Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Analis Arab: Arab Saudi Makin Kuat jika Dekat dengan Iran

Published

on

Arab Saudi menghadapi tekanan militer dan ekonomi setelah serangan Yaman menyasar pelayaran dan kepentingan minyaknya.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dinilai analis Arab Abdel Bari Atwan akan memperkuat posisi negaranya di kawasan jika mempererat hubungan dengan Iran.

Media ABI, 27 Oktober 2026 – Analis politik Arab, Abdel Bari Atwan, menilai strategi Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah kian menunjukkan kegagalan. Menurutnya, perubahan konstelasi politik dan keamanan kawasan mengindikasikan berakhirnya era dominasi AS. Dalam situasi tersebut, ia berpandangan bahwa Arab Saudi justru akan semakin kuat jika mempererat hubungan dengan Iran, bukan memusuhi negara itu.

Baca juga: Iran Ancam Sasar Fasilitas Produksi Minyak di Kawasan jika Infrastruktur Diserang

Atwan merupakan jurnalis kelahiran Palestina berkewarganegaraan Inggris yang menjabat sebagai pemimpin redaksi Rai al-Youm, media digital berbahasa Arab yang menyajikan berita dan opini seputar dunia Arab. Sebelumnya, ia memimpin surat kabar pan-Arab berbasis di London, Al-Quds Al-Arabi, sejak media itu didirikan pada 1989 hingga Juli 2013.

Dalam video yang diunggah melalui akun X miliknya pada Selasa (27/10/2026), Atwan mengatakan banyak pihak memperkirakan dirinya akan membahas pemilu Israel yang dimulai hari itu. Namun, ia menilai ada perkembangan lain yang jauh lebih penting, bahkan dibandingkan dengan pemilu sela AS yang disebutnya akan berlangsung pada pekan berikutnya.

Perkembangan yang dimaksud adalah kedatangan delegasi dan pejabat tinggi Arab Saudi, Pakistan, dan Turki ke Iran. Atwan menyebut kunjungan itu sebagai peristiwa mendadak sekaligus sangat penting bagi dinamika kawasan.

Menurut Atwan, delegasi tersebut terdiri atas Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, serta Kepala Badan Intelijen Turki Ibrahim Kalin. Mereka datang ke Teheran untuk membahas sejumlah persoalan penting kawasan dengan para pejabat Iran.

Negara-negara Kawasan Dinilai Mulai Meninggalkan Skema Keamanan AS

Bagi Atwan, kunjungan para pejabat tersebut bukan sekadar agenda diplomatik. Kehadiran mereka di Teheran menjelang pemilu Israel, menurutnya, mencerminkan perubahan arah strategi dan kebijakan negara-negara kawasan.

Ia menilai negara-negara Arab dan Islam di Timur Tengah mulai menyimpulkan bahwa arsitektur keamanan yang dibangun Amerika Serikat di kawasan telah mencapai batasnya. Pandangan itu menjadi dasar penilaiannya bahwa pengaruh Washington tengah mengalami kemunduran.

Baca juga: 

Atwan bahkan memperkirakan Donald Trump tidak akan memenangi pemilu sela AS. Ia juga memprediksi Washington akan segera menarik kekuatan militernya dari kawasan, termasuk memulangkan pesawat, kapal induk, dan kapal-kapal perangnya.

Menurut analis yang bermukim di London itu, strategi AS di Timur Tengah, jika belum mulai runtuh, setidaknya telah berada di ambang kehancuran.

“Amerika sedang mengembuskan napas terakhirnya di kawasan ini,” ujar Atwan. Ia berpendapat Iran tidak berhasil dikalahkan meskipun menghadapi agresi AS-Israel.

Atwan juga menggambarkan kondisi Israel sebagai sangat buruk, sedangkan situasi AS, menurutnya, bahkan lebih buruk. Ia menilai ancaman Trump tidak efektif dan menuduh presiden AS itu berulang kali berbohong.

Dari penilaiannya terhadap kondisi tersebut, Atwan melihat kawasan tengah memasuki babak baru. Ia berpandangan bahwa Timur Tengah mulai pulih dari dampak perang dan campur tangan asing, sekaligus bergerak menuju berakhirnya dominasi AS dan Israel. Pandangan ini menjadi bagian dari keyakinannya bahwa tatanan regional sedang mengalami perubahan mendasar.

Arab Saudi Lebih Kuat jika Mendekat ke Iran

Perubahan tatanan kawasan itu, menurut Atwan, juga membuka ruang bagi penataan kembali hubungan antarnegara. Ia menegaskan Iran merupakan negara kuat dan menilai Arab Saudi akan semakin kuat jika mempererat hubungan dengan Teheran, alih-alih mempertahankan permusuhan.

Pandangan tersebut beriringan dengan kritik keras Atwan terhadap Trump, yang dinilainya kurang memiliki pertimbangan dan kebijaksanaan. Ia menyoroti kebiasaan presiden AS itu melontarkan berbagai pernyataan tanpa menindaklanjutinya dan, atas dasar itu, menyatakan Trump tidak layak dipercaya.

Untuk menggambarkan kritiknya, Atwan menyinggung pernyataan Trump mengenai Libya, yang disebutnya pernah diserang dan digambarkan sebagai negara “kotor”. Ia juga menyinggung Libya, Somalia, dan Haiti dalam konteks pernyataan kontroversial presiden AS tersebut.

Atwan mengatakan Trump kemudian meminta maaf serta menyampaikan terima kasih kepada rakyat dan para pemimpin Libya setelah para pejabat negara itu menuntut permintaan maaf.

Menurut Atwan, Trump pada akhirnya menyadari kekeliruannya dan bahwa ia tidak seharusnya berbicara mengenai negara lain dengan cara demikian. []

Baca juga: Yaman: Arab Saudi Harus Menanggung Konsekuensi Militerisasi Laut Merah