Internasional
Serangan Israel ke Suriah, Upaya Menyeret Turki ke dalam Konflik

Media ABI, 24 Agustus 2026 — Serangan Israel ke Pangkalan Udara Abu al-Dhuhur di utara Suriah diduga berkaitan dengan upaya menyeret Turki ke dalam konflik. Selain memicu ketegangan dengan Ankara, operasi itu dinilai dapat digunakan untuk memengaruhi sikap Washington terkait rencana penjualan jet tempur F-35 kepada Turki.
Fars News Agency melaporkan pada Senin (24/8/2026), Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah dan Irak Tom Barrack menyebut kemungkinan memancing Turki masuk ke dalam perang sebagai salah satu penjelasan atas serangan tersebut. Analis Turki Fatih Cekirge juga melihatnya sebagai jebakan politik bagi Ankara dalam tulisannya di surat kabar Hurriyet.
Baca juga: Trump Terjepit Beban Utang dan Perang
Barrack menilai serangan Israel terhadap pangkalan militer di utara Suriah dapat bertujuan mendorong Turki mengambil sikap sebelum pemilihan umum Israel pada 27 Oktober mendatang. Konflik terbuka dengan Ankara, menurutnya, dapat memberi keuntungan politik bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilu.
Barrack juga meragukan klaim Israel bahwa Turki tengah menyiapkan peralatan militer di Abu al-Dhuhur. Informasi yang dimiliki pemerintah Amerika Serikat, menurut Barrack, tidak menunjukkan adanya langkah tersebut.
Pada awal pekan lalu, jet tempur Israel melancarkan delapan serangan udara ke pangkalan Abu al-Dhuhur. Media yang berafiliasi dengan kelompok pimpinan Ahmed al-Sharaa melaporkan kerusakan pada fasilitas militer itu, tanpa korban jiwa.
Israel mengakui serangan tersebut dan mengeklaim Turki berencana menempatkan pasukan di kawasan itu. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar kemudian memperingatkan Ankara bahwa Tel Aviv tidak akan menerima pangkalan militer Turki maupun kehadiran pasukan Turki di Suriah bagian selatan.
“Kami tidak akan menerima pendirian pangkalan militer Turki di Suriah atau kehadiran pasukan Turki di wilayah selatan,” kata Sa’ar.
Dia menyatakan Israel akan mengambil langkah untuk menjaga keamanannya dan tidak dapat mengabaikan pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Meski demikian, Sa’ar mengatakan Tel Aviv tidak menginginkan eskalasi dan tetap mengutamakan jalur diplomatik jika memungkinkan.
Baca juga: Iran: Trump Gunakan Perang Ekonomi untuk Alihkan Krisis Finansial AS
Pertaruhan di balik F-35
Cekirge menilai lokasi serangan yang hanya berjarak sekitar 70 kilometer dari perbatasan Turki memperkuat dugaan bahwa operasi itu dimaksudkan untuk memancing respons Ankara.
Menurut analis tersebut, Israel berkepentingan meningkatkan ketegangan dengan Turki agar Netanyahu memiliki dasar untuk meyakinkan Kongres Amerika Serikat bahwa penjualan F-35 kepada Ankara dapat mengancam keamanan Israel. Ketegangan itu juga dinilai dapat membantu Netanyahu memperoleh dukungan dari kelompok-kelompok garis keras menjelang pemilu.
Ankara, menurut Cekirge, memilih merespons melalui jalur diplomatik. Langkah tersebut dinilai membuat Turki tidak terjebak dalam eskalasi yang mungkin justru menguntungkan Israel. []
Baca juga: Yaman Hantam Delapan Tanker Saudi sejak Sanksi Maritim Diberlakukan







