Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Hizbullah: Pilihan Kami Tetap Melawan, Bukan Menyerah

Published

on

Hassan Ezzeddine mengecam negosiasi langsung Lebanon dengan Israel dan menegaskan perlawanan tetap menjadi pilihan Hizbullah.
Hassan Ezzeddine mengecam negosiasi langsung Lebanon dengan Israel dan menegaskan perlawanan tetap menjadi pilihan Hizbullah.

Media ABI, 25 Agustus 2026 — Pemerintah Lebanon mendapat kecaman dari Hassan Ezzeddine, anggota senior Fraksi Loyalitas kepada Perlawanan di parlemen negara itu, karena memilih membuka negosiasi langsung dengan rezim Zionis. Menurut Ezzeddine, langkah tersebut membuat Beirut semakin mengikuti tekanan Amerika Serikat dan mengorbankan kepentingan nasional Lebanon, demikian dilaporkan Tasnim News Agency, Selasa (25/8/2026).

Dalam pidatonya mengenai situasi politik Lebanon, Ezzeddine mengatakan pemerintah memasuki perundingan tanpa posisi tawar yang cukup. Keadaan itu, menurutnya, justru menguntungkan Israel yang mendapat dukungan penuh dari Washington.

Baca juga: Saudi Perketat Aturan bagi Pekerja Asing, Denda 50 Ribu Riyal Hingga Penjara

Ia juga mempersoalkan “kesepakatan kerangka kerja” yang dibuat pemerintah Lebanon dengan Israel. Kesepakatan tersebut, menurut Ezzeddine, berpotensi memberi ruang bagi keberlanjutan pendudukan di wilayah Lebanon, sementara serangan dan penghancuran terhadap desa-desa di wilayah selatan masih berlangsung.

Bagi Ezzeddine, persoalannya bukan hanya isi kesepakatan, tetapi juga arah kebijakan pemerintah. Ia menilai keputusan tersebut bertentangan dengan prinsip dan prioritas nasional yang sebelumnya disampaikan dalam pernyataan pemerintah maupun pidato pembukaan Presiden Lebanon.

Perhatian khusus ia arahkan pada rencana pembentukan komite koordinasi keamanan dan militer antara Angkatan Bersenjata Lebanon dan militer Israel.

“Setiap bentuk koordinasi antara Militer Lebanon dan Militer Zionis dianggap sebagai pelanggaran terhadap konstitusi dan semua hukum Lebanon,” ujarnya.

Karena itu, Ezzeddine meminta pemerintah mempertanggungjawabkan setiap tindakan yang dinilainya melanggar kedaulatan Lebanon. Ia juga menyerukan agar pihak yang mengabaikan konstitusi dan hukum negara diproses secara hukum.

Kritiknya kemudian bergeser pada persoalan dalam negeri. Ezzeddine menilai pemerintah semakin jauh dari kehidupan masyarakat, sementara berbagai krisis yang dihadapi Lebanon belum menemukan jalan keluar.

Baca juga: Yaman Peringatkan Saudi dan Sekutu, Perimbangan Perang Telah Berubah

“Ketika Pemerintah mencapai tingkat pengabaian yang disengaja terhadap masalah dan tantangan rakyat, tidak menemukan solusi untuk krisis mereka, serta menjauh dari realitas yang dijalani rakyat Lebanon, kita dapat dengan jelas mengatakan bahwa Pemerintah ini telah kehilangan legitimasinya untuk memerintah Lebanon,” katanya.

Di tengah situasi tersebut, ia menilai Lebanon tidak mungkin melepaskan diri dari perkembangan kawasan. Karena itu, hubungan dengan Republik Islam Iran disebutnya penting untuk membantu Lebanon menghadapi krisis yang sedang berlangsung.

Ezzeddine juga mengaitkan dukungan Iran dengan gencatan senjata di Lebanon. Meski pelanggaran dan serangan Israel masih terjadi, ia menilai kesepakatan tersebut setidaknya telah mengurangi operasi pembunuhan di wilayah Lebanon.

Menurutnya, perkembangan itu bukan hasil kebijakan pemerintah Amerika Serikat, melainkan berkaitan dengan kesepakatan antara Washington dan Teheran serta nota kesepahaman yang dihasilkan dari proses tersebut.

Ia menilai Iran kini berada dalam posisi yang lebih kuat setelah perkembangan terakhir, terutama karena persatuan masyarakat dan kohesi kepemimpinannya. Teheran, katanya, juga berupaya mendorong Washington memenuhi kesepakatan yang telah dicapai.

Baca juga: AS Akui Sanksi Iran Bisa Guncang Sistem Keuangan Global

Dalam pembicaraan Amerika Serikat dan Iran selanjutnya, Ezzeddine berharap persoalan Lebanon, terutama wilayah selatan dan pendudukan Israel, ditempatkan sebagai salah satu agenda utama.

Ia menilai pendekatan tersebut dapat membuka jalan bagi penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon. Di sisi lain, menurutnya, keberadaan perlawanan tetap menjadi faktor pencegah meskipun konflik telah membawa penderitaan dan kerusakan besar bagi Lebanon.

Pada bagian akhir pidatonya, Ezzeddine menggambarkan sikap politik yang menurutnya harus diambil: menerima kekalahan atau tetap menghadapi tekanan Israel.

“Perlawanan ini adalah pilihan kita, dan mungkin satu-satunya opsi dalam menghadapi dua pilihan: mengibarkan bendera putih dan menyerah, atau melawan musuh dengan menggunakan semua yang kita miliki dan yang kita mampu lakukan. Pilihan kita tetap berjuang melawan musuh, bukan menyerah,” tegasnya. []

Baca juga: NYT: Iran Tak Bisa Menutup Hormuz, AS Juga Tak Mampu Membukanya