.
Keluhan yang disampaikan mencakup kesehatan mental awak kapal, keselamatan di geladak, kekurangan peralatan dan makanan, pencemaran air, serta gangguan layanan surat. Gangguan tersebut disebut membuat banyak paket kiriman untuk awak kapal hilang selama berbulan-bulan. Laporan mengenai kasus bunuh diri di kapal juga muncul dalam pemberitaan.
Menurut Military.com, salah seorang peserta pertemuan mempertanyakan misi USS Lincoln dalam operasi militer terhadap Iran. Orang tersebut mengatakan sulit merasa bangga terhadap pasangannya karena menilai militer Amerika “membunuh warga sipil tak bersalah”. Pasangannya juga disebut merasa bersalah atas pekerjaannya. Pernyataan tersebut mendapat tepuk tangan dari peserta lain.
Kasus Lederer kini menambah ketegangan antara Pentagon dan Stars and Stripes. Di satu sisi, Departemen Pertahanan berusaha mengubah arah media yang selama puluhan tahun menjadi sumber informasi bagi komunitas militer Amerika. Di sisi lain, Stars and Stripes terus memberitakan persoalan yang menyentuh langsung kondisi para personel dan keluarga mereka, termasuk dampak perang terhadap awak USS Abraham Lincoln. []
Baca juga: Iran Peringatkan Negara Teluk, Bantu AS Berarti Ikut Perang







