Internasional
Pertahanan Udara Iran Tumbangkan MQ-9 Reaper, “Pemburu Legendaris” Amerika

Media ABI, 16 Agustus 2026 — Majalah Amerika Serikat Newsweek melaporkan sekitar 45 drone MQ-9 Reaper milik AS telah ditembak jatuh atau hilang selama perang dengan Iran. Jumlah tersebut setara dengan hampir seperempat armada Reaper Amerika dan menunjukkan kerentanan drone yang selama hampir dua dekade menjadi salah satu alat utama Washington untuk pengintaian, pemantauan, dan serangan.
Menurut laporan Newsweek yang dikutip Fars News Agency pada Minggu (16/8/2026), sekitar 45 unit MQ-9 telah hilang sejak pemerintahan Donald Trump memulai perang terhadap Iran pada Februari. Jumlah itu mencakup drone yang ditembak jatuh maupun yang jatuh selama operasi.
Baca juga: Skandal USS USS Abraham Lincoln Menyeret Angkatan Laut AS
Pusat Riset Kongres AS pada Mei sebelumnya mencatat 24 Reaper termasuk dalam 42 pesawat Amerika yang rusak atau hancur selama operasi terhadap Iran. Bertambahnya angka kehilangan dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan tingginya tingkat kerugian yang dialami armada tersebut selama konflik.
MQ-9 Reaper dikenal karena kemampuannya bertahan lama di udara dan memantau medan perang secara terus-menerus. Drone ini dapat beroperasi hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki dan dilengkapi sensor canggih, kamera elektro-optik, sistem inframerah, serta radar aperture sintetis. Dalam misi serangan, Reaper dapat membawa rudal Hellfire dan bom berpemandu.
Namun, karakteristik tersebut justru menjadi kelemahan ketika berhadapan dengan jaringan pertahanan udara modern. Aaron Dawson, pakar kekuatan udara di Freeman Air and Space Institute, King’s College London, mengatakan Reaper berukuran besar, relatif lambat, dan tidak memiliki teknologi siluman. Menurutnya, drone tersebut dirancang ketika Amerika Serikat masih dapat mengandalkan keunggulan udara, kondisi yang tidak lagi dapat diasumsikan saat menghadapi sistem pertahanan modern.
Biaya pengadaan turut menjadi persoalan. Newsweek melaporkan satu unit Reaper modern membutuhkan sekitar 30 hingga 50 juta dolar AS, belum termasuk biaya operasional.
Baca juga: Newsweek: Iran Menang Penuh atas Amerika
Dawson menilai konflik tersebut juga memperlihatkan kelemahan yang lebih luas dalam pola peperangan Barat, yakni ketergantungan pada persenjataan berteknologi tinggi dan mahal, sementara kapasitas produksinya tidak selalu mampu mengimbangi tingkat penggunaan dalam perang berintensitas tinggi. Dia menunjuk menyusutnya persediaan rudal pencegat Patriot dan THAAD milik AS sebagai salah satu contohnya.
Meski mengalami kerugian besar, Newsweek mencatat MQ-9 Reaper masih menjadi salah satu drone paling serbaguna dalam arsenal Amerika. Kepala Staf Angkatan Udara AS pada Mei bahkan menyebutnya sebagai “aktor paling berharga” dalam perang dengan Iran hingga saat itu. Menurutnya, tidak ada pesawat lain yang mampu melakukan serangan sebanyak MQ-9.
Sejumlah pakar menilai masa depan Reaper tidak harus berakhir dengan penghentian penggunaannya. Drone tersebut dapat difokuskan pada lingkungan berisiko lebih rendah dan misi yang membutuhkan daya tahan panjang di udara. Untuk wilayah dengan pertahanan udara kuat, drone yang lebih murah dan dapat dikorbankan maupun sistem berteknologi siluman dinilai lebih sesuai.
Baca juga: Yaman Dukung Penuh Hizbullah Lebanon
Amerika Serikat juga mulai memperluas penggunaan drone berbiaya rendah. Pemerintahan Trump telah meluncurkan program senilai 1 miliar dolar AS untuk mengembangkan dan membeli drone murah buatan Amerika. Pentagon bahkan disebut mempelajari pengalaman Iran dalam penggunaan drone serang berbiaya rendah.
Menurut Newsweek, perang dengan Iran telah memberikan tantangan serius terhadap salah satu simbol keunggulan udara Amerika. Hilangnya hampir seperempat armada MQ-9 dalam beberapa bulan menunjukkan bahwa drone yang selama ini diandalkan untuk pengintaian dan serangan tidak lagi dapat beroperasi dengan kebebasan yang sama ketika menghadapi jaringan pertahanan udara yang kuat. []
Baca juga: Jurnalis AS: Masalah di USS Abraham Lincoln Terjadi di Seluruh Timur Tengah







