Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Pejabat Yaman: Klaim Riyadh soal Redanya Ketegangan Tak Sesuai Fakta di Lapangan

Published

on

Muhammad Ali al-Houthi, anggota Dewan Tinggi Politik Yaman, mengkritik klaim Arab Saudi mengenai upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Muhammad Ali al-Houthi, anggota Dewan Tinggi Politik Yaman, mengkritik klaim Arab Saudi mengenai upaya meredakan ketegangan di kawasan.

Media ABI, 27 Oktober 2026 – Anggota Dewan Tinggi Politik Yaman, Muhammad Ali al-Houthi, mengkritik pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengenai upaya meredakan ketegangan di kawasan. Ia menilai klaim Riyadh tersebut bertentangan dengan kenyataan di lapangan, di tengah berlanjutnya serangan, blokade, dan tindakan Arab Saudi terhadap Yaman.

Baca juga: Iran Ancam Sasar Fasilitas Produksi Minyak di Kawasan jika Infrastruktur Diserang

Dalam pernyataannya yang diberitakan Kantor Berita Mehr pada Selasa (27/10/2026), dengan merujuk pada jaringan Al-Masirah, Al-Houthi menilai klaim Arab Saudi mengenai peran sentralnya dalam menjaga keamanan kawasan tidak sejalan dengan tindakan berupa pembunuhan, blokade, serangan, dan pendudukan di Yaman. Ia mendesak Riyadh menghentikan serangan, mengakhiri blokade, menarik diri dari wilayah Yaman, serta membayar ganti rugi atas kerusakan akibat agresi Arab Saudi sejak 2015.

Menurut Al-Houthi, Pakta Pertahanan Makkah menjadi sarana bagi Arab Saudi untuk menampilkan diri sebagai pendukung perdamaian regional, meski serangan terhadap Yaman masih berlanjut. Ia memperingatkan agar pasukan Mesir tidak terseret ke dalam perang baru yang, menurutnya, dapat menguras kekuatan militer Mesir sekaligus menguntungkan rencana Israel menyerang Semenanjung Sinai.

Al-Houthi menegaskan Yaman tidak gentar menghadapi aliansi baru. Ia menilai aliansi tersebut semestinya diarahkan untuk menghadapi Israel, yang ia tuduh menyatakan perang terhadap bangsa-bangsa di kawasan, bukan untuk berkonfrontasi dengan Yaman. Ia juga meminta Mesir, Turki, dan Pakistan tidak mendukung kelanjutan serangan, blokade, serta pendudukan di Yaman.

Baca juga: 

Ia menyatakan Yaman bukan ancaman bagi Selat Bab el-Mandeb. Sebaliknya, menurutnya, Yaman turut menjaga selat tersebut, Terusan Suez, serta wilayah lain di dunia Arab dan Islam. Al-Houthi juga menuding badan-badan intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel menebar ketakutan melalui ancaman yang samar dan tidak diumumkan guna memperpanjang konflik di kawasan. Ia berpendapat, jika Washington menilai aliansi baru itu merugikan kepentingan Amerika Serikat atau Israel, Washington akan menjadi pihak pertama yang menentang dan menuntut penghentiannya.

Al-Houthi menyebut Pakta Makkah melayani agenda dominasi Amerika Serikat dan Israel di kawasan serta memperingatkan bahwa aliansi tersebut akan menghadapi perlawanan. Ia meminta para anggota Aliansi Pertahanan Makkah menarik diri dan tidak terlibat dalam koalisi yang disebutnya sebagai koalisi agresi terhadap Yaman. Ia juga menyerukan agar upaya regional dialihkan untuk membela Palestina dan membebaskan kawasan dari dominasi Amerika Serikat dan Israel.

Meski berharap perkembangan yang berlangsung dapat membantu mewujudkan perdamaian regional, Al-Houthi menegaskan Yaman tidak akan menerima berlanjutnya serangan, pendudukan, dan kejahatan terhadap rakyatnya.

“Kami bukan pihak yang menginginkan perang. Kami menginginkan kebebasan, kemerdekaan, dan perdamaian sejati yang menjamin kepentingan negara, rakyat, dan umat kami,” ujarnya. []

Baca juga: Tanggapi Mesir, Yaman Tentukan Sikap terhadap Pendukung Agresi Saudi

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan