Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Lebanon Berdarah, 29 Orang Tewas dalam Serangan Israel di Nabatieh dan Bekaa

Published

on

Asap mengepul membubung tinggi setelah serangan Israel menghantam sejumlah sasaran di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan, pada 20 Juni 2026. (Foto: AFP)
Asap mengepul membubung tinggi setelah serangan Israel menghantam sejumlah sasaran di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan, pada 20 Juni 2026. (Foto: AFP)

Ahlulbait Indonesia, 21 Juni 2026 — Sedikitnya 29 orang tewas dalam gelombang terbaru serangan Israel di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa timur pada Sabtu (20/6), hanya sehari setelah pengumuman gencatan senjata. Serangan yang menyasar kawasan permukiman, infrastruktur sipil, dan jalur evakuasi memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Dilansir Press TV pada Minggu (21/6), Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan 16 orang tewas dan 12 lainnya terluka akibat rentetan serangan udara Israel di Distrik Nabatieh, Lebanon selatan. Petugas penyelamat disebut telah bekerja sejak dini hari untuk mengevakuasi korban di tengah serangan yang terus berlangsung.

Baca juga: Loyalitas kepada Wilayatul Faqih Terwujud dalam Kepatuhan Praktis kepada Pemimpin

Di Desa Barish, wilayah pesisir Tyre, empat anggota satu keluarga tewas setelah rumah mereka dihantam serangan udara. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) menyebut peristiwa tersebut sebagai pembantaian terhadap warga sipil.

Serangan lain di sebuah desa dekat Kota Sidon menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 13 lainnya. Korban jiwa juga dilaporkan di Shahour, Distrik Tyre, serta di Sohmor yang berada di Bekaa Barat.

Militer Lebanon mengonfirmasi seorang perwira tewas akibat serangan udara Israel di ruas jalan Kfar Rumman-Nabatieh. Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui platform X, militer Lebanon menilai serangan yang terus berulang bertujuan menggagalkan setiap upaya pemulihan stabilitas di negara tersebut.

“Semakin jelas bahwa agresi yang terus berlanjut dimaksudkan untuk menghambat setiap penyelesaian yang dapat membuka jalan bagi stabilitas Lebanon,” demikian pernyataan militer Lebanon.

Di pihak lain, militer Israel menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan proyektil yang menargetkan pasukannya di Lebanon selatan pada malam sebelumnya. Israel mengklaim sasaran serangan adalah posisi Hizbullah.

Hizbullah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan para pejuangnya terlibat baku tembak dengan pasukan Israel yang berupaya menyusup ke perbukitan strategis Ali Taher yang menghadap Nabatieh. Kelompok itu menyebut pasukan Israel berhasil dihadang dan dipukul mundur.

Anggota parlemen Lebanon dari blok politik Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan kelompok perlawanan memiliki hak untuk membalas setiap serangan Israel selama pendudukan masih berlangsung di wilayah Lebanon.

“Perlawanan memiliki hak penuh menghadapi musuh yang menyerang dan menduduki tanah kami,” kata Fadlallah. Menurutnya, gencatan senjata tidak akan memiliki makna apabila Israel terus melancarkan serangan dan memperluas kehadiran militernya di wilayah Lebanon.

Baca juga: Kisah Pilot Iran Menembus Pertahanan Udara dalam Operasi terhadap Pangkalan AS di Kuwait

Situasi kemanusiaan di Nabatieh juga menjadi sorotan organisasi medis internasional Doctors Without Borders atau Médecins Sans Frontières (MSF). Organisasi tersebut menggambarkan kondisi di kawasan itu sebagai “jebakan maut” akibat intensitas serangan yang terus meningkat.

Koordinator Darurat MSF di Lebanon, Pierre Boulet-Desbareau, mengatakan rumah sakit menerima korban dengan cedera kepala berat, pendarahan hebat, luka akibat pecahan proyektil, hingga kasus amputasi darurat.

“Orang-orang terjebak di bawah gempuran yang sangat intens, sementara tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka dengan aman,” ujarnya.

MSF juga memperingatkan banyak korban masih terperangkap di bawah reruntuhan karena petugas evakuasi menghadapi risiko menjadi sasaran serangan lanjutan.

Menurut otoritas kesehatan Lebanon, sedikitnya 50 orang telah tewas dalam rangkaian serangan sejak Jumat malam, termasuk seorang anggota militer Lebanon.

Gelombang serangan terbaru terjadi ketika perhatian internasional tertuju pada upaya diplomatik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Pada Rabu (17/6), Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani Memorandum Islamabad yang membuka jalur perundingan selama 60 hari guna mengakhiri konflik regional serta menyelesaikan isu program nuklir Iran dan sanksi internasional.

Meski demikian, sejumlah anggota kabinet Israel, khususnya dari kalangan kanan keras, menolak mengaitkan kesepakatan Iran dengan penghentian operasi militer di Lebanon. Mereka menegaskan kehadiran militer Israel di Lebanon selatan akan tetap dipertahankan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang diumumkan sehari sebelumnya belum mampu meredakan situasi di lapangan. Di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung, serangan baru dan terus bertambahnya korban sipil memperlihatkan bahwa konflik Lebanon-Israel masih jauh dari titik penyelesaian. []

Baca juga: Pesan Pemimpin Revolusi: Revolusi yang Tahu Apa yang Tidak Boleh Dikompromikan