Internasional
Para Miliarder Berebut Pengaruh dalam Pemilu Sela Kongres AS

Media ABI, 2 November 2026 – Pemilu sela Kongres Amerika Serikat bukan hanya menjadi ajang perebutan kursi legislatif, tetapi juga arena persaingan para miliarder untuk memperluas pengaruh politik melalui pendanaan kandidat, partai, dan kelompok politik. Menurut laporan Kantor Berita IRNA pada Senin (2/11/2026), pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November itu akan menentukan sepertiga kursi Senat dan seluruh kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di tengah dominasi Partai Republik di kedua kamar Kongres, besarnya belanja politik kembali memicu perdebatan mengenai hubungan kekayaan dan kekuasaan.
Baca juga: Solidaritas Palestina Kalah oleh Kalkulator Kementerian Pariwisata
Uang dan Pengaruh Politik
Kekhawatiran terhadap dominasi uang tercermin dalam jajak pendapat Newsweek dan Politico. Sebanyak 72 persen responden menilai uang berpengaruh dalam politik Amerika, sementara 61 persen menganggap pengaruh para miliarder sudah berlebihan. Pandangan ini juga muncul di kalangan pemilih Kamala Harris (75 persen) dan Donald Trump (55 persen). Survei Harris pada 2025 menemukan 53 persen responden memandang para miliarder sebagai ancaman bagi demokrasi, meningkat tujuh poin dibandingkan hasil sebelumnya.
Senator Bernie Sanders termasuk tokoh yang konsisten mengkritik dominasi kelompok kaya dalam politik Amerika, terutama terkait distribusi kekayaan dan pengaruh terhadap kebijakan publik.
Dana Besar, Pertarungan Besar
Belanja iklan politik dalam pemilu ini diperkirakan mencapai 11,6 miliar dolar AS, melampaui sekitar 11,2 miliar dolar AS pada pemilihan presiden 2024. Elon Musk dilaporkan menggelontorkan sekitar 446 juta dolar AS, sebagian besar untuk persaingan Senat di Texas yang melibatkan Jaksa Agung Ken Paxton. Sementara itu, George Soros menyumbangkan sekitar 102 juta dolar AS dan Michael Bloomberg sekitar 80 juta dolar AS bagi kepentingan Partai Demokrat selama September-Oktober.
Reid Hoffman turut mendanai komite aksi politik (political action committee/PAC) yang mendukung kandidat penantang tokoh-tokoh yang memperoleh sokongan dari para miliarder dalam persaingan di Kansas dan Kentucky.
Besarnya pendanaan menunjukkan bahwa kompetisi tidak hanya berlangsung melalui kampanye kandidat, tetapi juga lewat organisasi politik dan mobilisasi pemilih.
Kekayaan dan Pertarungan Kebijakan
Pengaruh uang juga merambah perdebatan kebijakan. Di California, usulan pajak satu kali sebesar 5 persen atas kekayaan bersih miliarder menjadi medan pertarungan kepentingan. Ekonom Emmanuel Saez, dari University of California, Berkeley, yang terlibat dalam penyusunan proposal tersebut, menjelaskan bahwa rancangan itu sejak awal dimaksudkan untuk mendorong para miliarder membayar bagian pajak yang adil agar akses warga California terhadap layanan kesehatan tetap terjaga setelah pemangkasan anggaran Medicaid oleh pemerintahan Donald Trump.
Baca juga:
- Rusia: NATO Tingkatkan Aktivitas Militer di Kawasan Baltik
- Pejabat Yaman: Klaim Riyadh soal Redanya Ketegangan Tak Sesuai Fakta di Lapangan
- Wall Street Journal Soroti Kemajuan Intelijen dan Operasi Militer Angkatan Bersenjata Yaman
- Yaman Peringatkan Warga Arab Saudi agar Menjauhi Fasilitas Minyak
Sergey Brin, salah satu pendiri Google, dilaporkan mengalokasikan sekitar 102 juta dolar AS untuk mendukung penolakan terhadap proposal tersebut.
Di sisi lain, laporan The Conversation menyoroti besarnya pengeluaran Partai Republik untuk mempertahankan kursi-kursi yang terancam. Musk juga dilaporkan menyumbangkan lebih dari seperempat miliar dolar AS kepada kelompok politik Partai Republik, termasuk organisasi mobilisasi pemilih yang dibentuknya.
Suara Warga dan Kekuasaan Uang
Mantan Menteri Tenaga Kerja AS pada era Presiden Bill Clinton, Robert Reich, memperingatkan bahaya masuknya kekayaan miliarder ke dalam politik. Dalam artikelnya, Reich menulis, “Kekayaan para miliarder, ketika masuk ke ranah politik, berubah menjadi persoalan publik. Hal itu membuat suara pemilih biasa semakin sulit didengar dan menghancurkan demokrasi.”
Peringatan tersebut menyoroti persoalan mendasar dalam sistem politik ketika kemampuan finansial segelintir orang berpotensi memberi mereka akses dan daya pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan warga biasa.
Pemilu sela Kongres kembali mengangkat pertanyaan: sejauh mana suara warga dapat bersaing dengan kekuatan uang? Pendanaan politik merupakan bagian dari sistem elektoral, tetapi konsentrasi sumber daya pada segelintir orang berpotensi menciptakan ketimpangan akses terhadap proses politik dan pengambilan keputusan.
Pemilu 3 November bukan hanya menguji kekuatan partai-partai di Kongres, melainkan juga menyoroti pertarungan yang lebih mendasar dalam demokrasi Amerika: apakah arah politik bertumpu pada suara warga atau semakin ditentukan oleh mereka yang mampu membiayai persaingan. []
Baca juga: Mesir Tak Akan Kerahkan Pasukan untuk Perang Melawan Yaman







