Internasional
Operasi Nasr 2 Bidik Infrastruktur dan Aset Strategis Militer AS

Ahlulbait Indonesia, 28 Juli 2026 – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memaparkan rincian sasaran dan hasil Operasi Nasr 2, yang menurut juru bicaranya berhasil menghantam pangkalan, sistem radar, pusat komando, hingga berbagai aset udara milik Amerika Serikat selama perang 15 hari antara kedua negara.
Rincian tersebut disampaikan Juru Bicara IRGC, Brigjen Hossein Mohabi, dalam wawancara eksklusif dengan Tasnim News Agency yang dipublikasikan pada Minggu (26/7/2026). Selain mengulas jalannya operasi, ia juga menjelaskan perkembangan kemampuan pertahanan Iran, situasi di Selat Hormuz, serta evaluasi IRGC terhadap kondisi keamanan kawasan.
Baca juga: Militer Iran Nilai Blokade Maritim sebagai Perluasan Perang
Aset Udara dan Infrastruktur Jadi Sasaran
Menurut Mohabi, selama perang yang berlangsung pada 8–22 Juli 2026 (17–31 Tir 1405), Angkatan Bersenjata Iran menghancurkan 11 pesawat tempur dan helikopter milik Amerika Serikat ketika masih berada di pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan.
IRGC juga melaporkan penghancuran 17 pesawat nirawak untuk misi pengintaian dan operasi, delapan di antaranya disebut sebagai unit baru. Dalam rincian Operasi Nasr 2, Mohabi turut menyebut satu pesawat tempur F-15 di dalam shelter, satu pesawat patroli maritim P-8 Poseidon, satu pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III, serta delapan pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara sebagai bagian dari aset yang diserang. Tasnim menyajikan rincian tersebut berdasarkan kategori sasaran dalam laporan operasinya.
Ia menegaskan bahwa sasaran utama operasi bukanlah personel militer Amerika, melainkan infrastruktur yang menopang kemampuan tempur AS di kawasan. Target yang diserang meliputi pusat komando dan kendali, sistem komunikasi satelit, radar peringatan dini, radar jarak jauh, radar pengawasan udara dan laut, serta radar yang terhubung dengan sistem pertahanan udara Patriot.
Menurut Mohabi, sejumlah fasilitas militer di Bahrain yang menjadi pusat pemrosesan data dan kecerdasan buatan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat juga menjadi sasaran. Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania turut disebut berada dalam daftar target serangan rudal dan drone Iran.
Setelah jaringan deteksi dan pertahanan udara dilemahkan, serangan berikutnya diarahkan ke berbagai fasilitas pendukung kekuatan udara Amerika Serikat, termasuk hanggar drone MQ-9, shelter pesawat tempur F-15, fasilitas perawatan pesawat dan helikopter, serta landasan pacu.
Baca juga: CENTCOM Buntu di Iran Selatan, Desak Operasi Dihentikan
Tekanan terhadap Pertahanan Udara AS
Sementara itu, sejumlah laporan dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa perang selama 15 hari turut memberikan tekanan besar terhadap sistem pertahanan udara Washington. Beberapa pejabat Pentagon dilaporkan mengakui persediaan rudal pencegat, termasuk Patriot, terus berkurang akibat intensitas serangan rudal Iran. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu pertimbangan Gedung Putih dalam mengevaluasi kemungkinan memperluas operasi militer terhadap Iran.
Sejumlah analis pertahanan memperkirakan lebih dari 1.500 rudal pencegat telah digunakan selama konflik. Namun, Presiden Donald Trump membantah bahwa keputusan menunda eskalasi operasi dipengaruhi oleh menipisnya persediaan amunisi. Ia menegaskan Amerika Serikat masih memiliki cadangan yang memadai dan menyatakan jalur diplomasi merupakan pilihan yang lebih tepat.
Baca juga: The Atlantic: Trump Kehabisan Waktu Membuka Selat Hormuz
Di luar paparan IRGC, perhatian para pengamat juga tertuju pada meningkatnya akurasi serangan rudal Iran. Associate Professor pada School of Security Studies, King’s College London, Andreas Krieg, menilai kemampuan tersebut merupakan hasil pengembangan program rudal balistik Iran yang dipadukan dengan peningkatan kualitas intelijen, sistem navigasi, kemampuan manuver, serta perencanaan operasi yang semakin terintegrasi.
Sejumlah estimasi intelijen Amerika Serikat juga menyebut sebagian besar kemampuan rudal Iran masih tetap utuh, meskipun Washington sebelumnya menyatakan telah melumpuhkan kapasitas militer Teheran. Sementara itu, spekulasi mengenai kemungkinan adanya dukungan teknologi dari negara lain masih belum disertai bukti yang dapat diverifikasi bahwa Rusia maupun China memberikan bantuan intelijen, data target, ataupun keterlibatan langsung dalam operasi militer Iran. []
Baca juga: Pangkalan Militer AS di Al-Tanf Suriah Dihantam Rudal Iran







