Internasional
Moskow: Tuduhan soal Program Nuklir Iran Tidak Berdasar

Media ABI, 27 Oktober 2026 – Wakil Ketua Dewan Federasi Rusia, Konstantin Kosachev, menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu sebagai tindakan tidak adil dan bertentangan dengan hukum internasional. Ia juga menyebut tuduhan Washington dan Tel Aviv mengenai ketidaktransparanan program nuklir Iran tidak berdasar.
Baca juga: Iran Ancam Sasar Fasilitas Produksi Minyak di Kawasan jika Infrastruktur Diserang
Menurut Kantor Berita Farsnews, Selasa (27/10/2026), dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, TASS, Kosachev mengatakan tuduhan mengenai ketidaktransparanan program nuklir Iran merupakan tuduhan bermotif kepentingan tertentu. Menurutnya, klaim tersebut hingga kini tidak didukung bukti yang terdokumentasi dan terverifikasi.
Kosachev juga mengecam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu, yang disebutnya tidak adil dan melanggar hukum internasional.
“Saya mengingatkan bahwa Iran merupakan anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Iran bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam berbagai bentuk dan menunjukkan keterbukaan kepada dunia internasional terkait transparansi program nuklirnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tuduhan mengenai ketidaktransparanan program nuklir Iran yang dilontarkan setelahnya tetap tidak disertai bukti pendukung.
Baca juga:
- Ansarullah Desak Arab Saudi Akhiri Serangan dan Blokade terhadap Yaman
- Biaya Hidup Kian Meningkat, Prospek Ekonomi Rumah Tangga AS Suram
- Yaman Serang Tujuh Titik Strategis di Arab Saudi
“Karena itu, Iran berada di pihak yang benar dan adil,” kata Kosachev. Ia menambahkan bahwa Rusia secara konsisten memberikan dukungan politik kepada Iran dalam situasi tersebut.
Amerika Serikat dan Israel memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari (9 Esfand dalam kalender Persia). Pada Juni, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman yang mengatur penghentian segera permusuhan di seluruh front, termasuk Lebanon.
Namun, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada malam 8 Juli. Washington beralasan bahwa Teheran telah melanggar kesepahaman yang dicapai terkait Selat Hormuz.
Pemerintahan Donald Trump kemudian menerapkan blokade laut terhadap Iran dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Trump berulang kali mengklaim telah memenangkan perang, tetapi dalam pidato-pidato hariannya masih menyinggung kemungkinan dimulainya kembali serangan militer terhadap Iran. []







