Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Pakar AS: Tekanan Militer Berisiko Mengubah Doktrin Nuklir Iran

Published

on

Ted Postol, fisikawan dan mantan penasihat Kongres AS di bidang rudal dan persenjataan, memperingatkan bahwa tekanan militer terhadap Iran berisiko memicu peninjauan ulang doktrin nuklir dan penguatan daya tangkal Teheran.
Ted Postol, fisikawan dan mantan penasihat Kongres AS di bidang rudal dan persenjataan, memperingatkan bahwa tekanan militer terhadap Iran berisiko memicu peninjauan ulang doktrin nuklir dan penguatan daya tangkal Teheran.

Media ABI, 2 November 2026 – Tekanan militer terhadap Iran berisiko mendorong Teheran meninjau kembali doktrin nuklirnya dan memperkuat daya tangkal. Peringatan ini disampaikan Ted Postol, fisikawan dan mantan penasihat Kongres Amerika Serikat di bidang rudal dan persenjataan, sebagaimana dikutip Farsnews Agency, Minggu (1/11/2026).

Baca juga: IRGC Akan Ungkap Kapasitas dan Target Baru jika Kembali Diserang 

Postol memperkirakan Iran dapat mencapai tahap awal pembuatan senjata nuklir dalam satu hingga dua pekan jika keputusan politik untuk mengembangkannya diambil. Perkiraan tersebut mengasumsikan Iran memulai dari titik nol, tanpa persiapan material atau kegiatan pendahuluan di lokasi lain. Namun, skenario ini merupakan penilaian Postol, bukan bukti bahwa Iran telah memutuskan membuat senjata nuklir.

Lebih dari persoalan kemampuan teknis, Postol menyoroti dampak ancaman militer terhadap kalkulasi keamanan Teheran. Tekanan yang bertujuan membatasi kemampuan nuklir Iran justru berpotensi mendorong peninjauan ulang kebijakan nuklir dan penguatan daya tangkalnya.

Risiko tersebut bertambah rumit karena fasilitas bawah tanah Iran, menurut Postol, akan sangat sulit dihancurkan dengan serangan konvensional, termasuk bom penghancur bunker. Kedalaman, perlindungan beton, dan desain konstruksinya dinilai membatasi efektivitas serangan udara, meski hal itu tidak berarti seluruh fasilitas Iran dipastikan kebal.

Baca juga: 

Dalam situasi demikian, Postol mengingatkan bahwa konsekuensi konflik juga dapat menjangkau kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel, yang menurutnya tetap rentan terhadap kemungkinan serangan balasan Iran.

Peringatan itu menggarisbawahi dilema strategi pencegahan: tekanan militer untuk membatasi kemampuan lawan justru dapat mendorong perubahan kebijakan yang hendak dicegah. Meski tidak membuktikan Iran telah memutuskan membuat senjata nuklir, penilaian Postol menyoroti pentingnya memperhitungkan konsekuensi strategis sebelum kekuatan militer dijadikan instrumen utama menghadapi Teheran. []

Baca juga: New York Times: Netanyahu dan Panglima Militer Israel Berselisih soal Iran

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan