Internasional
IRGC Tangkap Kapal Selam Nirawak AS, Operasi Jarak Jauh Amerika Terancam

Media ABI, 11 September 2026 – Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menangkap sebuah kapal selam nirawak milik Amerika Serikat di pintu masuk Selat Hormuz pada Selasa malam lalu. Analis strategis Fathollah Klentari menilai keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa Iran mampu mendeteksi dan menjangkau aset bawah permukaan Amerika Serikat yang digunakan untuk mendukung operasi militer dari jarak jauh.
Dalam wawancara dengan Fars News Agency pada Kamis (10/9/2026), Klentari mengatakan operasi tersebut merupakan bagian dari strategi Iran untuk menguras dan menetralisasi keunggulan serta aset strategis militer Amerika Serikat. Karena itu, menurut anggota staf pengajar Universitas Tinggi Pertahanan Nasional Iran tersebut, keberhasilan AL IRGC tidak tepat dipandang sebagai kemenangan taktis semata.
Baca juga: Penangkapan Kapal Selam Nirawak di Hormuz, Pesan Penting Buat Amerika
“Yang dimaksud bukan bahwa operasi ini bukan kemenangan bagi Republik Islam Iran. Namun, dimensinya tidak boleh direduksi menjadi kemenangan taktis karena yang kita hadapi adalah kemenangan strategis bagi Republik Islam Iran dan kekalahan strategis bagi Amerika,” kata Klentari.
Menurut Klentari, operasi tersebut memadukan sejumlah kemampuan, mulai dari aspek kognitif dan rudal hingga perang siber, tindakan antisistem elektronik dan peperangan bawah permukaan.
Klentari menjelaskan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan selama ini bertumpu pada dua kemampuan utama. Pertama, kekuatan udara, terutama jet tempur F-35. Kedua, kekuatan laut dan bawah permukaan yang memungkinkan peluncuran rudal dari jarak jauh.
Menurut dia, kekuatan udara tersebut telah lebih dahulu mengalami pelemahan setelah pertahanan udara Iran menjatuhkan sebuah F-35 Amerika Serikat. Setelah kejadian itu, operasi udara dan pengeboman menggunakan pesawat tersebut hampir dihentikan. Amerika Serikat kemudian lebih banyak mengandalkan kekuatan rudal yang diluncurkan dari pantai ke laut maupun dari laut ke pantai.
Perubahan tersebut meningkatkan peran kapal perang dan kapal selam dalam operasi jarak jauh Amerika Serikat. Dalam konteks itu, Klentari menempatkan operasi AL IRGC pada Selasa malam sebagai upaya menetralisasi keunggulan Amerika Serikat di laut dan lingkungan bawah permukaan.
“Angkatan Laut IRGC melalui operasi ini juga telah mencabut kemampuan yang menjadi sandaran militer Amerika,” ujarnya.
Baca juga: Iran International dan Jejak Proyek Keamanan di Balik Jaringan Media
Bagi Klentari, arti penting operasi tersebut tidak berhenti pada kapal selam nirawak yang berhasil ditangkap. Peristiwa itu juga menunjukkan perubahan pada lingkungan tempat perang berlangsung.
“Yang lebih penting daripada peralatannya adalah perubahan lingkungan perang,” katanya.
Klentari melihat tiga perubahan yang berlangsung bersamaan, yaitu lingkungan, bentuk dan strategi perang. Operasi bawah permukaan, menurut dia, kini berpadu dengan kemampuan sensor, elektronik, siber dan rudal.
Perubahan paling sensitif terjadi di bawah permukaan laut. Wilayah yang sebelumnya dianggap aman dan dapat diandalkan Amerika Serikat kini, menurut Klentari, tidak lagi memberikan tingkat perlindungan yang sama.
“Pesan utama dari bagian ini adalah kemampuan Korps Garda Revolusi Islam dalam mendeteksi dan melacak persenjataan rahasia musuh di lingkungan bawah permukaan,” ujar Klentari.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika kapal perang dan kapal selam memperoleh peran lebih besar sebagai sarana operasi jarak jauh Amerika Serikat. Menurut Klentari, keberhasilan mendeteksi dan menangkap wahana bawah permukaan menunjukkan bahwa ruang operasi yang sebelumnya dianggap terlindungi dapat ditembus dan dilacak.
Perhatian Klentari kemudian beralih pada informasi teknis yang mungkin diperoleh dari kapal selam nirawak tersebut. Menurutnya, informasi itu dapat memiliki nilai lebih panjang daripada perangkatnya sendiri karena memungkinkan Iran memahami teknologi lawan dan mengembangkan kemampuan baru.
Baca juga: IRGC: Iran Siap Masuk Fase Operasi Ofensif
Dia merujuk pengalaman Iran memperoleh pesawat nirawak Amerika Serikat RQ-170. Setelah perangkat tersebut berada dalam penguasaan Iran, proses rekayasa balik dilakukan dan teknologinya digunakan untuk mengembangkan kemampuan nirawak Iran.
Klentari menyebut Iran kini sebagai kekuatan nirawak terbesar keempat di dunia. Berdasarkan pengalaman tersebut, dia memperkirakan informasi teknis dari kapal selam nirawak Amerika Serikat juga akan dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi Iran.
“Saya percaya Republik Islam Iran pasti akan memanfaatkan kapasitas ini untuk rekayasa balik dan, insyaallah, dalam waktu dekat akan memperoleh teknologi mutakhir di bidang ini,” katanya.
Dalam pandangan Klentari, perkembangan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan karakter perang di Hormuz. Konflik tidak lagi hanya bertumpu pada rudal dan drone, tetapi bergerak menuju penggunaan sensor, perang elektronik, operasi bawah permukaan dan perang siber.
“Perang Hormuz saat ini tidak hanya bergantung pada rudal dan drone, tetapi bergerak menuju perang sensor, tindakan antisistem elektronik, peperangan bawah permukaan, perang siber serta kombinasi operasi rudal dengan perang elektronik dan siber,” ujarnya.
Kemampuan mendeteksi sasaran, mengganggu sistem elektronik, memperoleh informasi dan beroperasi di bawah permukaan kini, menurut Klentari, menjadi bagian dari satu rangkaian peperangan. Dia menilai Iran telah memasukkan kombinasi kemampuan tersebut ke dalam strateginya.
Dari sisi intelijen, Klentari menilai operasi tersebut memperlihatkan bahwa kapal selam dan wahana bawah permukaan yang selama ini dipandang sebagai salah satu sarana rudal Amerika Serikat yang paling rahasia dan berbahaya tidak lagi memiliki tingkat keamanan seperti sebelumnya.
Baca juga: Perang Media dan Cara Iran Melihat Pertarungan dengan Amerika
“Perangkat tersebut kini berada dalam jangkauan dan sasaran Republik Islam Iran,” katanya.
Klentari menyebut operasi tersebut sebagai kemenangan strategis dan titik balik dalam doktrin peperangan Korps Garda Revolusi Islam. Menurut dia, perkembangan itu mendorong perubahan dalam strategi perang Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran sekaligus dapat memengaruhi arsitektur keamanan kawasan Teluk Persia.
Pada bagian akhir wawancara, Klentari menjelaskan dua istilah yang digunakan untuk perangkat maritim nirawak. “Syahpad” merujuk pada kapal permukaan yang dikendalikan dari jarak jauh, sedangkan “zahpad” merujuk pada wahana bawah permukaan yang dikendalikan dari jarak jauh.
Menurut Klentari, kedua jenis perangkat tersebut kini menghadapi ruang operasi yang semakin sempit.
“Syahpad dan zahpad Amerika tidak lagi memiliki ruang untuk bermanuver, bukan hanya di Teluk Persia, tetapi bahkan di Laut Oman,” katanya.
Bagi Klentari, operasi Selasa malam tersebut menunjukkan bahwa lingkungan bawah permukaan yang selama ini penting bagi operasi militer jarak jauh Amerika Serikat tidak lagi dapat dipandang sebagai ruang yang sepenuhnya aman. []
Baca juga: Reuters Soroti Ancaman Rekayasa Balik Kapal Selam Nirawak AS







