Internasional
Dua Mantan Jenderal AS: Mustahil Merebut Kendali Selat Hormuz dari Iran

Ahlulbait Indonesia, 28 Juli 2026 – Dalam diskusi yang disiarkan langsung oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 23 Juli 2026 bertajuk “The Air Campaign Returns: From Epic Fury to Midnight Hammer”, dua mantan jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat mengakui bahwa tidak ada kekuatan militer yang mampu merebut kendali Selat Hormuz dari Iran. Selama Teheran memiliki kemauan untuk mengganggu lalu lintas pelayaran, mereka menilai Iran akan tetap memegang pengaruh strategis atas salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Pandangan tersebut disampaikan Jenderal (Purn.) James Slife, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara AS, dan Jenderal (Purn.) Clint Hinote, mantan pejabat senior Angkatan Udara AS. Dalam forum yang sama, keduanya juga mengungkap adanya koordinasi operasional dan pembagian peran yang erat antara Amerika Serikat dan Israel dalam serangan terhadap Iran, seraya menilai Washington belum memiliki konsep kemenangan (theory of victory) yang jelas.
Baca juga: Reuters: Iran Akan Menghentikan Serangan jika AS Menghentikan Agresi
Washington Kehilangan Arah Strategis
Hinote menilai keberhasilan Amerika menghancurkan sejumlah target di Iran hanya menghasilkan capaian taktis tanpa mampu diterjemahkan menjadi kemenangan strategis. Menurutnya, Washington belum memiliki konsep yang menjelaskan bagaimana keberhasilan militer dapat memaksa Teheran menerima tujuan politik Amerika.
Slife menambahkan, persoalan tersebut diperparah oleh lemahnya sinkronisasi antara kepemimpinan politik dan militer Amerika. Para perencana militer kerap diminta menyiapkan berbagai opsi operasi tanpa memperoleh tujuan politik yang dirumuskan secara jelas, sehingga setiap tingkat pengambil keputusan berpotensi memiliki pemahaman yang berbeda mengenai arah perang.
Pembagian Peran AS-Israel
Dalam analisis keduanya, operasi Amerika dan Israel dijalankan melalui pembagian tugas yang saling melengkapi. Israel lebih berfokus menyerang struktur pemerintahan, pimpinan, dan fasilitas nuklir Iran, sedangkan Amerika memusatkan operasi pada sistem pertahanan udara, fasilitas produksi rudal dan drone, serta komponen utama kekuatan militer Iran.
Meski berbeda sasaran taktis, kedua pendekatan tersebut dinilai mengarah pada tujuan strategis yang sama, yakni melemahkan kemampuan pertahanan Iran sekaligus membatasi pengaruh regionalnya.
Drone Iran Ubah Perhitungan Militer AS
Slife juga mengakui perkembangan drone bunuh diri dan amunisi berkeliaran (loitering munition) telah mengubah konsep superioritas udara yang selama puluhan tahun menjadi keunggulan utama Amerika Serikat. Menurutnya, serangan drone Iran mengakhiri apa yang ia sebut sebagai “kekebalan historis” pangkalan Amerika terhadap serangan udara dan menunjukkan bahwa dominasi pesawat tempur tidak lagi cukup menjamin keamanan pangkalan militer.
Senada dengan itu, Hinote menilai penyebaran drone berbiaya rendah menciptakan ketimpangan biaya yang semakin membebani Washington. Drone murah mampu memaksa Amerika menggunakan rudal pencegat bernilai jutaan dolar sekaligus menguras persediaan interceptor yang dibutuhkan untuk menghadapi ancaman rudal balistik.
Baca juga: CNN: Dua Wajah Trump, Ancam Iran di Depan Publik, Negosiasi di Balik Layar
Keduanya memperingatkan bahwa tingginya intensitas operasi udara dan laut dalam perang melawan Iran akan berdampak pada kesiapan tempur militer Amerika. Penundaan perawatan alutsista, tingginya tempo operasi, serta berkurangnya kesempatan latihan diperkirakan baru akan terasa sepenuhnya dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Selat Hormuz Tetap Menjadi Kartu Strategis Iran
Di akhir diskusi, kedua mantan jenderal tersebut menegaskan bahwa membuka Selat Hormuz sepenuhnya hanya dengan kekuatan udara dan laut hampir mustahil dilakukan. Karakter geografis selat yang sempit, dangkal, padat pelayaran, dan berada dalam jangkauan sistem persenjataan Iran memberikan keuntungan strategis yang sulit dihilangkan.
Baca juga: Hizbullah Sampaikan Surat Kesetiaan kepada Ayatullah Mojtaba Khamenei
Mereka mencontohkan, sekalipun Amerika mampu menggagalkan hingga 98 persen serangan Iran, sisa ancaman yang sangat kecil tetap cukup menghambat normalisasi pelayaran. Bagi perusahaan pelayaran dan asuransi, risiko sekecil apa pun sudah cukup untuk mengganggu aktivitas perdagangan internasional.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata kemampuan militer Amerika, melainkan ketidakmampuan menjamin tingkat keamanan yang disyaratkan oleh perdagangan global. Selama Iran masih memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengganggu lalu lintas kapal, Selat Hormuz akan tetap menjadi salah satu instrumen strategis paling efektif yang dimiliki Teheran dalam menghadapi tekanan militer maupun politik Amerika Serikat. []
Baca juga: Surat Balasan Pemimpin Iran kepada Hizbullah: Tidak Ada Jalan Selain Jihad dan Perlawanan







