Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Pasukan AS di Timur Tengah Khawatir Perang dengan Iran Kembali Pecah

Published

on

Personel militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Kemungkinan berlanjutnya perang dengan Iran memicu kekhawatiran atas keselamatan pasukan dan keamanan fasilitas militer AS di kawasan.
Personel militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Kemungkinan berlanjutnya perang dengan Iran memicu kekhawatiran atas keselamatan pasukan dan keamanan fasilitas militer AS di kawasan.

Media ABI, 2 November 2026 – Kemungkinan berlanjutnya perang dengan Iran memicu kekhawatiran yang kian meningkat di kalangan personel militer Amerika Serikat (AS) yang bertugas di Timur Tengah. Mereka dinilai masih berada dalam posisi rentan di tengah ketidakpastian situasi keamanan, demikian dilaporkan media Amerika Serikat.

Baca juga: Mesir Tak Akan Kerahkan Pasukan untuk Perang Melawan Yaman

Menurut laporan Kantor Berita IRNA, Minggu (1 November 2026), laman The Washington Sun menulis bahwa kekhawatiran tersebut juga dirasakan para veteran perang sebelumnya di kawasan itu. Mereka khawatir eskalasi ketegangan dapat memicu aksi balasan dan memperpanjang konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Seorang pejabat AS yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada The Washington Sun bahwa pasukan AS masih berada dalam posisi rentan dan insiden serupa dapat kembali terjadi sewaktu-waktu.

“Pasukan masih berada dalam posisi rentan, dan kejadian serupa bisa terulang kapan saja. Mereka tidak dapat benar-benar merasa aman. Selama perang ini, kami memiliki sistem persenjataan canggih, tetapi sistem tersebut tidak sempurna,” ujarnya.

Menurut The Washington Sun, Iran pada awal tahun ini menimbulkan kerusakan signifikan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di sejumlah negara, termasuk Kuwait dan Bahrain. Serangan tersebut, menurut pejabat AS itu dan sejumlah sumber lainnya, mematahkan anggapan di kalangan personel militer bahwa penempatan pasukan di wilayah-wilayah tersebut relatif aman.

Berdasarkan data Kementerian Perang AS, sedikitnya 23 personel militer tewas dan 865 lainnya terluka sejak Presiden AS Donald Trump memulai perang pada Februari 2026.

Baca juga: 

Namun, mengutip para pengkritik pemerintah AS, The Washington Sun menyebut angka tersebut kemungkinan lebih rendah daripada jumlah sebenarnya. Pentagon, dengan alasan “keamanan operasional”, menolak merilis data korban secara terperinci maupun mengonfirmasi sejumlah serangan Iran.

Dalam percakapan informal mengenai perang, sejumlah anggota komunitas militer AS mengatakan kepada The Washington Sun bahwa risiko yang dihadapi pasukan dan kelelahan personel menjadi perhatian utama. Kekhawatiran itu semakin besar karena sejumlah personel masih ditempatkan di fasilitas yang mengalami kerusakan, meskipun tidak hancur sepenuhnya.

Seorang anggota pasukan cadangan yang pernah ditugaskan ke Timur Tengah mengatakan bahwa penolakan terhadap dimulainya kembali baku tembak dengan Iran sangat kuat di lingkaran komunikasinya, yang juga mencakup rekan-rekan yang masih aktif bertugas. Ia juga menyebut adanya keraguan terhadap kepemimpinan militer.

Kekhawatiran lainnya berkaitan dengan keputusan Menteri Perang AS Pete Hegseth memecat Brett Sylvia, salah satu perencana senior militer yang dihormati. Seorang anggota pasukan cadangan Angkatan Darat AS mengatakan bahwa “semua orang khawatir” atas keputusan tersebut. Pentagon menuduh Sylvia membocorkan informasi rahasia yang diklasifikasikan. []

Baca juga: Yaman Siap Berunding Langsung dengan Arab Saudi melalui Mediasi Mesir

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan