Internasional
Washington Tutupi Jumlah Korban Perang Iran, Kata Perwira AS

Media ABI, 12 September 2026 – Dua mantan pejabat dan perwira militer Amerika Serikat menilai korban serta kerusakan yang dialami pasukan Amerika akibat serangan Iran jauh lebih besar daripada angka yang selama ini diumumkan Washington. Mereka juga mempertanyakan keakuratan laporan resmi mengenai kondisi pasukan Amerika yang berada di kawasan.
Penilaian itu disampaikan Joe Kent, mantan pejabat keamanan pemerintahan Donald Trump, dan Daniel Davis, pensiunan perwira senior militer Amerika, dalam sebuah wawancara bersama yang dilansir Fars News Agency pada Sabtu (12/9/26).
Baca juga: Janji yang Terbukti, Pembukaan Front Baru Mulai Terwujud
Menurut keduanya, serangkaian serangan Iran telah memperlihatkan kemampuan Teheran menjangkau berbagai posisi Amerika dan menimbulkan kerugian serius. Persoalannya, kata mereka, bukan lagi apakah serangan dengan korban besar dapat terjadi, melainkan kapan.
Kent melihat pangkalan militer Amerika masih mungkin disebar untuk mengurangi risiko serangan. Kapal perang tidak memiliki pilihan serupa karena untuk keluar dari jangkauan rudal Iran berarti harus meninggalkan kawasan. Selama kapal dan pasukan Amerika tetap berada di sana, siklus serangan dan pembalasan akan terus membuka peluang bagi Iran untuk menyerang kembali.
Situasi tersebut, menurut Kent, juga dapat menempatkan Donald Trump dalam posisi yang semakin sulit. Jika korban Amerika meningkat tajam, tekanan politik untuk membalas akan semakin besar dan ruang bagi presiden untuk menarik diri dari perang semakin sempit.
Kent bahkan menyebut keberadaan pasukan Amerika di kawasan sebagai semacam “kawat berduri manusia” yang dapat menyeret Washington lebih jauh ke dalam perang. Hal itu dinilai bertentangan dengan keinginan Trump untuk mengakhiri konflik dan mengalihkan tekanan ke jalur ekonomi.
Davis melihat persoalan yang sama dari sisi lain. Pasukan dan peralatan militer Amerika terus berada di lingkungan yang telah menunjukkan kemampuan Iran menembus pertahanan Amerika. Semakin lama keberadaan tersebut dipertahankan, semakin besar peluang munculnya korban.
Angka korban yang terus berubah
Persoalan lain yang disoroti Davis adalah laporan resmi mengenai jumlah korban. Dia mempertanyakan apakah angka yang diumumkan Washington benar-benar menggambarkan keseluruhan kerugian yang dialami pasukan Amerika.
Davis merujuk pada pola pengumuman korban luka yang dilakukan secara bertahap. Setelah angka awal disampaikan, jumlah korban kembali bertambah dalam pengumuman berikutnya hingga melampaui 800 orang.
Dia juga menyoroti penggunaan istilah “semua orang telah diidentifikasi dan dihitung” dalam laporan setelah serangan. Menurut Davis, pernyataan tersebut tidak berarti semua personel berada dalam keadaan selamat. Personel yang tewas maupun terluka tetap dapat masuk dalam daftar mereka yang telah diidentifikasi dan dihitung.
Baca juga: AS Akui Markas Armada Kelima di Bahrain Dihancurkan Iran
Bagi Davis, ketidakjelasan seperti itu membuat publik sulit mengetahui seberapa besar sebenarnya kerusakan yang dialami pasukan Amerika. Karena itu, dia menilai laporan resmi Washington mengenai kondisi pasukannya patut dipertanyakan.
Davis juga mengatakan personel Amerika di kawasan mengikuti perkembangan melalui telepon dan media. Berdasarkan informasi yang dia terima dari keluarga salah satu personel, para tentara dapat melihat perbedaan antara pernyataan para pemimpin Amerika dan apa yang mereka alami sendiri di lapangan.
Kesenjangan tersebut, menurut Davis, berisiko mengikis kepercayaan personel terhadap komandan dan pejabat senior.
Iran tidak menunggu jadwal politik Washington
Kent menghubungkan persoalan tersebut dengan janji Trump untuk mengakhiri perang. Menurut dia, Trump memang menginginkan perang segera berakhir, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kemenangan yang dapat disebut sebagai keberhasilan militer atau diplomatik.
Karena itu, janji mengakhiri perang setelah pemilihan Kongres pada November dinilai lebih sebagai langkah politik untuk meyakinkan publik daripada gambaran mengenai arah konflik yang sebenarnya.
Iran, menurut Kent, tidak memiliki alasan untuk menyesuaikan operasi militernya dengan kalender politik Amerika. Anggapan bahwa Teheran akan menahan diri hingga pemilihan November dan membiarkan Trump menentukan kapan perang berakhir dinilai keliru.
Bagi Kent, Iran telah memegang inisiatif perang dan menjalankan strateginya berdasarkan tujuan sendiri. Jalannya konflik tidak ditentukan oleh keinginan Trump.
Davis pada saat yang sama menyoroti penggunaan pesawat sipil untuk mengangkut peralatan militer dari Amerika menuju wilayah pendudukan Palestina. Dia menyebut penggunaan pesawat penumpang untuk kepentingan militer dapat meningkatkan risiko terhadap penumpang sipil sekaligus menjadikan pesawat tersebut sasaran dalam konflik.
Baca juga: IRGC Tangkap Kapal Selam Nirawak AS, Operasi Jarak Jauh Amerika Terancam
Dia juga merujuk pada laporan mengenai pengiriman muatan yang berkaitan dengan perusahaan militer Israel melalui penerbangan sipil. Jika sebuah pesawat penumpang ditembak jatuh, menurut Davis, insiden tersebut dapat menjadi alasan untuk memperluas perang atau membenarkan operasi militer yang lebih besar.
Risiko perang meluas
Davis melihat ancaman yang lebih luas dari perang saat ini. Konflik di Timur Tengah dan Ukraina, ditambah keterlibatan banyak pihak, menurut dia dapat menciptakan rangkaian peristiwa yang sulit dikendalikan.
Dia memperingatkan munculnya apa yang disebut sebagai “peristiwa hitam”, yakni kejadian besar yang tidak diperkirakan sebelumnya tetapi mampu mengubah arah konflik secara drastis.
Menurut Davis, masyarakat Amerika terlalu terbiasa dengan anggapan bahwa perang yang berlangsung di luar negeri tidak akan mencapai wilayah Amerika. Padahal, berbagai krisis dapat saling terhubung dan memicu rangkaian reaksi yang membuat konflik berkembang jauh melampaui titik awalnya.
Dia membandingkan situasi tersebut dengan kondisi menjelang Perang Dunia I ketika konflik, aliansi, dan kepentingan berbagai negara yang semula terlihat terpisah akhirnya saling terhubung.
Lobi Israel dan pilihan yang semakin berbahaya
Kent menilai kebutuhan Trump untuk memperoleh kemenangan dapat menjadi persoalan tersendiri. Jika Iran tidak memberikan ruang bagi Trump untuk mengklaim kemenangan, menurut dia, presiden Amerika dapat terdorong memilih langkah yang lebih berbahaya, termasuk penggunaan senjata nuklir taktis terhadap fasilitas bawah tanah Iran atau upaya baru untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran.
Kent menilai pilihan tersebut berisiko mengulang pola kebijakan yang sebelumnya gagal. Namun, menurut dia, kebijakan semacam itu justru dapat menguntungkan lobi Israel dan kelompok neokonservatif pro-Israel di Amerika Serikat.
Keberadaan pasukan Amerika dalam jangkauan serangan Iran, kata Kent, memberi kelompok tersebut kepentingan untuk mendorong perang tetap berlangsung. Semakin besar korban yang jatuh, semakin kuat pula tekanan kepada Washington untuk melakukan pembalasan dan memperluas konflik.
Baca juga: Teknisi Iran Bersiap Membedah “Jeroan” Kapal Selam Nirawak AS
Dalam situasi seperti itu, persoalan politik dan warisan kepemimpinan Trump dapat ikut memengaruhi keputusan. Kent memperingatkan bahwa keinginan untuk membuktikan kemenangan dapat mendorong presiden Amerika mengambil langkah yang jauh lebih berisiko daripada tujuan awal perang.
Davis menolak anggapan bahwa penggunaan senjata nuklir terhadap fasilitas bawah tanah Iran akan menyelesaikan masalah. Menurut dia, fasilitas tersebut memang dirancang untuk bertahan dari serangan berat sehingga serangan nuklir belum tentu mampu menghancurkannya.
Sebaliknya, tindakan tersebut dapat membuat Iran menyimpulkan bahwa tidak ada lagi alasan untuk menahan diri dari pengembangan senjata nuklir. Dengan demikian, serangan yang dimaksudkan untuk menghilangkan ancaman justru berpotensi memperbesar ancaman tersebut.
Davis juga memperingatkan konsekuensi internasionalnya. Penggunaan senjata nuklir oleh Amerika dapat memicu reaksi Rusia dan China, semakin melemahkan posisi Washington, serta membuat sejumlah negara yang selama ini menjadi mitra dan sekutunya mengambil jarak.
Bagi Davis, persoalannya tidak berhenti pada berhasil atau gagalnya serangan terhadap fasilitas Iran. Penggunaan senjata nuklir akan melewati batas yang selama ini dijaga dalam politik dan keamanan internasional, dengan konsekuensi yang dapat jauh melampaui medan perang di Timur Tengah. []
Baca juga: Mengapa Washington Mengecilkan Arti Penting Kendaraan Nirawak yang Disita Iran







