Internasional
Wall Street Journal Soroti Kemajuan Intelijen dan Operasi Militer Angkatan Bersenjata Yaman

Media ABI, 26 Oktober 2026 — Angkatan Bersenjata Yaman menunjukkan peningkatan kemampuan intelijen dan operasi militer, termasuk melancarkan serangan presisi terhadap pasukan Arab Saudi dan sekutunya. Salah satu serangan dilaporkan menewaskan sedikitnya 75 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya.
Baca juga: Pentagon Siapkan Pangkalan Militer Hadapi Gangguan Rantai Pasok
Dalam laporan yang dikutip Fars News Agency pada 25 Oktober, The Wall Street Journal menyoroti kemampuan Angkatan Bersenjata Yaman memantau pergerakan militer Saudi dan pasukan sekutunya, serta menentukan waktu dan sasaran serangan. Menurut pejabat dari pihak-pihak yang berafiliasi dengan Riyadh di Yaman, terdapat dugaan infiltrasi informan Ansharullah ke kamp dan posisi militer. Penggunaan pesawat nirawak untuk mengintai sasaran sebelum serangan juga menjadi sorotan.
Laporan tersebut turut merujuk penilaian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2025 mengenai kepemilikan perangkat dan teknologi pengawasan canggih oleh Angkatan Bersenjata Yaman.
Pakar Yaman, Mohammed al-Basha, mengatakan Ansharullah secara sistematis menargetkan pengiriman bantuan militer dan pergerakan pasukan, termasuk kendaraan baru, amunisi, konsentrasi pasukan, serta pusat perekrutan. Laporan itu juga menyebut dukungan Iran dalam perkembangan kemampuan drone, rudal, dan intelijen Yaman, tuduhan yang berulang kali dibantah Teheran.
Serangan Mematikan di Kamp al-Alam
Pada 19 Oktober, tiga rudal balistik Angkatan Bersenjata Yaman menghantam Kamp al-Alam di Provinsi Shabwa dalam rentang beberapa menit. Menurut pejabat Saudi, pejabat Yaman, dan saksi mata yang dikutip The Wall Street Journal, serangan itu menewaskan sedikitnya 75 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya, termasuk sejumlah tentara Saudi. Surat kabar tersebut menyebutnya sebagai salah satu serangan tunggal paling mematikan dalam konflik belakangan ini.
Beberapa hari sebelum serangan, pesawat nirawak dilaporkan melakukan pengintaian di atas kamp. Saat itu, perwira Saudi tengah mempersiapkan pelatihan personel baru pasukan keamanan lokal yang berafiliasi dengan Riyadh.
Pada hari serangan, ratusan calon personel berkumpul di kamp setelah dijanjikan pembayaran upah untuk mengikuti pelatihan. Empat batalion telah berada di lokasi ketika rudal menghantam. Saksi mata mengatakan salah satu rudal mengenai personel yang baru direkrut saat mereka berusaha menyelamatkan diri dari serangan pertama.
Baca juga: Yaman Peringatkan Warga Arab Saudi agar Menjauhi Fasilitas Minyak
Sejumlah tentara Saudi juga berada di kamp untuk mengawasi persiapan pelatihan. Pejabat mengonfirmasi adanya korban luka dari kalangan personel Saudi, tanpa merinci jumlahnya. Proses evakuasi korban berlangsung kacau, sementara kamp tersebut tidak memiliki sistem pertahanan udara.
Pejabat lokal Shabwa kemudian mendesak Arab Saudi mempercepat penyediaan sistem pertahanan udara, perangkat peringatan dini, dan peralatan pengawasan.
Kamp al-Alam memiliki nilai strategis karena berada di provinsi penghasil minyak dan gas alam. Sebelumnya, kamp itu dikuasai pasukan yang bersekutu dengan Uni Emirat Arab (UEA). Setelah penarikan pasukan UEA pada 2021, pasukan yang didukung Saudi menggunakannya sebagai pusat pelatihan, dukungan, dan komando militer. Serangan Angkatan Bersenjata Yaman pada 2022 dilaporkan menghentikan ekspor energi dari wilayah tersebut.
Serangan ke Aden dan al-Mukalla
Pada 15 Oktober, Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan serangan gabungan menggunakan drone dan rudal terhadap Istana al-Ma’ashiq di Aden, markas pemerintahan Yaman yang berafiliasi dengan Saudi. Serangan itu dilaporkan menimbulkan korban tewas dan luka-luka, termasuk perwira Saudi. Mengutip pejabat Saudi dan Yaman, The Wall Street Journal melaporkan salah satu rudal menghantam tempat tinggal perwira Saudi di kompleks tersebut.
Pada 21 Oktober, sebuah rudal juga dilaporkan menargetkan bandara dekat kota pesisir al-Mukalla, Yaman timur, tidak lama setelah pasukan bantuan militer Saudi tiba di sebuah pangkalan di kawasan itu.
The Wall Street Journal menilai ketiga serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi yang menyasar konsentrasi pasukan, personel bantuan militer Saudi, dan pasukan Yaman yang bersekutu dengan Riyadh. Waktu serangan yang berdekatan dengan kedatangan personel atau peralatan baru serta dimulainya aktivitas militer menjadi salah satu aspek penting dalam laporan itu.
Baca juga: Jaringan Intelijen Ansarullah Hantui Saudi, Ancaman Menjangkau Riyadh
Pilihan Militer Saudi Kian Terbatas
Menurut The Wall Street Journal, Arab Saudi menghadapi pilihan sulit jika ingin melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Angkatan Bersenjata Yaman: merekrut lebih banyak tentara bayaran atau mengerahkan tambahan pasukan Saudi ke Yaman.
Perluasan operasi akan menambah kebutuhan personel sekaligus meningkatkan risiko militer di tengah kemampuan pengintaian dan serangan Yaman yang, menurut laporan tersebut, terus berkembang. []
Baca juga: Ansarullah Desak Arab Saudi Akhiri Serangan dan Blokade terhadap Yaman







