Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

NYT: Iran Tak Bisa Menutup Hormuz, AS Juga Tak Mampu Membukanya

Published

on

Selat Hormuz menjadi jalur strategis perdagangan minyak dunia yang berada di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis perdagangan minyak dunia yang berada di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Media ABI, 25 Agustus 2026 — Amerika Serikat dinilai harus menerima kenyataan bahwa upaya membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya tidak mudah dilakukan, sementara Iran juga tidak memiliki kemampuan untuk menutup jalur strategis tersebut secara total.

Penilaian itu disampaikan Rosemary Kalanick, Direktur Program Timur Tengah di lembaga kajian Amerika Serikat Defense Priorities, dalam sebuah analisis yang dimuat The New York Times pada Senin (24/8/2026) dan dilansir Fars News Agency.

Baca juga: Laporan Kongres AS Soroti Skandal Jual Beli Pengampunan Trump

Kalanick menilai Washington bahkan perlu mempertimbangkan kemungkinan Iran mengenakan pungutan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurutnya, pilihan tersebut mungkin tidak menyenangkan bagi Amerika Serikat, tetapi risikonya lebih kecil dibandingkan mempertahankan operasi militer untuk memaksa jalur pelayaran kembali terbuka.

“Trump harus menghadapi kenyataan,” tulis Kalanick.

Pernyataan tersebut merujuk pada tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait status Selat Hormuz, termasuk gagasan menjadikannya wilayah Amerika Serikat atau menetapkannya sebagai perairan internasional. Kalanick menilai tidak satu pun tuntutan tersebut berhasil diwujudkan.

“Selat itu harus dibuka kembali, bahkan jika hal tersebut berarti Iran mengenakan pungutan atas lalu lintas yang melintasinya,” tulisnya.

Menurut Kalanick, hasil tersebut tetap merupakan kekalahan bagi Washington. Namun, dalam kondisi sekarang, pilihan itu dinilai memiliki risiko paling kecil.

Iran Tidak Perlu Menutup Hormuz Sepenuhnya

Perang, tulis Kalanick, memperlihatkan keterbatasan kedua pihak. Iran tidak mampu menutup Selat Hormuz secara total, sementara Amerika Serikat juga belum mampu membukanya kembali secara penuh.

Masalahnya, Iran tidak perlu menghentikan seluruh pelayaran untuk membuat jalur tersebut terganggu.

Baca juga: Iran Siap Uji Sistem Senjata Baru di Medan Tempur

Sebelum serangan Amerika Serikat terhadap Iran pada Februari, sekitar seperlima minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jalur laut berbentuk tapal kuda sepanjang sekitar 90 mil itu berada di antara Iran di sebelah utara dan Oman di sebelah selatan.

Kondisi geografis kawasan tersebut memberi keuntungan bagi Iran. Garis pantainya yang berliku dapat menjadi tempat perlindungan bagi rudal berpemandu presisi, drone, dan kapal serang. Menurut Kalanick, kemampuan tersebut memungkinkan Iran menciptakan ancaman terhadap pelayaran yang sulit dihilangkan sepenuhnya.

“Iran dapat memproduksi senjata semacam itu dengan murah dan dalam jumlah yang tidak terbatas,” tulisnya.

Ancaman terhadap kapal tidak selalu harus diwujudkan melalui serangan. Bagi perusahaan pelayaran, ketidakpastian mengenai keselamatan awak dan muatan sudah cukup untuk membuat mereka berpikir ulang sebelum melintasi selat.

Kondisi itu memungkinkan Iran menekan lalu lintas pelayaran tanpa harus menyerang setiap kapal yang hendak melewati Hormuz.

Kalanick juga menilai kesepakatan dengan Teheran belum tentu mampu menghapus seluruh risiko. Selama perusahaan pelayaran menganggap jalur tersebut belum sepenuhnya aman, arus perdagangan tetap berpotensi terganggu.

Baca juga: Blackwater Gandeng Ukraina Hadapi Ancaman Drone di Timur Tengah

Minyak dan Harga Sebuah Operasi Militer

Dampaknya terlihat dari perubahan volume minyak yang melintasi Selat Hormuz.

Menurut analisis Kalanick, meski mendapat dukungan militer Amerika Serikat, hanya sekitar 5 juta barel minyak per hari yang dapat melewati selat tanpa izin eksplisit Iran. Sebelum perang, jumlahnya hampir mencapai 20 juta barel per hari.

Upaya Washington untuk mengembalikan arus tersebut melalui operasi militer jangka panjang juga memiliki konsekuensi besar. Operasi untuk mengawal atau memaksa kapal pengangkut minyak melintasi Hormuz berpotensi menimbulkan korban di pihak militer Amerika Serikat sekaligus menambah beban bagi pembayar pajak.

Dari sisi ekonomi, Kalanick menilai pembayaran pungutan transit kepada Iran dapat menjadi pilihan yang lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat dan pasar global dibandingkan membiarkan Selat Hormuz berada dalam kondisi setengah tertutup untuk waktu yang panjang.

Tekanan terhadap pasar minyak sudah terlihat. Pada puncak perang, kekurangan pasokan minyak disebut mencapai 14 juta barel per hari, yang kemudian memberikan tekanan besar terhadap persediaan minyak mentah dan produk olahan dunia.

Baca juga: Jenderal Zionis: Masyarakat Israel di Ambang Jurang Kehancuran

Bagi Kalanick, persoalan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan militer saja tidak otomatis membuat Selat Hormuz kembali normal.

Amerika Serikat mungkin memiliki kemampuan untuk menyerang, tetapi belum tentu dapat membuat perusahaan pelayaran merasa aman untuk kembali menggunakan jalur tersebut. Sebaliknya, Iran tidak harus menutup Hormuz sepenuhnya untuk memengaruhi arus minyak dunia.

Karena itu, menerima sebagian pengaruh Iran atas lalu lintas Selat Hormuz dipandang Kalanick sebagai pilihan yang lebih rendah risiko dibandingkan mempertahankan operasi militer berkepanjangan.

Bagi Washington, pilihan tersebut tentu bukan hasil yang diinginkan. Namun, analisis Kalanick menunjukkan sebuah persoalan yang sulit dihindari, yakni kendali atas Selat Hormuz tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan membuat pelayaran melalui jalur itu tetap berisiko. []

Baca juga: Trump Terjepit Beban Utang dan Perang